
Perempuan itu hanya tersenyum sinis melihat Dana yang masih keheranan. Ia meninggalkan Dana begitu saja. Dana hanya memutar bola matanya dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan perempuan itu. Ia sudah menemukan baju yang cocok dengannya untuk menemui kak Wisnu.
Esok harinya Dana bersiap untuk berangkat mememui kak Wisnu dan kak Sad di tempat yang sudah disetujui. Ia tampak menunggu taxi di depan kost nya. Beberapa kali ia membenarkan bajunya agar tak kusut.
Tak lama mobil taxi itupun datang menjemputnya. Sesampainya di tempat itu, terlihat kak Wisnu sudah datang menunggunya.
"Dana," sapanya dari jauh. Dana hanya tersenyum melihatnya. Ia menghampiri laki-laki itu dangan semangat.
"Kak Sad mana?" tanya Dana basa-basi. Sebenarnya ia sedikit takut karena kak Sad belum datang. Ia takut jika suasana antara dia dan Kak Wisnu menjadi canggung.
"Belum datang, dia bilang sedikit terlambat. Kamu mau pesan apa?" tanyanya pada Dana. Dana hanya mengangguk tanda mengerti. Ia membuka menu yang diberikan pelayan padanya.
"Matcha latte 1 mba," katanya pada seorang pelayan.
"Selalu," kata Kak Wisnu padanya. Kak Wisnu ingat betul jika Dana sering sekali memesan menu itu setiap mereka datang ke cafe.
"Masih ingat ternayata?" tanya Dana tersenyum. Tak banyak obrolan yang mereka bicarakan. Mungkin karena sudah lama mereka tak bertemu.
Sudah satu jam semenjak Dana dan kak Wisnu duduk di tempat itu. Dana mulai cemas karena kak Sad belum juga datang.
"Kok kak Sad belum datang ya?" tanya Dana pada kak Wisnu. Ia berulang kali mengecek HP miliknya menunggu kabar dari kakaknya itu.
"Macet mungkin, coba di telefon." Dana yang mendengar ucapan kak Wisnu langsung menelfon kak Sad.
"Halo kak, dimana kok belum datang?" kata Dana di dalam telefon.
"Aku kayaknya gak bisa datang deh, aku lupa harus menemani Nisa belanja." Dana mengerutkan dahi mendengar ucapan sepupunya itu. Ia tau betul jika Nisa pacar kak Sad sedang di Jogja. Bagaimana mungkin Nisa tiba-tiba ada di Jakarta.
"Kenapa baru bilang sih kak?" kata Dana sedikit kesal.
"Ya maaf, sudah kamu ngobrol saja dengan Wisnu. Nanti kalau sempat aku datang ke sana." Kak Sad lalu menutup telefonnya. Dana hanya keheranan dengan tingkah kakaknya itu.
"Gimana?" tanya kak Wisnu penasaran.
"Gak tau, masa katanya dia nemenin Nisa belanja. Sejak kapan pacarnya datang ke Jakarta?" Dana terlihat sedikit kesal dengan tingkah kak Sad.
"Yaudah lah, namanya juga punya pacar. Prioritasnya berbeda sekarang." Kak Wisnu hanya tersenyum melihat Dana yang cemberut.
"Mau jalan-jalan gak?, ada ice cream enak di mall dekat sini." Kak Wisnu tersenyum melihat Dana.
"Molto Delizioso kan?" kata Dana mulai tersenyum.
__ADS_1
"Suka ke sana?"
"Sering." Jawab Dana tertawa.
Mereka berdua lalu berjalan menyusuri mall. Kak Wisnu mentraktir ice cream yang mereka beli. Beberapa kali Dana menarik kak Wisnu untuk masuk ke toko di mall itu. Dana juga menemani kak Wisnu membeli sepatu.
Hari itu seperti reuni bagi mereka berdua. Mungkin keduanya sedikit kecewa karna tak bisa berkumpul dangan kak Sad. Tapi Dana cukup senang bisa berjalan berdua menyusuri trotoar dengan kak Wisnu.
"Kamu sering pulang ke rumah gak sih Dan?" tanya kak Wisnu pada Dana.
"Sebulan sekali, kak Wisnu gak pernah pulang ya?" tanya Dana balik kepada kak Wisnu.
"Jarang sih, paling kalau libur panjang." Dana mengangguk tanda mengerti.
"Sekarang sudah kerja, sudah punya pacar berarti?" pertanyaan kak Wisnu sedikit mengagetkan bagi perempuan itu. Dana refleks menengok padanya.
"Belum, gak tau, dulu sih gak mau pacaran karena fokus mau kuliah. Sekarang belum pacaran karena belum nemu yang cocok. Ah pusing deh!" kata Dana tersenyum.
"Cari yang kaya apa sih Dan? kalau kamu cari yang sempurna ya gak akan nemu." Dana melihat kak Wisnu sekilas. Ia menghentikan langkahnya.
"Gak nyari aku kak, nunggu." Kata Dana tersenyum.
"Kepo!" kata Dana berjalan mendahului laki-laki itu.
Kak Wisnu mengantar Dana pulang setelah itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Sudah cukup larut malam untuknya.
"Makasih udah nganter sampe kost." Dana melepaskan sabuk pengamannya.
"Sama-sama. Jangan kapok aku ajak main di Jakarta ya?" katanya tersenyum. Dana membalas senyum kak Wisnu.
"Hati-hati pulangnya kak," Dana lalu keluar mobil. Dilihatnya kak Wisnu yang melaju pergi mengendarai mobilnya. Dana merasa senang karena bisa melewatkan hari ini bersama laki-laki itu. Tak lama setelah masuk ke kamar kost nya, ia berteriak kegirangan di bantal yang ada di tempat tidurnya. Ia sengaja melakukannya agar tak terdengar oleh tetangga kost nya.
Tak lama setelah itu, HP naya berdering. Dilihatnya ada telefon masuk dari kak Sad.
"Kemana aja abangku sayang?" kata Dana di balik telefon.
"Dih, sok- sokan, seneng kan kamu?"
"Sengaja kan? gak mungkin Nisa datang ke Jakarta." Dana melepas sepatu yang masih menempel di kaki nya. Kak Sad hanya tertawa mendengar ucapan adik sepupunya itu.
"Gimana hari ini, lancar?" tanya kak Sad di balik telefon.
__ADS_1
"Ya gitu..."
"Gak usah dijawab juga aku tau jawabannya." Dana tertawa mendengar perkataan kak Sad di balik telefon.
"Wisnu yang minta." Kak Sad melanjutkan perkataannya. Kata-kata sepupunya itu berhasil membuat jantung Dana berdetak lebih cepat.
"Maksudnya?" tanya Dana masih tak paham.
"Dia yang minta aku gak datang." Dana tak mengatakan apapun atau menanggapi ucapan kak Sad. Otaknya masih mencerna perkataan kakaknya itu. Ia bertanya-tanya mengapa kak Wisnu melakukan hal seperti itu.
"Halo, masih di sana kan? masih bernafas?" kata kak Sad dengan suara tengilnya.
"Bercandanya gak usah kayak gitu dong." Dana mencoba mengatur detak jantungnya. Ia mencoba menurunkan ekspektasinya terhadap perkataan kakak sepupunya itu.
"Dih! gak percaya ya udah. Ngapain juga aku bohong kan?" kata kak Sad pada Dana.
"Gak lucu ah, udah aku mau mandi bye!" Dana mematikan telefonnya tanpa memperdulikan kakaknya yang ada di balik telefon. Ia tak ingin berekspektasi lebih pada kak ucapan kakaknya itu. Sudah cukup ia menelan kekecewaan atas kak Wisnu beberapa tahun lalu. Baginya, kedekatannya dengan kak Wisnu saat ini hanyalah pengobat rindu, ia tak ingin menaruh harapan lebih pada laki-laki itu.
Pikiran Dana terus melayang mengingat saat ia dan kak Wisnu bersama. Ia melihat ada pesan masuk di sana.
Kak Wisnu Aku sudah sampai. √√
^^^Dana Alhamdulillah...√√^^^
Kak Wisnu Sudah malam, tidur. Gak baik kalau begadang√√
^^^Dana Iya, kak Wisnu istirahat juga ya, makasih buat hari ini.√√^^^
Kak Wisnu Makasih juga udah nemenin beli sepatu.√√
Dana sengaja tak membalas pesan dari kak Wisnu yang terakhir. Ia gengsi jika harus membalasnya lagi. Dana meninggalkan HP nya yang ada di atas tempat tidur. Ia lalu mandi dan bersiap untuk tidur. Tak lama setelah itu, Dana mendengar suara HP berbunyi. Ia yang masih mengeringkan rambut basahnya mencoba membuka HP itu. Dilihatnya pesan dari laki-laki yang sama.
Kak Wisnu Good night! mimpi indah.√√
Dana merasa sangat senang membaca pesan itu. Kak Wisnu mengiriminya pesan lagi bahkan setelah ia mengabaikan pesan darinya. Perempuan itu tersenyum senang membaca pesan itu berulang-ulang. Ia lalu membalas pesan itu.
^^^Dana Night! √√^^^
Tak lama, ia tertidur karena terlalu lelah. Cukup menyenangkan baginya bisa melewati hari ini dengan orang yang dirindukannya. Orang yang menjadi cinta pertamanya.
...****************...
__ADS_1