
Esok harinya, ia bangun seperti biasa. Dana berangkat bekerja cukup pagi hari itu. Mengingat ia harus mengadakan meeting bersama kak Lita dan beberapa koleganya.
"Pagi, Dah sembuh kak?"
"Pagi, sudah nih." Kak Lita tersenyum melihat kedatangan Dana.
"Mau rapat sekarang? biar cepet kelar." Ajak Dana pada tim nya.
"Boleh," Mereka lalu pergi ke ruang meeting divisinya. Ia membahas tentang tax planning untuk client mereka sebelumnya.
Saat meeting, Dana menerima telefon dari mama.
"Wait, aku harus angkat telefon dulu." Dana lalu keluar dari ruangan.
"Halo ma?"
"Halo nduk? kamu di kantor?"
"Iya ma, kenapa?"
"Minggu besok kamu bisa pulang nduk?"
"Kayaknya Dana gak bisa pulang deh ma, Dana masih ada kepentingan sepertinya." Dana tak memberi tahu mamanya soal niatnya yang akan pergi ke Bandung lagi. Ia akan memberi tahu mama ketika ia sudah ada di sana.
"Lagi sibuk ya?"
"Iya ma, maaf Dana belum bisa pulang. Mungkin Minggu depan Dana pulang ma."
"Ya sudah nggak papa. Kamu jangan lupa makan ya? jangan banyak begadang juga. Jangan kebanyakan minum kopi."
"Iya ma, mama juga sehat-sehat ya." Dana lalu menutup telefonnya itu. Ia lalu kembali ke ruangan dan meneruskan rapat dengan koleganya.
Selesai rapat, ia berencana untuk menelefon Awan menanyakan perihal rencana mereka untuk pergi ke Bandung menemui om Iyan.
"Kok gak di angkat ya?" Dana meminum jus yang ia beli di kantin. Dirinya masih berdiri di balkon yang ada di luar ruagannya di lantai 2. Suasana siang itu benar-benar mendung. Dana mendengar suara gemuruh yang datang dari langit.
"Mau hujan deh sepertinya."
Karena Awan tak mengangkwt telefonnya, Dana berinisiatif untuk datang ke rumahnya nanti sepulang kerja.
16.00 WIB.
Dana bergegas untuk pulang setelah jam menunjukkan pukul 4 sore.
__ADS_1
"Kak, aku balik dulu ya? nanti aku email ke kak Lita kerjaan aku."
"Yaudah, Hati-hati." Jawab kak Lita pada Dana.
Kondisi di luar masih hujan lebat. Dana lalu memesan taxi untuk mengantarkannya ke rumah Awan. Tak lama, taxi itu datang. Ia bergegas menaiki taxi itu menuju rumah Awan.
"Macet, sepertinya di depan banjir."
"Yaudah gak papa pak, pelan-pelan saja."
Hampir 1 jam Dana terjebak macet karena banjir. Dana masih mencoba untuk menelefon Awan. Tapi handphone nya tak aktif. Setelah satu setengan jam terjebak macet, Dana tiba di rumah Awan. Hari itu sudah cukup gelap mengingat hujan masih mengguyur di sana. Rumah itu tampak gelap dari luar. Menandakan Awan belum pulang dari kantornya. Seperti biasa, ia duduk di depan teras rumah itu dan memainkan handphonenya. Hampir setengaj jam dirinya menunggu di luar. Tak lama, ia melihat mobil Awan yang berhenti di depan rumahnya. Dana refleks berdiri menghampiri Awan.
Laki-laki itu berjalan gontai dari mobilnya.
"Wan?" Dana tampak panik berjalan ke arah Awan.
Bruk!
"Astaughfirullah..." Teriak Dana.
Awan terjatuh di depan teras rumahnya. Tubuhnya basah kuyub akibat hujan. Dana yang menangkap tubuh Awanpun ikut jatuh terduduk.
"Wan?" Dana mencoba mengrmbalikan kesadaran Awan. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Awan dan memanggil namanya.
Dana mencoba mencari kunci rumah Awan. Tapi ia tak menemukannya.
"Wan, kuncinya dimana?" Tanya Dana pada Awan.
"Sa...ku..." Awan berbicara lemah pada Dana.
"Apa?" Dana mendekatkan telinganya pada Awan.
"Saku..." Dana yang mendengar itu lalu dengan cepat merogoh saku baju Awan.
"Bukan di situ." Awan lalu mencoba dengan keras mengambil kunci yang ada di kantong celananaya. Ia lalu memberikan kunci itu pada Dana. Dengan cepat Dana membuka pintu rumah dan memapah Awan menuju ke kamarnya. Dana membaringkan tubuh Awan di kasur. Ia melepas sepatu dan kaos kaki yang masih melekat pada kaki laki-laki itu. Ia lalu menghidupkan seluruh lampu rumah Awan.
Dana mengambil barang-barang Awan yang ada di mobil dan mematikan mesin mobil yang belum sempat ia matikan. Dana lalu masuk ke kamar Awan kembali.
"Wan, baju kamu basah. Aku ambilkan baju ganti." Dana lalu menuju lemari Awan dan mengambil baju yang ada di dalamnya.
"Ganti dulu." Dana mendudukkan tubuh laki-laki itu. Awan tampak kesusahan untuk duduk di tempat tidurnya. "Bisa kan? aku tinggal di luar ya?" Dana lalu menutup pintu kamar Awan. Ia sedikit canggung dengan hal itu. Dirinya lalu membuat teh panas dan menyeduh bubur instan yang ada di lemari dapur Awan.
Setelah selesai, Dana mengetuk pintu kamar Awan.
__ADS_1
Tok tok tok...
"Sudah selesai?"
"Sudah." Dana lalu masuk ke dalam kamar.
"Aku buatkan bubur dan teh. Makan dulu. Aku ambilkan obat." Dana lalu mengambil obat yang ada di laci kamar Awan. Ia tau jika Awan menyimpan obat-obatannya di sana karena sebelumnya Dana pernah membantu Awan merawat lukanya ketika kecelakaan dulu.
"Boleh minta tolong suapi aku? badanku lemas sekali." Awan memejamkan matanya dan menyender ke tempat tidurnya. Dana duduk di sudut tempat tidur Awan. Ia mengambil bubur itu dan dengan sabar menyuapi Awan.
"Kok bisa panas gini?"
"Aku ada kunjungan lapangan tadi. Pengukuran. Nanggung gak bawa jas hujan."
"Kalo mama kamu tau pasti dia sudah marah-marah padamu." Dana memegang kening Awan.
"Jangan kasih tau mama lah." Awan tersenyum sayu melihat Dana.
"Kamu bisa-bisanya demam gini nyetir sendiri? Jangan pernah nyetir kalau kamu demam Wan! Kamu tau itu bahaya?" Dana sedikit kesal dengan tingkah Awan yang sangat nekat. Awan yang mendengar ocehan Dana pun tersenyum.
"Lagi sakit masih dimarahin juga."
"Ya kamu, kalau kenapa-kenapa gimana? gak inget kamu nabrak karena nyetir pas lagi demam?"
"Iya, tadi gak papa. Baru kerasa pusing tadi. Nanggung udah deket rumah." Dana menghela nafas berat.
Dana lalu membatu Awan untuk meminum obatnya. Dana mengompress kening Awan menggunakan air dingin. Ia juga memijat tangan Awan.
"Aku kasih minyak dulu biar hangat." Dana menaikkan kaos Awan. Refleks Awan kaget dan menyingkirkan tangan Dana yang hampir saja menyentuh tubuhnya.
"Kamu ngapain?"
"Minyak," Dana yang juga terkejut hanya menunjukkan minyak angin yang ia pegang.
"Aku saja." Awan merebut minyak yang ada di tangan Dana.
Dana tersenyum kecil melihat Awan yang seperti salah tingkah.
"Aku cuma mau bantu kamu. Gak usah mikir macem-macem." Dana hanya memperhatikan Awan yang tampak mengoleskan minyak di tubuhnya yang masih di tertutup selimut.
"Tetap aja, kamu perempuan. Kamu gak boleh sembarangan memegang tubuh laki-laki."
...****************...
__ADS_1