
Awan melaju ke kantor dengan mobilnya. Sesampainya di kantor, Awan mendapat telefon dari orang yang sangat ia kenal.
"Rachel?" kata Awan ketika melihat layar handphone nya.
"Halo?" sapa Awan dari telefon.
"Awan, tolong aku. Perutku sakit banget!" Suara perempuan yang ada di balik telefon terdengar sangat lemas. Ia mengaduh kesakitan sesekali juga terdengar isak tangis dari perempuan itu.
"Kamu dimana?" kata Awan sedikit panik. Ia lalu masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju tempat dimana Rachel berada.
Awan menemukan Rachel telah tak sadarkan diri di lantai kamarnya. Awan sangat kaget melihat Rachel yang tampak pucat tergeletak di lantai.
"Rachel!" pekik Awan panik. Ia lalu membawa perempuan itu menuju rumah sakit. Awan membopong Rachel yang masih tak sadarkan diri ke unit gawat darurat salah satu rumah sakit yang ada di dekat tempat tinggal Rachel.
"Dok tolong teman saya dok." Dokter lalu memeriksa kondisi Rachel. Awan menunggu di luar ruangan. Walaupun Rachel adalah masa lalunya, tapi ia tetap merasa cemas akan kondisi perempuan itu.
Setelah menunggu cukup lama, Dokter yang memeriksa Rachel pun keluar dari ruangan.
"Dok gimana kondisi teman saya?"
"Dari gejala dan pemerikasaan yang telah dilakukan, saudari Rachel mengalami peradangan yang menyebabkan adanya benjolan pada apendiks nya atau yang biasa kita sebut dengan usus buntu pak, jadi untuk mencegah kemungkinan benjolan itu pecah harus kita lakukan tindakan yaitu operasi pada usus buntunya."
"Operasi dok?" Awan terlihat sangat cemas ketika dokter memberikan diagnosis pada Rachel. Meskipun mamanya bekerja di rumah sakit, namun bayangan tentang sebuah operasi cukup membuatnya khawatir.
"Bapak tenang saja, operasi ini insyaAllah tidak akan membahayakan nyawa pasien."
"Baik dok, lakukan saja yang terbaik untuk teman saya dok."
Awan lalu menelefon ke kantor untuk meminta cuti. Ia memilih untuk menemani Rachel di rumah sakit. Rachel di rawat di sebuah ruangan. Awan mendatangi Rachel yang masih tertidur di ranjang rumah sakit. Perlahan, Rachel pun membuka matanya.
"Hey, sudah bangun?" kata Awan pada perempuan yang ada di hadapannya.
"Awan, maaf ya aku telfon kamu. Aku gak tau harus minta tolong ke siapa lagi." kata Rachel merasa bersalah.
__ADS_1
"Gak papa Chel,"kata Awan tersenyum.
"Besok, kamu harus dioperasi, kata dokter kamu harus puasa untuk hari ini." Rachel mengangguk mendengar ucapan Awan.
"Kamu makannya di jaga Chel, jangan sampai sakit begini." kata Awan lembut.
"Kamu terus gak kerja?" tanya Rachel spontan ketika teringat hari ini adalah weekdays.
"Aku ambil cuti hari ini." Rachel hanya mengangguk anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Maaf ya sekali lagi," kata Rachel refleks memegang tangan Awan.
"Iya," kata Awan tersenyum. Ia lalu melepaskan tangan Rachel perlahan.
"Oh iya, aku ambil baju-baju kamu buat di sini."
"Oh iya, aku belum bawa baju. Gak papa memangnya?"
"Iya gak papa, aku ke tempat kamu dulu, ambil baju ya?" tanya Awan pada Rachel.
"Masih sama kan? makanya aku bisa masuk tadi." Rachel hanya diam mendengar ucapan Awan. Ia memang belum mengganti pasword rumah miliknya semenjak putus dengan Awan.
Awan berlalu meninggalkan Rachel di ruangan sendiri. Ia melajukan mobilnya menuju rumah wanita itu. Awan mengepak beberapa keperluan Rachel. Setelah selesai, ia memandangi isi rumah itu. Terlihat sedikit berantakan dengan beberapa bungkus makanan dan botol minuman di meja makan. Awan bahkan menemukan 2gelas wine dan beberapa puntung rokok di meja ruang TV.
"Sejak kapan Rachel merokok?" kata Awan bermonolog. Ia terlihat berfikir keras dengan hal yang baru saja ia temukan.
Awan sedikit membereskan rumah itu. Setelah selesai, ia kembali ke rumah sakit untuk menemui Rachel. Siang sampai sore harinya, Awan menemani Rachel di rumah sakit. Ia menyuapi Rachel dengan sabar. Terkadang mereka berbincang soal masalalu yang dulu pernah sangat membekas di hati keduanya.
"Kamu gimana sama pernikahan kamu Wan?" tanya Rachel spontan.
"Hemm... I'm good. Dia baik, wanita yang sangat bekerja keras, mandiri, penyayang, wanita yang sering membuatku kagum dengan kejutan-kejutan yang dia buat. Wanita yang sangat cinta dengan keluarganya, dan keluargaku juga. Wanita yang membuatku terus befikir kalau aku beruntung punya dia." Kata Awan tersenyum pada Rachel. Ia tampak sangat bahagia ketika menceritakan tentang istrinya pada Rachel.
"Beruntung dia punya kamu." kata Rachel pada Awan.
__ADS_1
"Aku yang beruntung punya dia." Rachel sebenarnya kecewa mendengar kata-kata itu keluar dari mulut orang yang masih ia cintai. Rachel hanya membalas perkataan Awan dengan senyuman.
Sore harinya, ia mendapat telefon dari Dana. Awan lalu keluar ruangan untuk mengangkat telefon dari istrinya.
"Halo Dan?"
"Awan, nanti malam nonton yok? aku pingin banget nonton film, ada yang baru solanya ya?"
"Em, Dan kayaknya aku gak bisa nemenin kamu deh, aku lagi jenguk temenku yang sakit. Pulangnya agak malam juga kayaknya, kalau ketemu temen lama pasti banyak ngobrol nya juga kan," kata Awan mencari alasan.
"Siapa yang sakit Wan?" Dana sedikit penasaran dengan teman yang Awan maksud. Sebelum menikah sampai saat ia menikah, hanya sedikit teman Awan yang Dana tau. Awan yang cenderung introvert memang jarang bepergian dengan temannya.
"Ada, temen. Aku kasih tahu kamu juga pasti gak tau. Anak rantau Jakarta juga."
"Oh gitu, ya sudah gak papa, kamu jenguk teman kamu aja. Tapi aku izin nonton ya nanti?" kata Dana pada Awan.
"Pergi sama siapa jadinya?"
"Mba Arin mungkin, dia ngajak nonton juga kemarin," jelas Dana.
"Ya sudah gak papa, kamu hati-hati ya? maaf ya sayang?" kata Awan dari balik telefon.
"Iya, salam juga untuk teman kamu. Semoga cepat sembuh." kata Dana pada Awan. Dana menutup telefon setelah selesai berbicara pada Awan. Ia lalu menelefon Arin untuk menemaninya menonton film. Di sisi lain, Awan menghembuskan nafas beratnya. Ia sebenarnya merasa sangat bersalah karena tak berterus terang pada Dana. Ia tak ingin mereka memperdebatkan masalah sepele sehingga Awan memilih untuk mencari alasan pada Dana.
Malam itu, Dana pulang ke rumah menaiki taxi online. Rumah Awan masih sangat sepi, terlihat lampu masih padam menandakan jika Awan belum pulang. Dana lalu masuk ke dalam dan mengihupkan lampu. Ia meletakkan beberapa belanjaan yang sempat ia beli setelah menonton dengan Arin. Ia membeli beberapa buah-buahan dan makanan kesukaan Awan.
Dana lalu menelefon suaminya. Ia duduk di ruang tamu sembari menunggu telefonnya di angkat.
"Kok memanggil ya?" kata Dana bermonolog.
Dana melihat jam yang tergantung di atas.
22.30 WIB
__ADS_1
...****************...