
"Assalamualaikum Dana," kata Tiya pada Dana.
"Waalaikumsalam, Tiya!" Dana memeluk sahabatnya itu.
"Nih, dimsum kesukaan kamu." kata Angit pada Dana.
"Tengkyu, masuk-masuk!" kata Dana pada mereka berdua.
"Awan mana? tanya Tiya pada Dana.
"Belum pulang, tadi sih siang sudah pulang antar makan," kata Dana tersenyum. Mereka bertiga lalu duduk di ruang tamu. "Mau minum apa?" tanya Dana pada mereka berdua.
"Gak usah, aku bawa minum sendiri. Aku pesenin kamu yang gak pake ice," kata Tiya pada Dana.
"Bisa-bisanya sampe masuk rumah sakit tu kenapa?" tanya Angit langsung.
"Asam lambung biasa," jawab Dana santai.
"Kopi pasti?" tanya Angit pada Dana. Dana hanya tersenyum ke arah Angit.
"Dan, Dan! ini berarti 2 kali kamu sampai di UGD karena gak jaga makan. Gak paham aku deh! Awan gak marahin kamu gitu kamu minum kopi?" tanya Angit pada Dana.
"Dia gak tau aku gak bisa minum kopi. Lagian sudah lama aku gak minum espresso shot," kata Dana pada Angit.
"Dan udah lama juga dari terakhir kali kamu masuk UGD gara- gara espresso shot," Dana hanya nyengir mendengar ucapan Angit.
"Dan, kamu itu sudah nikah, jagalah jangan sampai sakit begitu, yang susah siapa? Awan lah!" kata Tiya mencoba menasihati temannya.
"Kapan ya kita bisa main lagi kayak dulu?Sama Adi, sama kamu, Angit terus sama Dhifa." kata Dana mencoba mengenang masa lalu.
"Susah! Adi sudah gak di Jawa, Dhifa sekarang sudah mau nikah, kamu sudah nikah." jawab Angit pada Dana.
Mereka bertiga lalu berbincang banyak hal. Dengan kedatangan mereka berdua cukup menghibur Dana dan mengurangi rasa bosan.
"Dan punya ikat rambut? tolong dong ikat rambut aku." kata Angit pada Dana. Dana lalu mencopot ikat rambut yang ada di kepalanya lalu menyuruh Angit untuk duduk di bawah. Dana lalu membantu Angit mengikat rambutnya.
__ADS_1
"Liat? bentar ga rapih! rambut kamu kependekan Angit!" kata Dana tertawa melihat rambut Angit yang ia ikat.
"Mana lihat?" kata Tiya menengok ke arah Angit. Ia pun tertawa melihat gaya rambut Angit yang kini terlihat aneh.
"Ih, yang bener!" kata Angit melepas ikat rambut itu.
"Sini bentar," kata Dana mencoba merapihkan rambut Angit lagi.
"Assalamualaikum," kata seseorang dari luar pintu.
"Waalaikumsalam," jawab mereka bersama-sama.
"Wan sudah pulang?" kata Dana sangat bersemangat.
"Ada tamu rupanya?" kata Awan menyalami mereka berdua.
"Iya, ini Tiya, masih ingat kan? kalau ini Angit. Teman kuliah aku juga, dulu satu organisasi." kata Dana memperkenalkan temannya pada Awan.
Awan lalu ikut duduk berbincang dengan mereka setelah berganti pakaian. Ia lalu memesankan makanan untuk makan malam mereka ber 4.
"Enggak kok santai saja."
"Awan lebih muda dari kamu Ngit," kata Dana tersenyum.
"Oh iya? kamu tua banget berarti Dan, aku saja lebih muda dari kamu." celoteh Angit pada Dana. Refleks Dana memukul Angit karena ejekan temannya itu. Dana tampak sangat akrab dengan teman-temannya. Awan hanya memperhatikan mereka dan tersenyum.
Setelah malam cukup larut, Angit dan Tiya lalu memutuskan untuk pulang. Mereka berdua lalu berpamitan pada Awan dan Dana.
"Bye hati- hati! titip Tiya Ngit! awas kamu belokkin ke tempat lain ya!" ancam Dana pada temannya.
"Mau ke mana kita Ya? sekitar sini kayaknya banyak promo ya?" celoteh Angit.
"Heh! ngawur!" kata Dana spontan. Ia lalu tertawa karena perkataan Angit yang menurutnya lucu.
"Kabarin di group kalau sudah sampai ya?" kata Dana melambaikan tangan pada mereka berdua.
__ADS_1
Dana lalu masuk ke dalam setelah mengantarkan mereka berdua di depan. Awan masih duduk di ruang tamu. Wajahnya terlihat cukup serius tak seperti tadi.
"Duduk aku mau bicara." kata Awan pada Dana.
"Bicara apa Wan?" tanya Dana tersenyum.
"Kenapa kamu bawa laki-laki lain masuk tanpa sepengetahuanku?" kata Awan membuka pembicaraan.
"Wan dia temen kuliah aku, lagi pula dia datang dengan Tiya, gak sendiri." jelas Dana.
"Tetep aja, kamu gak kasih tau aku kalau kamu bawa teman laki-laki ke rumah ini."
"Oke, oke Wan, maaf... Aku gak bermaksud apapun. Salah aku karena aku bosan di rumah jadi aku telfon Angit buat datang. Salah aku, maaf." kata Dana pada Awan.
"Pegang rambut dia kayak tadi? ikat rambut laki-laki lain? kalau gak ada aku kamu seperti itu?" tanya Awan yang terlihat sangat kesal dan marah.
"Wan, aku sama dia teman. Kita temenan dari lama. Lagi pula gak mungkin ada apa-apa! dia sudah seperti sodara aku sendiri Wan! Aku kenal dia sebelum aku kenal kamu, dan gak akan ada apa-apa antara aku sama Angit!"
"Tapi dia laki-laki lain Dana! aku gak suka kamu bersikap seperti tadi pada laki-laki lain! kamu sudah menikah, sudah tak pantas kamu seperti itu lagi dengan teman-teman kamu. Bedakan antara kamu yang sudah menikah dengan kamu yang belum menikah, paham?"
"Jadi kamu larang aku ketemu sama laki-laki lain walaupun itu teman-temanku? kamu larang aku main dengan mereka?" tanya Dana pada Awan.
"Tanpa seizin aku, No! dan kamu harus tau batasan dengan mereka, paham?" kata Awan dengan tegas.
"Bagus kamu bahas batasan, aku juga berharap kamu tau batasan kamu dengan teman perempuan kamu, apalagi mantan kamu!" kata Dana meninggalkan ruang tamu.
"Kok jadi bahas mantan aku? aku bahas soal kamu!" kata Awan berjalan menyusul Dana dari belakang.
"Ya karena kamu masih dekat kan dengan dia? Wan, jangan fikir aku diam aku gak tau ya kamu masih sangat-sangat perduli dengan Rachel!" kata Dana meninggikan nada bicaranya. Dana lalu masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintu kamar dengan cukup keras meninggalkan Awan yang masih berdiri di belakang pintu. Awan mengusap wajahnya kasar. Ia lalu mengambil minum dan mencoba mendinginkan kepalanya. Ia mencoba mengontrol amarahnya pada Dana.
Setelah beberapa saat ia berfikir, Awan lalu mencoba untuk masuk ke dalam kamar. Dilihatnya di tempat tidur, Dana sedang tertidur. Awan lalu menyelimuti tubuh istrinya. Ia lalu duduk di lantai dan mengelus kepala istrinya. Awan menyadari suatu hal, Dana baru saja menangis. Ia menusap lembut menghapus air mata istrinya dari wajahnya. Awan mengerutkan Dahi melihat pemandangan yang ada di depannya. Bagaimana Dana bisa menangis tanpa bersuara seperti itu. Bagaimana perempuan itu pandai menyembunyikan kegundahan hatinya dari dirinya.
Awan lalu tertidur di samping istrinya. Ia memeluk Dana dari belakang. menyandarkan kepalanya pada punggung istrinya. Awan bagaikan laki-laki yang gagal menjaga janjinya pada mama untuk membuat Dana bahagia. Bahkan sekarang ia tampak snagat bodoh karena membuat Dana menangis.
...****************...
__ADS_1