
"Kamu ngapain sih mampir ke kantor si jal*ng itu?"
"Mama mau ketemu sama dia, ya aku antar lah, abis itu aku jemput mama. Masa aku biarin mama aku pergi sendiri ke sana? kan gak mungkin." Awan mencoba menjelaskan situasi yang terjadi hari ini pada Rachel pacarnya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan tingkah Rachel yang selalu berubah kekanak-kanakan jika berhubungan dengan Dana. Padahal ia selalu terbuka dengannya tentang semua masalah yang dihadapinya.
"Udah lah sayang, kan aku sudah bilang sama kamu kalau aku sudah terlepas darinya."
"Aku gak mau tau ya Wan, sekali lagi kamu ketemu sama dia, kita mending putus!"
"Hei, kamu kok gitu ngomongnya? sayang aku cuma buat kamu Chel, kamu tau itu kan?"
"Kamu ngeselin Wan!"
"Iya udah, maaf ya?" Awan memandang perempuan yang sangat cintai dengan lekat. Perempuan itu lalu memeluk Awan.
"Kiss me?" kata Rachel pada Awan. Awan hanya menuruti kemauan pacarnya itu.
Setelah perdebatan antara mereka berdua, Awan mengantarkannya pulang. Ia benar-benar lelah karena sikap Rachel padanya. Ia juga lelah setelah seharian bekerja. Mengantar mama dan melakukan aktifitas lain.
Awan sampai di depan rumahnya. Ia memang difasilitasi rumah dan mobil oleh mama. Dirinya langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah membersihkan diri. Pikirannya cukup tenang mengingat dirinya tak lagi terikat oleh perempuan yang dijodohkan dengannya. Tapi ada yang mengganjal di pikirannya tentang Dana. Kenapa perempuan itu bersikap dingin bahkan tak merubah ekspresinya seakan ia sudah mengerti situasi yang terjadi ketika mereka bertemu di cafe. Apakah karena ia sudah tau jika dirinya mempunyai pacar.
Awan tak ambil pusing dengan hal itu. Ia memilih untuk segera memejamkan matanya dan tidur.
Beberapa hari kemudian, Rachel yang merupakan seorang model harus pergi ke luar kota untuk photo shoot. Awan mengantarkannya menuju bandara.
"Kamu jangan nakal di sini, pokoknya baik-baik ya sayang, see u 3 hari lagi." Awan hanya mengangguk tanda mengerti. Laki-laki itu memeluk Rachel lalu mencium kening perempuan itu sebagai tanda perpisahan.
Setelah itu, Awan bergegas menuju kantornya karena ia harus segera pergi dinas ke Bogor untuk survey lapangan. Awan cukup lega karena ia bisa pergi saat Rachel sedang bekerja. Mungkin jika ia pergi tugas saat Rachel masih berada di Jakarta, ia akan marah karena kesibukan laki-laki itu.
Awan bekerja seharian. Ia benar-benar lelah dengan tugasnya hari ini. Maklum, ia masih terbilang junior di kantor. Jadi mau tak mau dia harus mengerjakan banyak hal untuk menambah prngalamannya.
Awan mengendarai mobil pulang menuju Jakarta.
__ADS_1
"Gantian Wan? sepertinya kamu tak enak badan?" tanya Evan pada juniornya itu.
"Gak papa bang, tenang saja." Jawab Awan singkat. Malam itu hujan turun cukup deras. Seharian tadi memang hujan mengguyur kota itu tanpa berhenti. Pakaian yang dipakai mereka pun basah saat melakukan survey. Untung saja mereka berdua membawa pakaian ganti.
Bruk! Awan banting stir ketika melihat mobil di depannya tiba-tiba menyalip mereka. Mereka berdua menabrak pembatas jalan yang ada di samping jalan. Mereka berdua tak sadarkan diri karena kejadian itu.
Beberapa warga sekitar membantu untuk mengevakuasi mereka.
Mama yang berada di kampung halaman sangat panik ketika mendengar anak laki-lakinya itu kecelakaan. Perempuan itu lalu dengab cepat menelfon Dana. Hanya ia yang ia kenal berada di Jakarta.
"Halo tante?" Dana yang baru saja sampai di kost mengangkat telefon dari tante Hesti. Dana memang baru saja pulang karena lembur untuk pelaporan SPT.
"Nduk, bisa tolong tante tidak? Awan kecelakaan nduk, tante hawatir padanya. Tadi ia sempat menelefon tante, tapi ia tak menjelaskan kondisinya pada tante. Tolong tengok Awan ya nduk?" tante Hesti terdengar sangat panik dan cemas ketika menelfon.
"Iya tante, nanti Dana cari tau dulu keadaan Awan ya tante, nanti Dana hubungi tante lagi jika sudah bertemu dengannya. Tante tanang ya jangan panik." Dana bergegas menuju gerbang depan kostnya. Ia memesan taxi online untuk mencari tau keadaan Awan. Ia menelfon Awan namun tak ada jawaban disana.
Setelah beberapa kali menelfonnya, akhirnya laki-laki itu mengangkat telefon darinya.
"Gak usah, gak parah kok. Lagian mama memang seperti itu, kau tau sendiri dia sangat over."
"Bilang aja dimana? Aku sudah naik taxi ini," Dana sedikit kesal dengan jawaban Awan di balik telefon.
"Jauh, aku masih di daerah Depok."
"Rumah sakit mana?"
"RS. Sampingan"
Dana menutup telfonnya setelah mengetahui tujuannya. Yang ia pikirkan saat itu hanya kondisi Awan dan kekhawatiran tante Hesti. Ia paham betul bagaimana kekhawatiran seorang mama pada anaknya. Hal itu ia rasakan setahun yang lalu ketika dirinya kecelakaan.
Mama benar-benar sedih ketika itu. Ia langsung menyusulnya ke Jakarta setelah mendengar telefon Dana yang kecelakaan dari kak Sad.
__ADS_1
Setelah hampir 1 jam perjalanan menuju rumah sakit, Dana akhirnya sampai ke tempat tujuan. Ia langsung berlari ke meja pusat informasi dan menanyakan keberadaan Awan di sana.
Awan masih terbaring di ruang perikasa rumah sakit itu. Ia mendapatkan cairan infus di sana.
"Wan, syukurlah gak parah." kata Dana pada laki-laki yang terbaring di ranjanng itu.
"Temanku yang sedikit parah, tapi gak papa sih, cuma kena pecahan kaca mobil aja."
Dana menagngguk tanda mengerti. Ia mengamati luka yang ada di pelipis Awan.
"Cuma luka kecil, gak sampai dijahit. Sama siapa ke sini?" tanyanya pada Dana.
"Sendiri." Dana mengambil tempat duduk yang ada di belakangnya.
"Jam segini? gila kamu Dan."
"Aku panik, gak liat jam sama sekali." Kata Dana pada Awan. Saat itu memang sudah sangat larut. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Dana lalu memberi kabar pada tante Hesti terkait kondisi Awan. Ia juga mengatakan untuk tak perlu khawatir ataupun pergi ke Jakarta karena Awan baik-baik saja. Tante Hestipun lega mendengarnya. Ia meminta tolong pada perempuan itu untuk menjaga Awan disana.
Awan lalu dibawa ke ruang perawatan tak lama setelah itu. Dokter menyarankannya untuk menginap di rumah sakit karena tubuhnya masih demam. Dana menemani laki-laki itu di rumah sakit.
"Pacar kamu gak kesini?" tanya Dana pada Awan.
"Lagi di Bali, dia lagi pemotretan disana." Jawab Awan singkat. Dana hanya mengangguk tanpa bertanya lagi padanya.
Malam itu, Dana sengaja menginap di sana karena tak mungkin jika ia pulang ke kost jika sudah larut seperti itu.
Dana tidur di kursi sofa yang ada di ruangan tempat Awan dirawat. Awa juga tidur karena masih demam.
...****************...
__ADS_1