
Awan mengantar Dana ke kostnya.
"Terimakasih sudah mengatarku." Dana buru-buru melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil. Hujan masih turun cukup deras saat itu. Jalanan yang macet membuat perjalanan Awan dan Dana cukup lama sampai ke kost. Dana berusaha membuka gerbang kostnya. Ia sangat panik ketika ternyata gerbang itu terkunci dari dalam. Dana tak membawa kunci cadangan hari itu. Ia meninggalkannya di atas lemari karena ia pikir tak akan pulang terlalu larut.
Waktu memang telah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Dana berdecak frustasi sambil memanggil bapak kost yang tak kunjung datang membukakan pintu.
"Gak dibukain?" tanya Awan pada Dana. Dirinya membawa payung untuk memayungi perempuan itu.
"Kayaknya sudah tidur deh, hujan begini mana denger." Dana mencoba mengintip dari lubang kecil yang ada di gerbang itu. Dana tak bisa memanjat pagar kost nya karena beberapa hari yang lalu bapak kost menutup lubang yang ada diatas sehingga tak ada satu orangpun yang bisa masuk.
"Yaudah, mau ke rumahku saja?" Dana sontak menengok ke arah Awan.
"Ada 2 kamar di rumah. Kamu bisa pakai kamar itu. Baju kamu sudah basah begini. Nanti masuk angin lagi." Dana tak punya pilihan lain selain mengikuti saran Awan. Ia berniat untuk numpang tidur dan pulang esok harinya.
Dana masuk lagi ke mobil Awan. Rumah yang Awan tempati memang hanya berjarak sekitar 15 menit dari kost nya. Hal itu memungkinkan baginya untuk pulang besok setelah subuh.
Setibanya mereka di rumah itu, Awan membuka pintu dan mempersilahkan Dana untuk masuk. Dirinya menunjukkan kamar yang bisa Dana pakai untuk tidur.
"Kamu pakai kamar ini ya? ada handuk dan baju adikku di dalam lemari. Kau bisa memakainya. Kalau kamu ingin mandi, water heater nya dihidupkan dulu." Awan menunjuk tempat untuk menyalakannya. Dana hanya mengangguk mengerti. Awan lalu meninggalkan dirinya di dalam kamar sendirian.
Dana duduk di tempat tidur kamar itu. Dirinya memberhatikan setiap sudut ruangan. Kamar itu tak begitu besar. Hanya ada 1 tempat tidur, lemari kecil dan 1 meja rias. Ia yakin jika ini adalah kamar tamu.
Selesainya mandi, Dana mengunci pintu kamar dan pergi tidur. Sebelum memejamkan matanya, Dana senagaja mengirimi kak Wisnu pesan untuk memberinya kabar. Seharian ini, setelah kak Wisnu menelfon dirinya siang tadi, ia sama sekali tak mengiriminya pesan.
Tak ada apapun yang Dana fikirkan. Hanya mungkin karena tempat itu adalah tempat baru, dirinya sangat sulit untuk memejamkan matanya. Dana memutuskan untuk bangun dan keluar dari kamar. Dilihatnya Awan yang masih terjaga sedang membuat kopi.
"Belum tidur?" Dana bertanya pada Awan. Laki-laki itu sedikit terkejut mendengar suara Dana yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
__ADS_1
"Dan, belum ini. Aku mau nonton TV dulu. Kamu mau ngopi?" tanya Awan yang masih menyeduh kopi di depannya.
"Enggak, aku pagi tadi udah ngopi. Lambungku kadang suka gak kuat." Dana duduk di ruang tengah rumah itu. Awan duduk di samping Dana dan menyalakan TV.
"Kamu apakabar sama kak Wisnu?" Awan menyeruput kopinya sedikit. Ia sedikit melirik ke arah wanita di sampingnya.
"Baik, cuma kayaknya dia lagi ada masalah yang belum bisa dia ceritain. Mamanya lagi di sini." Dana mengambil bantal yang ada di disebelahnya. Ia meletakan bantal itu di atas pangkuannya.
"Mama dia di sini? bagus dong. Kamu bisa kenalan sama keluarga dia sekalian."
"Iya," Dana menunduk menjawab ucapan Awan.
"Dulu, sewaktu aku kenalkan mama dengan Rachel. Kata-kata yang pertama kali keluar dari mulut mama, baru tau kalau anting bisa dipasang sebanyak itu di telinga, nggak sakit mba?" Awan tertawa getir menceritakan hal tersebut pada Dana.
"Bagus padahal, kalau aku gak kerja di kantor, mungkin aku bikin tuh 10 lobang anting." kata Dana mencoba menghibur Awan.
Beberapa saat keheningan menyapu ruangan itu. Dana sibuk memainkan HP nya, sementara Awan sibuk menonton TV yang menyala di depan mereka.
"Dan," Awan membuka pembicaraan dengannya lagi. Dana menatap laki-laki itu.
"Kalau misalnya, Wisnu gak jadian sama kamu, Apa kamu bakal nerima perjodohan itu?" Awan bertanya sangat serius pada wanita itu.
"Entahlah, mungkin ia mungkin tidak. Aku mengenalnya dan jatuh cinta sama dia jauh lebih lama dibandingkan dengan waktu dirimu dan Rachel pacaran. Aku menyukainya semenjak SMA Wan,"
"Akan sangat sulit melupakannya?" Dana tersenyum mendengar ucapan Awan. laki-laki itu menatap Dana sayu.
"Aku putus dengan Rachel karena ia memintanya. Aku tak bisa memyiksanya lebih lama lagi Dan. Aku juga tak bisa memaksanya untuk ikut agama yang aku anut. Sadar aku kalau hubungan kami memang jalan di tempat saja selama 4 tahun."
__ADS_1
"Hubungaku juga jalan di tempat kok." Dana menghela nafas berat. Ia mengambil minum yang ada di dispenser belakang.
"Seengaknya kalian tak punya masalah seberat aku." Awan menyeruput kopinya lagi.
"Aku diam bukan karena tak ada masalah Wan. Aku menghargainya dan semua prinsipnya. Aku sebisa mungkin memakluminya." Dana kembali duduk di posisinya. Ia meminum air putih yang ada di gelasnya. Obrolan itu terus berlanjut hingga pukul 2 dini hari. Dana yang merasakan kantuk datang meminta izin untuk tidur terlebih dahulu. Tak berselang lama, Awan juga tidur di shofa ruang tengah dengan TV yang masih menyala.
Pagi buta, Dana bangun dari tidurnya. Ia membangunkan juga Awan untuk sholat subuh. Setelah itu, dirinya pamit untuk pulang ke kostnya. Sebenarnya, Awan hendak mengantarkannya. Tapi, Dana menolaknya. Ia pikir jalanan akan mulai macet saat pagi. Dana berinisiatif menaiki ojek online untuk menghindari hal tersebut.
**
Perempuan itu telah siap di depan stasiun. Meskipun pikirannya masih tertuju pada Wisnu, tapi dirinya mencoba fokus untuk bekerja hari ini. Sudah cukup ia menunda pekerjaan kemarin. Tak lama, ia menerima telefon dari kak Wisnu. Dana cukup senang menerima telefon itu. Dirinya lalu mengangkat telefon dari Wisnu.
"Halo kak?"
"Halo Dan, sudah mau berangkat?" tanya Wisnu dari balik telefon. laki-laki itu terdengar masih murung seperti hari-hari sebelumnya.
"Ini sudah di stasiun. Kak Wisnu sudah berangkat?" tanya Dana pada laki-laki itu. Dana yang melihat kereta yang ditunggunya sudah datang, lantas menaiki kereta itu.
"Belum. Aku ambil cuti beberapa hari ini."
"Mama kak Wisnu masih di sini?"
"Masih. Dana, sebenarnya aku ingin ketemu sama kamu hari ini."
"Kapan?" Dana terdengar sangat bersemangat menanggapi ucapan Wisnu.
"Hari ini jam 7. Aku mau ngajak kamu makan malam." Setelah mengiyakan ucapan Wisnu, dirinya menutup telefon itu. Dana yang sedari tadi murung mendadak ceria karena akan bertemu kak Wisnu malam nanti. Ia bahkan sudah memikirkan pakaian yang akan dikenakannya untuk makan malam.
__ADS_1
...****************...