JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
EGO


__ADS_3

”Aku dapet cuti.“ Kata Dana membuka percakapan yang lebih serius. Awan yang sedang mengambilkan nasi untuk istrinya refleks tersenyum dan terlihat sumringah. ”Bagus dong!“ Kata Awan pada istrinya. Ia tau jika tempat Dana bekerja memang sangat ketat pada karyawan nya. Awan sempat khawatir jika Dana tidak mendapat cuti panjang untuk acara pernikahan mereka. ”Ia bagus, tapi ada syarat dari atasanku yang harus aku penuhi. Dan aku sudah tandatangan persetujuan soal syarat tersebut.“ Dana sedikit takut akan reaksi yang akan Awan berikan atas keputusan sepihaknya.


”Apa syaratnya?“ tanya Awan penasaran. “Aku harus ikut pak Andan dinas ke Singapura, sebulan.“ Raut wajah Awan seketika berubah tak kala mendengar ucapan Dana. Ia mengubah posisi duduknya menyender ke kursi yang ia duduki. ”Sebulan?“ Kata Awan menekan ucapan nya. Ia memastikan jika apa yang istrinya katakan benar. ”Ya aku tau ini sedikit mendadak. Maaf juga aku gak ada konfirmasi dulu sama kamu. Tadinya aku mau bicara dulu sama kamu, tapi kamu aku telfon gak aktif tadi. Kamu kan tau kantor aku bagaimana. Lagipula anggap saja ini kesempatan aku buat belajar lebih jauh. Wan, gak banyak yang bisa dapat kesempatan seperti aku. Cuma sebulan, ini bukan aku belajar kuliah, atau lanjut S2 di sana.“ Kata Dana mencoba menjelaskan pada Awan.


”Kamu gak sadar kamu sudah jadi istri orang Dan?“ tegas Awan pada Dana. ”Iya aku tau Wan, tapi..“


”Hal yang pertama, aku gak pernah nyuruh kamu bekerja setelah jadi istriku. Aku masih bisa nafkahi kamu. Aku tau gaji kamu besar, bahkan mungkin lebih besar dari gajiku yang hanya pegawai negeri. Tapi aku masih sanggup kok!“ jelas Awan pada istrinya.


”Wan, ini bukan masalah gaji! Aku sudah beberapa kali bilang ke kamu kan? Selagi aku masih mampu bekerja, yasudah apa salahnya aku bekerja, ini caita-cita aku. Lagipula selama ini aku juga tidak menelantarkan kewajibanku sebagai seorang istri. Aku ngurusin keperluan kamu, aku melayani kamu.“ Kata Dana mencoba selembut mungkin meredam kekesalan nya pada Awan. Pekerjaan yang Dana dapatkan bukanlah hasil dari perjalanan nya yang singkat. Banyak hal yang sudah Dana lalui dan korbankan untuk mendapatkan pekerjaan yang sekarang ia tekuni. Tak mudah bagi perempuan itu untuk melepaskan pekerjaannya sekarang. Bahkan setelah ia telah menikah dan mnejadi seorang istri.


Awan diam mendengar ucapan Dana. Ia tampak berfikir tentang apa yang dikatakan oleh istrinya. Awan menatap istrinya lekat. Baginya, tak mudah untuk melepaskan Dana tinggal di luar negeri selama itu. Tapi ia sadar jika Dana sudah teguh dengan pendirian nya untuk tetap berangkat tugas ke Singapura. “Wan, hanya sebulan. Aku janji kalau aku ada waktu, aku pulang. Kita bisa liburan ke sana juga. Kamu bisa menyusulku. Singapura masih dekat Wan.“ Kata Dana lembut. Perempuan itu berusaha membujuk suaminya. Ia menggenggam tangan Awan dan menatap suaminya dengan tatapan memohon.


“Setiap hari Sabtu, aku akan menyusulmu ke sana.” Dana mulai menyimak perkataan Awan dengan antusias. Dana bahkan mencondongkan tubuhnya agar dapat menyimak ucapan suaminya dengan baik. “Jam 11 malam, kamu harus sudah di rumah. Aku gak mau tau, setiap jam 11 malam aku akan telfon kamu. Saat itu, kamu harus sudah di kamar.“ Dana mengangguk tanda setuju ketika mendengar persyaratan dari suaminya. ”Gak ada alkohol, vape atau apapun yang kamu sentuh di sana.“


”Wan! Kamu pikir aku apaan.“ Kata Dana sebal.


”Antisipasi. Kita gak tau apa yang akan terjadi nanti bukan? Aku percaya kamu, tapi aku harus tetap bilang ini ke kamu. Makan malam perusahaan, jamuan, malam keakraban atau apapun itu pasti ada.“ Jelas Awan pada Dana. Perempuan itu hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


”Janji?“tanya awan membuat kesepakatan dengan istrinya.


”Janji.“ Awan lalu tersenyum menatap istrinya. Pasangan suami istri itu lalu melanjutkan aktivitas makan malam mereka dengan hangat. Beberapa kali Awan mencoba mencairkan suasana dengan menggoda Dana. Tawa dari sepasang suami istri tersebut benar-banar menambah kehangatan rumah kecil yang mereka huni. Awan cukup sabar menghadapi Dana dengan segala ego dan kemandirian nya. Sementara Dana juga cukup sabar menghadapi emosi Awan yang terkadang kurang stabil.


Dana paham jika menikah di usia muda sangat menguji mental keduanya. Apalagi usia Awan yang terpaut lebih muda pastilah menjadi tantangan tersendiri bagi keduanya.


"Wan, kamu tau gak. Reaksi pak Andan waktu tau aku mau nikah benar-benar parah. Aku dipanggil ke ruangan nya. Bukan untuk ditanyai pekerjaan. Dia malah cerita soal istrinya, terus sampai beekaca-kaca coba." Kata Dana dengan semangat menceritakan tentang hal yang terjadi di kantor hari itu. Awan dengan lembut membelai rambut istrinya dan sesekali tertawa kecil karena cerita lucu dari perempuan itu. "Kamu kalau cerita tentang aku nanti akan seperti itu tidak ya?" tanya Dana tersenyum pada Awan.


"Hem.. mungkin." Jawab laki-laki itu singkat.


"Kok mungkin?" tanya Dana menyelidik.


"Coba kamu bayangkan punya kumis setebal dia." Kata Dana mengimbangi candaan Awan.


Hari-hari yang dilalui Dana sangatlah menyenangkan dengan status barunya sebagai istri dari Awan. Dana sangat menikmati peran nya dalam menyiapkan pakaian suaminya, memasak untuk Awan, bahkan gotong royong mempersihkan rumah bersama Awan. Pekerjaan nya pun dibilang lancar meski banyak sekali lembur dan kunjungan client. Sesekali Awan protes karena kesibukan Dana. Tapi, perempuan itu berkali-kali meyakinkan suaminya tentang kesibukan nya yang telah menjadi hobi untuknya.


Menurut Dana, selama hal tersebut tidak menganggu kewajiban nya sebagai seorang istri, ia rasa masih dapat ditolelir. Awan sebenarnya cukup khawatir menginggat hampir setiap hari Dana disibukan oleh pekerjaan dan kewajiban nya.

__ADS_1


" Baru pulang?" tanya Awan pada Dana.


" Iya," kata Dana tersenyum aetelah mengucapkan salam pada suaminya.


"Memangnya harus sampaj malam begini lemburnya?" tanya Awan menghampiri Dana yang kini membaringkan tubuhnya di kursi ruang tengah. Dana memberi kode kepada Awan untuk duduk di kursi. Perempuan itu lalu berbaring di pangkuan suaminya.


"Aku capek banget, ngomelnya nanti dong." kata Dana memejamkan matanya.


Awan hanya menghembuskan nafas berat mendengar ucapan Dana. Namun laki-laki itu mencoba untuk menahan kekesalan nya pada Dana. Hari itu, istrinya pulang pukul 11 malam setelah menemui client. Awan sudah menawarkan kepada istrinya untuk dijemput. Tapi, Dana bwrsikeras untuk pulang bersama team nya. Awan sedari tadi sudah cemas menunggu Dana yang tak kunjung pulang. Sejujurnya ia cukup terganggu dengan pekerjaan Dana yang lebih sibuk darinya.


Dret... dret...


Awan mengambil handphone Dana yang ada di dalam tas wanita itu. Dana sepertinya sudah kepalang lelah dan tidak mendengar suara dari hanphone miliknya yang berbunyi.


"Dan, mamah" kata Awan pada istrinya.


"Diangkat lah," jawab Dana masih dengan mata terpejam.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2