JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
MANCING


__ADS_3

Dana menyelesaikan pekerjaannya tepat pukul 8 malam. Perempuan itupun langsung berjalan ke luar ruangan dan menuruni tangga menuju lobi. Kantornya sudah cukup sepi saat itu. Junior Dana juga sudah terlebih dahulu pulang setengah jam yang lalu.


"Sudah mba?" tanya satpam pada Dana.


"Udah pak, jaga malam ya pak?" tanya Dana.


"Iya ini mba,"


"Yasudah pak, mari," kata Dana pada satpam tersebut.


Ketika ia berjalan menuju luar, ia dikejutkan oleh kehadiran Awan yang menunggunya di sana. Laki-laki itu lalu tersenyum dan keluar dari mobilnya.


"Kok di jemput?" tanya Dana menghampiri Awan.


"Masa istri pulang malam aku biarkan pulang sendiri." kata Awan pada Dana. "Sudah makan?" tanya Awan mengelus rambut Dana.


"Belum, mau ngajak makan?" tanya Dana.


"Yok?" kata Awan mengangguk. Ia lalu membukakan pintu untuk Dana dan mempersilahkan istrinya itu masuk ke mobil. Dana tersenyum karena perilaku Awan yang sangat manis padanya.


"Mau makan apa?" tanya Awan di dalam mobil.


"Ada angkringan enak di sekitar sini kalau malam. Seafood nya enak. Mau?" kata Dana bersemangat.


"Boleh." Dana tersenyum senang mendengar Awan yang tidak keberatan dengan usulannya.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Dana memesan kerang asam manis dan cumi goreng tepung. Sementara Awan memesan udang saos tiram. Mereka lalu menyantap makanan yang mereka pesan dengan lahap.


"Gemuk aku makan malem seperti ini." kata Awan pada Dana.


"Gak papa dong, kan lucu jadi tembem." Dana memegang pipi Awan dengan tangannya. Awan yang mendapat perlakuan tak biasa dari istrinya pun sontak menelan ludah. Dana lalu tersenyum dan melanjutkan makan.

__ADS_1


"Kamu mancing-mancing."


"Hah? mancing? maksudnya?" tanya Dana masih tak mengerti.


"Makan-makan." kata Awan tersenyum ke arah Dana. Awan lalu memberikan udang yang ia pesan ke piring Dana. Dana sedikit kaget karena tingkah Awan. Ia sebenarnya ragu untuk memakan udang yang ada di piringnya. Tapi, ia merasa tak enak jika menolak pemberian Awan. Dana lalu memakan udang itu.


"Wan, aku dapat undangan." perempuan itu sebenarnya tak yakin untuk memberi tahu masalah kak Wisnu yang datang ke kantornya. Tapi, bagaimanapun Awan adalah suaminya. Dan laki-laki itu perlu tahu masalah ini.


"Undangan apa?" tanya Awan santai.


"Tadi kak Wisnu datang ke kantorku. Dia mau menikah. Dia memberiku undangan." kata Dana mengeluarkan undangan yang diberikan kak Wisnu.


"Tanggal berapa?" tanya Awan pada Dana.


"Akadnya tanggal 25 bulan ini."


"Oh, yasudah. Minggu kan itu? di Jakarta?" tanya Awan santai.


"Untuk apa?" Awan hanya tersenyum menatap Dana. Dana menatap Awan lekat-lekat. Ia tak menyangka jika Awan merasa tak keberatan untuk datang ke pernikahan mantan pacar dari istrinya. "Dan, kamu kan cerita sama aku. Untuk apa aku marah? lagi pula itu masa lalu. Aku sudah cukup mengenalmu beberapa bulan ini. Aku tahu jika kamu ingin terbuka denganku, dan aku hargai itu. Jadi untuk apa aku marah padamu?" kata Awan menjelaskan.


Dana tak tahu jika Awan mempunyai sikap yang cukup dewasa. Ia bahkan dapat mengimbangi Dana. Perempuan itu tersenyum mendengar ucapan suaminya. Apa yang ia takutkan selama ini memanglah tak berdasar.


Dulu ia sangat ragu dijodohkan dengan Awan karena ia menganggap Awan tak lebih dari anak kecil. Tapi setelah mengenal Awan, pandangannya terhadap laki-laki itu kini berubah. Ia tak menyangka jika Awan memiliki sifat yang cukup dewasa dalam menghadapi masalah. Dana seperti terhipnotis oleh pesona suaminya. Entahlah, mungkin ia merasa sangat beruntung saat ini karena mendapatkan seseorang seperti Awan. Tapi yang Dana tahu, hatinya kini tenang karena bersama Awan.


"Kenapa ngelihatin aku terus?" tanya Awan pada Dana.


"Memangnya gak boleh?" tanya Dana pada Awan.


"Nanti kita Datang ke akadnya kak Wisnu." Dana hanya mengangguk menanggapi ucapan suaminya.


Selepas makan, keduanya pun pulang ke rumah. Mereka lalu bergegas untuk membersihkan diri sebelum tidur. Seperti biasa, Dana memakai skin care sebelum tidur. Awan hanya memandangi Dana dari tempat tidur.

__ADS_1


"Kamu pakai apa saja sih?" Tanya Awan yang penasaran dengan aktifitas yang sedang dilakukan oleh istrinya.


"Ini buat melembabkan kulit. Kamu coba deh Wan." Dana lalu menghampiri Awan sembari membawa serum dan pelembab wajah miliknya.


"Memangnya bisa laki-laki pakai itu?"


"Bisa, percaya deh besok kulit kamu bakal keliatan bagus." Dana lalu duduk di samping Awan. Mencoba memposisikan diri sejajar dengan suaminya.


"Gak ah, itu kan buat perempuan."


"Kata siapa? coba dulu. Ini buat general. Teman-teman aku juga pake ini." kata Dana mencoba mengoleskan pelembab itu ke wajah Awan.


"Aman kan?" tanya Awan sedikit takut.


"Aman, nanti kalau cocok kamu bisa pake juga biar wajahmu agak cerah an." kata Dana.


"Kamu suka laki-laki yang putih ya?" Tanya Awan pada Dana. Perempuan itu hanya tersenyum mendengar ucapan Awan yang tampak konyol baginya.


"Enggak, bukan gitu. Kalah saing nanti kalau kamu terlalu putih. Tinggal pakai serum, tunggu sebentar. Dah!" Dana mengusap pipi Awan lembut. Mencoba untuk membuat skin care itu meresap sempurna di wajah suaminya. Setelah selesai, Ia lalu beranjak dari tempat tidur hendak meletakkan skin care itu ke meja riasnya. Tapi, tiba-tiba saja Awan menarik tangannya. Sontak Dana yang hendak berdiripun kembali duduk di tempat semula. Awan mendekatkan wajahnya pada istrinya. Cukup dekat sampai Dana dapat melihat wajah Awan dengan jelas.


"Mancing lagi kan?" seketika itu juga Dana tahu apa maksud dari ucapan Awan. Ia yang merasa sangat gugup pun sontak berdiri menjauh dari suaminya.


"A apa sih? kau pikir kolam di pancing-pancing." Awan tersenyum geli melihat Dana yang salah tingkah.


"Yasudah sini tidur." kata Awan menepuk-nepuk bantal yang ada di sebelahnya. Dana masih diam mematung melihat tingkah Awan. Laki-laki itu pun membari isyarat kepada istrinya untuk segera berbaring di dekatnya. "Gak akan aku gigit." kata Awan meneruskan ucapannya.


Dana lalu meletakkan skin care itu di tempat semula. Perlahan Ia duduk dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dana dengan cepat menarik selimut dan menenggelamkan tubuhnya di dalamnya. Jantungnya masih berdetak tak karuan. Pikirannya kini memikirkan hal yang tidak-tidak tentang Awan. Kini ia memilih mengganti posisinya membelakangi laki-laki itu. Dana mencoba untuk memejamkan matanya perlahan.


"Aku gak akan ngelakuin itu tanpa seizin kamu, kamu tenang saja." kata Awan yang sepertinya tahu jika Dana sedang gusar. Dana yang mendengar itupun sontak berfikir dengan keras. Ia rasa harus melakukan sesuatu untuk menghapus kecanggungan antara dirinya dan Awan.


"Kayaknya kita harus ngobrol soal ini deh Wan!" kata Dana tiba-tiba.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2