
"Belum," Awan menggeleng lalu menatap Dana.
"Wan?"
"Em..."
"Gak papa,"
"Gak jelas," Awan menyeruput kopi yang ada di gelasnya. Laki-laki itu menatap ke arah depan dan menyenderkan punggungnya di kursi.
"Kamu tau gak, Minggu depan aku sudah 24 tahun." Dana menatap lurus ke arah halaman rumah Awan.
"Serius?" Awan tersenyum mendengar ucapan Dana seakan tak percaya.
"Kenapa, tua?" Dana menjawab dengan sewot. Matanya memicing melirik ke arah Awan.
"Bukan begitu. Bagus lah, jadi kamu gak telat nikah kan?" Awan tersenyum dan menyeruput lagi kopi yang ada di tangannya. Ia menatap Dana dengan tatapan yang tak bisa dicerna oleh perempuan itu.
"Kamu tau soal nikah umur 23 itu?" Dana mengerutkan Dahi mendengar ucapan Awan. Ia kaget karena sepertinya laki-laki itu tau soal tradisi aneh di keluarganya.
"Tau, mama pernah bilang." Awan meletakan cangkir kopi itu kembali ke meja yang memisahkan tempat duduk mereka.
"Wah aku merasa aneh dan tua banget sumpah. Kamu 21 kan?"
"22 Dan, 3 bulan yang lalu." Awan dengan cepat menimpali ucapan Dana itu.
Dana sedikit lega mendengar ucapan Awan. Setidaknya usianya tak terpaut terlalu jauh dengan laki-laki yang akan menikah dengannya. Dana hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Awan.
"Kenapa?" Awan tampak penasaran dengan senyum yang perempuan itu tampakkan. Matanya meneliti dengan cermat setiap inci dari wajah perempuan di sampingnya.
"Gak papa," Dana meringis melihat Awan.
"Kamu kalau nikah pinginnya kayak gimana?" Awan memulai topik pembicaraan baru dengan perempuan yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Gimana maksudnya?"
"Ya apapun, soal anak mungkin? atau kamu mau suami seperti apa? atau apapun yang ingin kamu diskusikan denganku?" Dana tampak kaget mendengar ucapan Awan. Selama ini ia tak pernah membicarakan ini dengan siapapun. Bahkan, kak Wisnu tak pernah bertanya soal ini padanya. Tapi ia tau jika hal seperti ini adalah hal yang wajar untuk dibicarakan sebelum menikah.
"Hem... apa ya? 1 hal sih yang jadi prinsip aku dari dulu. Dan ini adalah hal yang diajarkan oleh orang tuaku. Nikah itu gak akan pernah cocok 100%, jadi aku harus bisa terima apapun kekurangan pasanganku. Kata mama, pantang bagi perempuan untuk kembali ke ke rumah orang tua kalau bukan suaminya yang mengembalikan. Tapi, aku punya prinsip sendiri sih, 2 hal yang tak akan pernah bisa aku tolelir. Selingkuh, dan Kasar. Karena keduanya tak akan pernah ada obatnya."
"Dan aku janji tak akan melakukan keduanya." Awan dengan mantap menanggapi perkataan perempuan itu. Awan menatap Dana lekat-lekat. Hal itu membuat Dana merasa canggung dan memalingkan pandangannya.
"Kamu kalo ngatur keuangan gimama?" Tanya Dana pada Awan.
"Kayaknya kamu lebih jago melakukannya dari pada aku. Jujur aku boros sih." Awan tersenyum melihat ke arah Dana.
"Keliatan sih," Dana mengangguk membenarkan ucapan Awan. Perempuan itu bisa dengan mudah menebak karena Awan memang terlihat menggunakan barang-barang yang mahal. Mungkin hal tersebut dapat Dana maklumi karena Awan memang cenderung datang dari keluarga yang sedikit memanjakannya dengan harta yang berlebih.
"Keliatan dari mana?" Awan mengerutkan dahi tak paham dengan ucapan Dana.
"Aku tau uang kamu lari ke mana. Keliatan isi lemari kamu dari brand a-z kayaknya semua ada."
"Ya gimana ya," Awan tersenyum mendengar ucapan Dana. "Kalau kamu? ngabisin uang buat apa?" Awan melanjutkan ucapannya.
"Kamu orang yang punya ambisi besar ternyata." Dana hanya mengangguk mendengar tanggapan Awan tentang dirinya. Keduanya kini menatap lurus ke arah halaman depan rumah Awan.
"Kalau anak?" Dana tampak kaget mendengar pertanyaan Awan. Selama ini dirinya benar-benar tak pernah berfikir soal hal itu. Bukannya Dana tak ingin memiliki anak. Tapi menurutnya, butuh tanggung jawab yang sangat besar untuk merawat seorang anak.
"Kalau kamu?" Dana balik bertanya pada Awan.
"Hem... aku sih tak ingin menunda. Tapi kalau boleh minta ya mumpung masih muda kalau setelah menikah langsung punya anak sih Alhamdulillah." Dana hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Awan.
Awan menatap Dana yang sepertinya tak sependapat dengannya. Ia tampak menerka apa yang sebenarnya perempuan itu pikirkan dalam otaknya.
"Kamu bisa mendiskusikan apapun denganku Dan." Dana sedikit kaget karena ternyata Awan bisa membaca raut wajahnya.
"Wan, jujur aku punya pandangan lain soal anak. Menurutku, membesarkan anak itu tanggung jawabnya sangat besar. Kita harus mendidik, merawat nya, memberikan kenyamanan, fasilitas, kasih sayang, semuanya untuk anak itu. Dan itu berlangsung seumur hidup anak itu. Kita juga harus siap financial, mental, fisik. Dan menurutku..."
__ADS_1
"Kamu belum siap?" Awan memotong perkataan Dana. Perempuan itu tampak berfikir keras mencari jawaban atas pertanyaan Awan. Dana seperti kehilangan kata-katanya. Ia hanya menatap Awan tanpa menjawabnya.
"Aku tak akan memaksamu Dan," Awan tersenyum ketika melanjutkan ucapannya. Laki-laki itu dengan lembut membelai rambut perempuan yang ada di sampingnya.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur. Besok kita pergi setelah subuh kan?" Awan berdiri dan membawa cangkir kopinya. Ia lalu membantu Dana untuk berdiri dari tempat duduk itu.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah. Dana lalu masuk ke dalam kamar. Awan yang memang sudah lelah memilih untuk langsung tidur di ruang tengah.
Dana masih tak bisa tidur memikirkan ucapan Awan. Bagaimana mungkin Awan bisa menerima pendapatnya. Ia tau jika keluarga Awan dan mama pasti juga menginginkan mereka berdua cepat memiliki anak. Cukup lama Dana memikirkan hal itu sampai ia benar-benar tertidur.
***
Pagi harinya, seisi rumah itu benar-benar sibuk membereskan barang-barang mereka. Awan akan 1 mobil bersama Dana dan Tata. Sementara papa Awan, tante Hesti dan mama akan menggunakan mobil lain.
"Sudah?" tanya Awan pada Dana dan adiknya.
"Sudah." Dana mengaitkan sabuk pengamannya. Tata tampak mengabsen barang-barang yang ada di bagasi.
"Sudah." Tata menjawab pertanyaan Awan dengan semangat. Perempuan itu sangat bersemangat untuk pulang ke kampung halamannya.
"Kamu sudah libur kuliah dek?" tanya Awan pada Tata.
"Em, masuk lagi 3 minggu lagi sih." Tata menjawab Awan tanpa melihat kakaknya itu. Matanya masih tertuju pada handphone yang ada di tangannya.
"Berarti kamu lanjut kuliah ya dek?" Dana mencoba masuk ke dalam pembicaraan antara adik dan kakak itu.
"Iya kak, aku kan dulu ambil D1, jadi ini lagi lanjut buat D3 nya. Kalau bisa sih langsung lanjut buat D4." Kata Tata mencoba menjelaskan. Dana hanya mengangguk mengerti.
"Tata penasaran deh, kalian kapan dekatnya sih? Dulu nih kak, Abang aku ini benci banget sama kak Dana." Tata mengubah posisi duduknya. Ia tampak penasaran dengan kedua orang yang sedang duduk di depannya.
"Dih apaan?" Awan mencoba membantah ucapan Tata. Dana yang mendengar ucapan Tata lalu menatap Awan penuh tanda tanya. Sejujurnya dirinya juga penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan laki-laki itu.
"Loh bener kan? kakak sendiri yang bilang sama aku kalau kak Dana itu sombongnya nauzubilah. Kakak sendiri yang gak suka dibanding-bandingin sama kak Dana. Iya kan?" Awan mencoba menutup mulut Tata. Tapi tangannya yang sedang menyetirpun tak bisa menggapainya.
__ADS_1
"Heh nyetir, bahaya Awan." Dana menegur Awan yang mencoba memberi pelajaran pada adiknya.
...****************...