JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
PERTANYAAN


__ADS_3

Dana sangat senang karena hubungannya dan Awan benar-benar harmonis beberapa minggu ini. Awan bahkan mengajaknya mengunjungi om dan tante di Bandung.


"Seneng?" tanya Awan pada Dana. Perempuan itu mengangguk dan tersenyum.


"Kamu tahu gak, aku tu pingin banget tinggal di Bandung. Gak kenapa, kota ini seperti memberiku sihir untuk selalu kembali ke sini." kata Dana tersenyum. Sore itu, Awan dan Dana menikmati suasana taman kota dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa mereka.


"Mba, mau itu!" tunjuk Shanum pada salah satu pedagang di sana.


"Sama mas yok?" Kata Awan menggendong Shanum. Dana memandang ke arah keduanya dengan tatapan hangat. Ia tau jika Awan sangat senang dengan anak kecil. Ia juga tau kalau Awan sangat mendambakan buah hati yang akan mewarnai hari-hari mereka berdua.


"Pulang yok? nanti kesorean." kata Dana merapikan rambut Shanum ketika mereka berdua kembali. Awan lalu menurunkan Shanum dari gendongannya. Dana menggandeng tangan adiknya berjalan menyusuri jalan berumput.


"Aduh lucunya, siapa namanya?" tanya seorang ibu ketika mereka lewat.


"Shanum tante," kata Dana pada ibu itu.


"Anak pertama ya?" tanya ibu tadi pada Dana.


"Eng..."


"Iya tante anak pertama," jawab Awan memotong ucapan istrinya. Dana hanya tersenyum dan memutuskan untuk tidak berkata apapun lagi. Ia hanya tersenyum menimpali perkataan Awan.


Shanum tertidur di carseat jok belakang.


"Perempuan atau laki-laki?" tanya Dana spontan pada Awan.


"Apanya?" tanya Awan yang tak paham dengan ucapan istrinya.


"Anak pertama, kita gak pernah ngobrol soal ini sebelumnya." kata Dana tersenyum. Awan lalu menggenggam tangan Dana, ia tersenyum menatap ke arah istrinya.


"Anak itu titipan, mau laki-laki atau perempuan, yang penting sehat, kamu dan aku seneng juga ngejalaninnya." jawa Awan pada Dana.


Sesampainya di rumah tante dan om, Awan menggendong Shanum yang masih tertidur pulas. Dana mencopot carseat yang ada di mobilnya. Ia juga membawa barang-barang Shanum ke dalam rumah.

__ADS_1


"Repot ya?" tanya om Iyan ketika Dana masuk ke rumah.


"Dikit," kata Dana tersenyum.


"Latihan, besok kalau punya anak begitu, Belum isi sampai sekarang?" tanya om Iyan pada ponakannya.


"Belum," jawab Dana tersenyum.


"Gak papa, banyakin doa. InsyaAllah, nanti dikasih sama Allah cepet." kata om Iyan menepuk pundak keponakannya.


"Om dulu pas Shanum lahir, pasti seneng banget ya?" tanya Dana. Ia masih menunduk tak berani melihat ke arah om Iyan.


"Nduk, kamu gak perlu khawatir, om yakin kalau Awan sayang sama kamu. Jadi apapun itu om yakin dia akan terus sama kamu."


"Jujur Dana takut om, Dana takut gak bisa jadi orang tua yang baik, banyak yang Dana pikirkan sebenarnya tentang menjadi orang tua." jelas Dana.


"Gak ada orang tua yang sempurna nduk, mau sampai kapanpun, namanya jadi orang tua itu sama-sama belajar. Gak hanya anak saja, orang tua juga. Gak ada orang tua yang gagal gak ada orang tua yang berhasil. Karena memang tidak ada alat ukurnya. Setiap orang tua pasti memberikan yang terbaik buat anak. Dengan caranya masing-masing. Kamu juga pasti seperti itu ketika nanti menjadi orang tua. Gak ada metode paten 'cara menjadi orang tua yang sukses, gak ada!' anak itu kertas orang tua itu pena. Kadang kalau kita nulis terus salah, ya dihapus, dicoret, pake tip-x, gak akan ada yang benar-benar bersih mulus, gak akan pernah ada. Apa lagi kita menulis gak cuma satu atau dua kalimat. Kita menulis banyak kalimat sepanjang hidup kita." Dana menatap om Iyan. Ia mencoba mencerna ucapan beliau. "Om tau, pasti banyak hal yang kamu pertimbangkan. Om yakin kamu bisa memilih pilihan yang terbaik, untuk kamu, dan untuk Awan." om Iyan melanjutkan ucapannya. Dana hanya tersenyum membalas ucapan om Iyan.


"Pulang ya dek?" kata Dana lirih.


"Hati-hati ya? nanti kirim pesan kalau sudah sampai rumah," kata tante pada mereka berdua.


Dana dan Awan lalu melaju dengan mobilnya. Pagi itu sangat dingin sehingga Dana mematikan AC di dalam mobil mereka.


"Dinginnya Bandung enak banget," kata Dana.


"Lima tahun-lima tahun lagi ya kita beli rumah di sini." kata Awan.


"Memangnya kamu bisa pindah?" tanya Dana pada Awan.


"Bisa lah, kamu itu yang dipertanyakan."


"Ada kantor cabang di Bandung, cuma gak tau aku dilepasin dari kantor pusat atau enggak." kata Dana tertawa.

__ADS_1


"Kita gimana ya kira-kira? sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi." pikiran Awan menerawang ke depan memikirkan dirinya dan Dana.


"Aku masih sama kamu gak ya Wan?" tanya Dana spontan.


"Kamu ngomong apa sih Dan, masih lah! aku nikah sama kamu itu buat sehidup semati!" jawab Awan sedikit kesal dengan pertanyaan Dana.


"Kamu cinta sama aku?" Dana menatap Awan. Entah mengapa Dana merasa jika hati Awan belum sepenuhnya miliknya.


"Masih perlu aku jawab?" Awan terlihat tak suka dengan pertanyaan dari istrinya. Dana hanya diam memalingkan wajahnya. Ia tak lagi mau berdebat dengan Awan. Perempuan itu menatap ke arah luar jendela tanpa meneruskan ucapannya.


Sesampainya di rumah, Dana berangkat ke kantor seperti biasa. Awan juga tak banyak bicara hari itu. Ia seperti menjaga jarak dengan Dana.


"Cemberut aja bu!" kata kak Rindang pada Dana. "Kenapa nih pagi-pagi vibes nya suram?"


"Enggak papa, biasa aja." jawab Dana sembari meminum teh yang ada di tangannya. Ia berdiri di samping dinding kaca yang ada di kantornya. Terlihat di sana gedung-gedung pecakar langit menjulang tinggi dari kejauhan.


"Karena email ya?" tanya kak Rindang mencoba menebak.


"Bukan, lagi pula aku gak berharap banyak sih. Belakangan ini banyak hal yang harus di pertimbangkan." jawab Dana tersenyum.


"Tapi jujur sama aku, kamu tetep berharap kan?" Kak Rindang menatap Dana penasaran. "Awan tau soal ini?" Dana hanya diam tak menjawab. Pikirannya benar-benar runyam ketika mengingat Awan. Dana hanya tersenyum dan menepuk pundak kak Rindang. Ia lalu masuk ke dalan ruangan dan kembali bekerja. Kak Rindang hanya menatap Dana yang pergi meninggalaknnya.


Dana mendapatkan telefon dari Awan.


"Halo Wan?" sapa Dana dari balik telefon.


"Aku gak bis jemput, aku pulang malam hari ini." kata Awan singkat.


"Oke, gak papa. Aku bisa naik taxi nanti."


"Oke," jawab Awan singkat. Ia lalu menutup telefonnya. Dana tau jika Awan masih kesal dengannya tapi ia hanya berfikir jika Awan butuh waktu untuk memperbaiki mood nya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2