
Dana terbangun dari tidurnya ketika ponsel miliknya bergetar. Awan lalu mematikan ponsel milik Dana.
"Kebangun ya?" tanya Awan pada istrinya.
"Kenapa di matikan?" tanya Dana memcoba beradaptasi dengan cahaya yang menimpa mata coklatnya.
"Tidur lagi, baru jam setengah lima." kata Awan.
"Kamu gak mau sarapan? subuh juga," kata Dana pada Awan.
"Kita sarapan di luar yok? hari ini aku ambil cuti setengah hari." Dana menatap Awan dengan mata yang masih mengantuk.
Setelah bersiap-siap. mereka pun pergi mencari sarapan. Awan membawa Dana ke salah satu healty food. Dana benar-benar bingung ketika membuka menu yang ada di sana.
"Kamu jadinya pesan apa?"
"Wan ini gak ada makan berat ya?" Dana membolak balik menu yang ada di tangannya.
"Ini makan berat," kata Awan menunjuk ke deretan menu yang Dana buka.
"Ini salad semua Wan! Yasudah nicoise saladnya 1 ya mba?," kata Dana pada pelayan.
Setelah itu, Dana dan Awan pun menunggu makanan yang mereka pesan datang.
"Kamu gak pernah cerita soal teman kamu yang kemarin," kata Awan membuka pembicaraan.
"Angit maksudnya?"tanya Dana memastikan.
"Iya, kamu selalu cerita soal Fina, terus si Arin dkk tapi gak pernah cerita soal Angit." kata Awan pada istrinya.
"Hem, mungkin karena aku jarang juga kontak dia sih setelah lulus, jadi dulu itu aku suka iseng muter Jogja gitu. Tapi waktu itu aku gak punya teman yang emang suka random pergi terus main gitu. Kamu tahu lah teman-teman aku pasti orang yang gak suka main, yang hobi nya belajar, sampai waktu aku kenal sama Angit. Kayak misal nih, aku ajak dia makan keluar jam 12 malem aja dia pasti mau. Jadi ya semenjak itu, kemana-mana aku pasti sama dia. Terus nambah lagi sama Adi, nambah lagi sama Dhifa yang pernah dateng ke rumah kita juga sama teman-temanku yang lain. Terus sama Tiya juga jadinya kayak bentuk group main sendiri gitu, tapi ya karena satu organisasi juga jadi deket." kata Dana mencoba menjelaskan.
"Mantan juga?" tanya Awan masib penasaran.
"Aku sama Angit? bercanda! pacar pertama aku dan satu-satunya mantan aku itu cuma kak Wisnu. Sebelum itu aku gak pernah pacaran." kata Dana santai.
"Tapi kan gak mungkin kamu deket banget seperti itu kalau gak ada saling suka." Awan memutar bola matanya. Ia masih mencoba mencari jawaban atas rasa penasarannya dengan Dana.
__ADS_1
"Kalau aku bilang gak ada kamu pasti gak percaya. Ya kan?" tanya Dana tersenyum pada Awan.
"Karena gak mungkin!"
"Ya nyatanya begitu, Tanya aja sama Tiya atau Dhifa." Awan hanya melipat tangannya menatap ke arah istrinya. Sebenarnya ia masih sangat penasaran dengan hubungan Dana dan Angit. Tak pernah ia melihat Dana dekat dengan laki-laki lain sedekat kemarin. Hatinya merasa tak suka jika istrinya dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Tapi menurutnya ia harus mencukupkan pertanyaannya sampai di situ kalau ia tak mau lagi bertengkar dengan Dana seperti semalam.
Mereka berdua lalu pulang ke rumah setelah sarapan. Dana yang merasa bosan di rumah benar-benar merasa gelisah. Awan sudah pergi bekerja siang tadi. Sementara dirinya masih harus menghabiskan cuti hari ini. Ia melihat ke layar ponselnya. Ia ingin menghubungi seseorang yang menurutnya bisa menemaninya agar tidak merasa kesepian. Dana meletakkan hanphone miliknya ketika hanya nama Angit yang terlintas di fikirannya.
"Gak gak! Awan pasti marah nanti, siapa ya?" kata Dana bermonolog.
"Kak Sad! Awan gak mungkin marah kalau aku hubungin kakak aku sendiri." Dana lalu tersenyum senang. Ia mencari nomor handphone kak Sad dan segera menelefonnya.
"Halo?" sapa kak Sad dari balik telefon.
"Kak, pulang jam berapa?" tanya Dana langsung.
"Libur aku hari ini, abis ambil cincin nikah tadi." jelas kak Sad.
"Lah! baru beli?" tanya Dana kaget.
"Aku kan mama yang ngurus, tinggal terima dateng ukur baju, dateng deal vendor. Udah!" kata Dana pada kak Sad.
"Enak banget kamu!" Dana pun tertawa mendengar ucapan kak Sad.
"Mending kak Sad ke sini deh! aku bosan banget di rumah!" kata Dana mengeluh.
"Oh iya ngapain kamu di rumah? gak kerja dek?" tanya kak Sad penasaran.
"Gak tau kan aku kemarin pingsan karena asam lambungku naik?"
"Hah? kok bisa? terus?" tanya kak Sad panik.
"Ya di bawa ke rumah sakit sama Awan, makanya sekarang cuti di rumah gak diizinin kerja sama Awan." kata Dana tersenyum.
"Ya Allah dek bisa-bisanya! yasudah aku siap-siap dulu terus aku nanti ke sana ya? minta bawakan apa?" tanya kak Sad pada adik sepupunya.
"Siomay dekat rumah kak Sad yang waktu itu enak ya kayaknya?" kata Dana meringis.
__ADS_1
"Yasudah nanti aku belikan," kata kak Sad yang sangat bermurah hati pada adiknya.
"Terimakasih kakakku, yasudah hati-hati ya aku tunggu di rumah," Dana lalu mematikan telefonnya dengan kak Sad.
Sekitar 1 jam setelah itu, Kak Sad pun datang. Dana tersenyum ketika membuka pintu. Ia pun mempersilahkan kak Sad masuk ke rumah. Dana mengambil piring untuk mereka berdua makan siomay yang kak Sad beli.
"Kamu makan apa bisa sampai pingsan gitu?" tanya kak Sad pada adiknya.
"Kopi," jawab Dana yang masih sibuk mengunyah siomay yang ada di mulutnya.
"Dulu SMA bukannya kamu suka minum kopi?" tanya kak Sad keheranan.
"Iya, gak tau semenjak kuliah lambung aku bermasalah sepertinya. Udah gak bisa lagi minum kopi. Terakhir minum aku dibawa ke UGD juga karena pingsan." kata Dana tertawa kecil.
"Nekat emang ya!" kata Kak Sad melipat tangannya ke depan.
"Tapi gak semua kopi kak, kalau kayak kopi susu gitu aku masih bisa minum," jelas Dana.
"Lah kemarin kamu minum apa?" tanya Kak Sad penasaran.
"Espresso shot, tapi sebenarnya Awan yang pesan, tapi yang ngabisin aku." kata Dana tertawa.
"Nyari mati emang ya?" kak Sad menjewer telinga adiknya. Dana hanya mengaduh kesakitan melepaskan tangan kakaknya itu.
Setelah berbincang lama, Awan pun pulang. Dana telah memberi kabar pada Awan jika kak Sad akan datang ke rumah mereka, sehingga Awan membawa banyak sekali makanan dan camilan untuk mereka bertiga. Dana memotong buah yang Awan beli di dapur. Kak Sad sedang berbincang dengan Awan di ruang tamu.
"Susah ya ngadepin adik aku?" tanya kak Sad pada Awan.
"Banyak kejutannya sih kak, cuma seru sih." jawab Awan tersenyum.
"Aku gak bisa ngasih nasihat apapun sih Wan, karena faktanya kamu nikah lebih dulu dari aku. Tapi, aku bisa jamin kalau adikku sayang sama kamu. Aku tahu dia dari kecil, susah buat dia jatuh cinta sama orang. Jadi ya, aku tahu dia bener-bener cinta sama kamu." kata kak Sad tersenyum.
"Iya," kata Awan tersenyum pada kak Sad.
Tak lama, Dana datang membawakan buah dan beberapa camilan yang Awan beli. Mereka pun berbincang banyak hal hingga malam cukup larut.
...****************...
__ADS_1