JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
BICARA BAIK-BAIK


__ADS_3

Kak Wisnu menemani Dana untuk menemui mamanya. Sebelumnya, ia sangat khawatir karena Dana bersikukuh ingin tinggal di tempat Sad untuk sementara.


"Kalau ada masalah, diselesaikan, jangan lari. Aku temani kamu bertemu mamamu. Ia pasti mengerti." Wisnu coba memberi pengertian pada perempuan itu. Ia memberikan jaket padanya melihat pakaian Dana sedikit basah karena hujan.


Mama terus mencoba untuk menelfon Dana. Ia berada di luar kost menunggu putri kesayangannya itu kembali. Sudah lama sejak Dana pergi meninggalkan mama di kostnya. Mama cemas memikirkan kemana perginya Dana hari itu.


Setelah beberapa jam, Dana muncul dari gerbang depan ditemani Wisnu yang memayunginya. Mama hanya menghela nafas melihat mereka berdua.


"Tante," kata Wisnu membuka pembicaraan.


"Kak, biar aku bicara dengan mama," Dana mencegah laki-laki yang ia cintai itu untuk berbicara dengan mama. Ia tak mau mereka berdebat karena itu akan membuat Wisnu semakin buruk dihadapan mama. Ia tau jika mama dari awal tak menyukai laki-laki pilihannya itu.


"Bicara baik-baik, jangan emosi. Tefon kalau ada sesuatu." Wisnu lalu berpamitan dengan tante Santi. Ia sesekali menengok ke belakang memperhatikan Dana yang berjalan menuju dalam kamar kost nya.


"Ma, mama lihat sendiri kan? kak Wisnu baik ma..." kata Dana pada mamanya itu.


"Mama tau nduk, mama juga tak pernah memaksamu atas Awan. Tapi kamu salah kalau memulai hubungan dengan orang baru tapi kamu dan Awan masih terikat."


"Terikat bagaimana maksud mama? Aku dan Awan sama sekali gak ada hubungan apapun."


"Kenapa kamu gak bilang dari awal kalau kamu mencintai laki-laki lain?"


"Karna mama, aku sangat menghargai mama sebagai mamaku! aku tak mau mengecewakan mama." Dana mulai menangis ketika mengungkapkan isi hatinya. Ia tak tau bagaimana cara menjelaskan semuanya pada mama sekaligus. Mama lalu memeluk anaknya itu. Hatinya merasa bersalah karena terus memaksa Dana untuk menurutinya.


"Mama ngikut kamu, semua terserah kamu sekarang nduk," ia mengusap air mata anak perempuannya itu. Dana hanya mengangguk dan memeluk mama.


Esok harinya, Dana mengantar mama ke stasiun ditemani kak Wisnu. Ia sudah cukup lega melihat sedikit demi sedikit kak Wisnu dekat dengan mamanya.


"Hati-hati tante," kata kak Wisnu pada mama. Dana memeluk mama dan berpamitan dengannya.

__ADS_1


Tak lama, kereta yang ditunggu datang. Mama segera naik kereta sementara Dana dan Wisnu menunggu hingga keretanya berangkat.


kak Wisnu langsung mengantar Dana menuju kantornya. Hari itu adalah hari kerja. Dana sudah izin untuk datang telat kd kantor.


"Makasih udah nemenin nganter mama." Dana menatap laki-laki di sebelahnya itu dengan lekat.


"Sama-sama."


Dana lalu bergegas untuk menuju ruangannya. Perempuan itu langsung membuka komputer didepannya dan membereskan pekerjaanya. Makan siangpun tiba. Dana memang sengaja ingin makan di kantor hari ini. Kak Wisnu juga tak bisa menjemputnya untuk makan siang bersama. Ia sibuk dengan pekerjaannya hari ini.


"Makan dimana Dan?" tanya kak Lita padanya.


"Sama kak Lita di kantin," Dana terseyum melihat kak Lita.


"Tumben, biasanya dijemput si, siapa namanya, Wisnu?"


"Sibuk dia, yok ah laper aku kak," Dana merangkul tangan rekan kerjanya itu. Mereka menaiki lift menuju lantai 1 tempat kantin berada.


"Dan, kebetulan... baru aja mau panggil kamu. Ada yang nyariin." Dana mengerutkan dahi mendengar ucapan kak Rindang. Ia tak punya janji temu dengan siapapun hari ini.


"Siapa?"


"Duh sebentar lupa, tante Hesti kalau gak salah. Dia ada di kantin soalnya aku suruh tunggu disana tadi." kata-kata kak Rindang membuatnya sedikit terkejut. Ia bertanya-tanya mengapa tante Hesti menemuinya hari ini. Tapi sedikit banyak ia tau alasan beliau mampir ke kantor.


Dana berjalan menuju kantin kantor.


Dilihatnya perempuan yang ia kenal itu duduk di meja dekat jendela. Dana terpaksa berpisah tempat duduk dengan rekan kerja lainnya. Dia berjalan menemui perempuan itu.


"Tante," sapa Dana sambil berjabat tangan.

__ADS_1


"Nduk," tante Hesti lalku memeluknya seperti biasa.


"Mamamu telfon tadi, Katanya laki-laki kemarin itu pacarmu?" tanyanya pada Dana.


"Ia tante, kam Wisnu pacar Dana. Sebelumnya Dana minta maaf kalau sudah mengecewakan tante atas perlakuan Dana ini. Tapi, dari awal memang Dana tak ada rasa apapun pada Awan tante, maka dari itu, Dana selalu menolak perjodohan ini. Awan baik kok tante, dia juga jaga Dana ketika pulang kemarin. Tapi mungkin memang kami tidak berjodoh." Tante Hesti hanya menatap Dana lekat-lekat.


"Hati memang tak bisa dipaksa nduk, mungkin tante juga salah karena selalu memaksa Awan. Tante cuma ingin yang terbaik untuk anak tante."


"Dana paham tante, Dana juga pasti akan melakukan yang terbaik jika punya anak nanti. Tapi mungkin tak ada salahnya memdengarkan pilihan anak terlebih dahulu. Dana yakin jika masing-masing dari kita akan lebih bahagia dengan pilihan kita sendiri."


"Tante sudah tau pilihan Awan. Maka dari itu, tante khawatir padanya." Dana menerka apa maksud dari ucapan tante Hesti.


"Kamu sudah pernah bertemu dengan perempuan itu bukan?" tanya tante Hesti untuk yang kedua kalinya.


Dana terlihat terkejut karena ternayata tante Hesti tau jika Awan sudah mempunyai pilihannya sendiri. Ia sangat tak habis pikir dengan tante Hesti. Bagaimana mungkin perempuan itu memaksa Awan untuk dijodohkan dengannya sementara ia tau jika Awan sudah punya kekasih.


"Kamu perempuan baik nduk, kamu pantas untuk bahagia. Tante tak akan ikut campur dengan pilihan kalian. Tante sudah cukup senang jika kamu bahagia dengan laki-laki itu. Tante lihat dia baik."


Dana menangguk dan menggenggam tangan tante Hesti. Ini adalah alasan ia tak pernah bisa menolak kemauan tante Hesti. Tante Hesti sangat baik padanya. Ia sangat tulus menyayangi Dana seperti anaknya sendiri.


Dana lalu mengobrol banyak hal dengan tante Hesti. Tak lupa, mereka memesan makan siang yang ada di kantin. Tante Hesti juga memberikan Dana beberapa camilan untuk dimakan dengan rekan kantornya. Dana sedikit tak enak hati akan sikap tante Hesti yang masih baik meskipun sekali lagi ia menolak perjodohan itu.


Dana mengantar perempuan itu ke depan kantor. Dilihatnya Awan yang telah menunggunya di sana. Awan membukakan pintu mobil untuk tante Hesti. Tak banyak kata yang Awan lontarkan padanya. Hanya pertanyaan basa-basi yang umum ditanyakan.


"Sudah selesai?"


"Sudah."


"Hati-hati di jalan tante, telfon kalau sudah sampaj stasiun ya?" kata Dana pada perempuan itu. Ia melambaikan tangan ketika mobil yang dikendarai Awan melaju di depannya. Hari itu, benar-benar hari disaat tak ada lagi beban yang mengganjal tersisa di hatinya. Ia lega akan mama, kak Wisnu bahkan tante Hesti. Semuanya sudah jelas sehingga tak ada keraguan lagi untuk melangkah ke depan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2