
Sesampainya di rumah sakit, Dokter tampak memeriksa kondisi Dana. Perempuan itu diberikan penanganan oleh dokter yang ada di UGD. Dana tampak diberikan suntikan obat dan cairan infus.
"Bagaimana dok istri saya?" Tanya Awan pada dokter setelah selesai memeriksa Dana.
"Gak papa, istri bapak pingsan karena dehidrasi. Mungkin ada makanan atau minuman yang memicu asam lambung istri bapak naik. Istri bapak sebaiknya beristirahat sebentar di sini sampai infus yang diberikan habis lalu nanti boleh langsung pulang."
"Terimakasih dok," jawab Awan tampak lega.
Awan lalu menghampiri Dana yang masih tampak lemas.
"Kopi tadi ya?" tanya Awan membelai rambut istrinya.
"Maaf," jawab Dana.
"Dan, harusnya aku tau kalau kamu gak bisa minum kopi." kata Awan tampak menyesal.
"Aku yang gak bilang sama kamu. Bukan salah kamu. Aku aja yang bandel." kata Dana tersenyum.
"Aku gak mau liat kamu pingsan begini lagi." Dana hanya mengangguk menjawab ucapan Awan. Perempuan itu mengenggam tangan Awan dan mulai memejamkan matanya.
"Tidur, nanti aku bangunkan kalau infus nya sudah habis." kata Awan menaikkan selimut istrinya.
Setelah beberapa jam, Salah satu perawat menghampiri mereka untuk melepaskan infus. Awan lalu membangunkan Dana dan membantunya untuk berjalan ke mobil. Awan lalu membayar tagihan rumah sakit dan bergegas menuju ke rumah agar Dana bisa segera beristirahat.
Dana lalu tertidur tak lama setelah Awan memapahnya ke kamar. Awan pun merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Menatapnya dengan tatapan hangat. Awan mengelus kepala Dana perlahan.
"Kamu gak tidur?" tanya Dana pada Awan.
"Ini mau tidur," jawab Awan lembut. Dana mendekatkan tubuhnya pada Awan. Awan memberikan lalu merelakan tangan kirinya menjadi bantal untuk istrinya. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Dana.
"Makasih," kata Dana.
"Sudah tanggung jawab aku untuk menjagamu Dan, memang ya nikah itu seperti belajar hal baru, belajar untuk jadi kepala rumah tangga, belajar jadi suami kamu, jadi imam, jadi teman kamu, jadi penjaga kamu," jawab Awan. Laki-laki itu lalu mengecup kening istrinya dengan lembut.
Dana memandang Awan dengan senyuman yang manis. Ia lalu mencium pipi Awan. Malam itu, Dana tertidur pulas di pelukan suaminya.
"Morning," Sapa Dana pada Awan.
"Rapih banget?" yanya Awan heran melihat Dana memakai baju kemeja miliknya.
__ADS_1
"Ya mau ke kantor, harus rapi lah," jawab Dana singkat.
"Masih mau kerja? Dan kamu ini baru keluar dari rumah sakit! Kamu pingsan kemarin!" kata Awan menekan ucapannya.
"Ya kan itu kemarin, sekarang sudah sehat," jawab Dana.
"Aku gak izinin kamu kerja, ambil cuti untuk beberapa hari ke depan!" kata Awan tegas.
"Wan, i'm oke!" jawab Dana santai.
"Telfon kantor sekarang! aku gak mau liat kamu kerja." kata Awan memaksa Dana.
"Wan aku dah sembuh, see? udah gak lemes, lambung aku juga baik-baik saja.
"Telfon sekarang!" kata Awan menyodorkan handphone milik Dana.
Dana lalu menelfon kantor untuk meminta cuti sakit. Ia lalu mengirimkan surat dari dokter lewat pesan.
Dana akhirnya menurut pada Awan dan mengambil cuti sakit selama 2 hari sebelum ia kembali untuk bekerja. Sebenarnya ia merasa tubuhnya sudah sangat baik-baik saja tapi Awan memarahinya karena Dana dan keras kepalanya muncul. Dana bersikeras ingin tetap bekerja setelah pingsan sampai di larikan ke rumah sakit.
"Sudah! puas?" kata Dana melipat tangannya ke depan.
Hari itu, Dana merasa sangat bosan karena tidak ada pekerjaan yang bisa ia lakukan. Awan sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ia juga sudah berangkat ke kantor sehingga tak ada lagi teman untuk Dana mengobrol.
"Bosen banget sih!" gerutu Dana. Ia lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang TV. Dana lalu mencari film yang bisa ia tonton.
Tepat pukul 12 siang, Dana mendengar suara mobil berhenti di deoan rumahnya. Dana mengerutkan Dahi ketika ia mencoba untuk mengintip siapa orang yang datang ke rumahnya.
"Kok balik?" tanya Dana ketika Awan datang.
"Bawain makanan buat kamu." jawab Aean tersenyum. Ia lalu berjalan ke ruang tengah membawa benerapa kantong makanan.
"Aku bawa sop iga, kamu makan terus minum obat oke?" kata Awan menyiapkan makanan untuk istrinya.
Dana memeluk Awan dari belakang.
"Ada ya suami sebaik ini?" kata Dana pada Awan. Awan tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Ada, aku!" kata Awan dengan percaya diri.
__ADS_1
"Gak jadi deh, di puji ngelunjak." kata Dana melepaskan pelukannya.
"Makan lah," kata Awan tersenyum. Awan lalu duduk di samping Dana di ruang TV.
"Di suapin banget nih?" tanya Dana ketika Awan menyodorkan sendok di depan mulutnya.
"A...?" Dana lalu menurut pada Awan. Laki-laki itu dengan sabar menyuapi istrinya. Dana hanya menatap Awan dengan tatapan senang. Tak menyangka jika Awan bisa sebaik ini padanya.
Setelah selesai makan, Awan pun kembali ke kantor. Dana yang sudah selesai menonton film pun mencari kegiatan lain. Ia membuka laptop miliknya. Dana melihat beberapa email masuk di sana. Kebanyakan email masuk dari beberapa client dan rekan kerjanya. Dana membuka satu per satu email itu.
Ada 1 email yang membuatnya sangat tertarik untuk cepat-cepat membukanya.
"Waiting list!" kata Dana ketika melihat pesan dalam email itu. Ia menghela nafas berat. Seketika itu, Dana menutup laptopnya. Ia memikirkan banyak hal tentang pekerjaannya, tentang semuanya dan tentunya tentang Awan. Ada hal yang tanpa ia sadari membuatnya kecewa.
Dana lalu berjalan menuju kamarnya. Ia lalu meraih handphone miliknya dan menelefon seseorang.
"Ngit!" sapa Dana dari balik telefon ketika ia tahu lawan bicaranya mengangkat telefon miliknya.
"Apa?" jawab nya ketus.
"Judes banget! di Jakarta enggak?" tanya Dana pada Angit teman kuliahnya dulu. Dana memang sering pergi dengan teman-temannya selama masih kuliah dulu. Angit adalah salah satu teman organisasi Dana semasa kuliah dulu.
"Di Jakarta, apaan nikah ga ngundang-ngundang marah ni aku." kata Angit pada Dana.
"Resepsinya belum Ngit! nanti resepsi datang ya?" kata Dana.
"Kenapa telfon?"
"Main sini! bosen banget aku di rumah! Ajak Tiya sekalian!" kata Dana membujuk temannya itu.
"Kapan?"
"Sekarang lah, kamu gak tau kan aku masuk rumah sakit kemarin! gak perhatian banget sama temen gak jenguk coba!" sindir Dana pada Angit.
"Ya nanti deh!" Angit lalu menutup telefonnya. Dana hanya mengerutkan dahi melihat tingkah Angit yang mengesalkan.
Dana lalu mandi karena hari sudah cukup sore. Setelah selesai mandi, ia mendengar sesorang memencet bel rumahnya. Dana langsung menuju ke runag tamu untuk membukakan pintu.
"Awan cepet banget udah pulang," kata Dana ketika berjalan menuju arah depan. Dana tampak kaget melihat ke arah tamu yang baru saja datang ke rumahnya. Dana refleks tersenyum ke arah mereka.
__ADS_1
...****************...