JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
LAGU LAMA


__ADS_3

"Kamu gak dianter tadi?" tanya Awan pada Dana.


"Enggak, kak Wisnu belum pulang. Kalau nunggu dia nanti aku yang telat naik kereta." Awan hanya mengangguk mendengar ucapan Dana.


"Dengerin lagu apa?" Awan memperhatikan headset yang digunakan Dana. Dirinya tak bisa mendengar lagu yang perempuan itu putar karena suaranya sangat kecil. Tak seperti terakhir kali saat mereka berdebat karena lagu uang diputar Dana, saat ini Awan merasa penasaran dengan lagu itu.


"Mau dengerin?" Awan mengambil satu sisi headset dan memasangkannya pada telinganya.


"Ini lagu dah lama banget!" Awan terlihat kaget ketika mendengar lagu yang perempuan itu putar. Dirinya tau betul tentang lagu dari band yang sering ia dengar.


"Tau?"


"Simple Plan, perfect kan?" Awan menjawabnya dengan yakin. Bagaimana laki-laki itu tak tau jika lagu itu hampir setiap hari ia putar di kamarnya. Dirinya sangat menyukai band itu sejak dulu.


"Iya..." Mereka lalu mendengarkan lagu itu bersama-sama. Sesekali Dana menyanyikan lirik lagunya. Awan juga tak jauh beda. Mereka menikmati lagu itu sambil melihat pemandangan dan mengobrol beberapa topik.


Tak lama, kereta berhenti di stasiun pemberhentian. Dana yang sangat lelah dengan pekerjaannya memilih tidur menghadap ke jendela. Awan memilih untuk membaca buku sembari mendengarkan musik yang masih diputar dari playlist milik perempuan itu.


Fokus matanya teralihkan ketika melihat seorang kakek yang dengan pelan berjalan menuju arah mereka. Dibelakangnya terlihat seorang petugas stasiun mendorong kursi roda yang dinaiki seorang nenek. Ia sadar jika mereka adalah pasangan suami istri. Awan refleks membantu kakek itu menaikan tas yang dibawanya. Dirinya juga membantu nenek itu duduk di kursinya.


Awan bergerak sangat hati-hati karena tak mau membangunkan perempuan yang ada di sampingnya. Pasangan suami istri itu duduk di depan Awan dan Dana. Kursi mereka memang saling berhadapan saat itu.


"Terimakasih nak..." kata si kakek pada Awan. Ia hanya menjawab dan tersenyum pada kakek itu.


Dana yang masih pulas dalam tidurnya hampir saja terbentur kaca ketika kereta mulai berangkat dari stasiun. Awan yang melihat hal tersebut lantas menghalangi kepala Dana dengan tangannya.


"Dipindah saja ke pundakmu mas, kasihan istrimu kalau seperti itu." kata si nenek pada Awan. Laki-laki itu lalu menggeser kepala Dana dan menyenderkannya pada pundaknya. dengan perlahan. Jujur dirinya sedikit gugup karena hal itu.


"Pengantin baru ya?" tanya si kakek pada Awan.

__ADS_1


"Enggak kek..." Belum selesai Awan berbicara, nenek sudah menimpali perkataan suaminya.


"Dulu waktu nenek baru menikah juga seperti itu. Setiap hari berantem terus ya? Sekarang malah awet sampe tua." Awan hanya mendengarkan cerita mereka sambil sesekali mengangguk. Tak ada bantahan dari Awan. Menurutnya nendengarkan cerita kedua pesangan itu sangatlah menarik. Ia berfikir jika pernikahan seperti itulah yang diimpikannya.


Setelah beberapa jam tertidur, Dana mulai membuka matanya perlahan. Dilihatnya kini tempat duduk di depannya telah terisi. Perempuan itu melirik sekilas ke sampingnya. Ia merasa ada yang janggal karena posisi tidurnya yang berubah.


Dana menatap laki-laki yang ada di sebelahnya itu. Dirinya sangat kaget karena menjadikan pundak Awan sebagai bantal tidurnya. Dana menegakkan badannya. Jantungnya seperti tak henti-hentinya memompa darah dengan cepat. Membuat detak jantungnya berubah sangat cepat. Ia bahkan takut jika Awan mendengar suara itu.


"Sudah bangun?" Awan menatap perempuan yang terlihat kaget itu dengan tenang.


"Maaf, aku gak tau kalau aku nyender ke kamu pas tidur." Kata Dana masih membenarkan penampilannya yang sedikit berantakan. Waktu itu telah menunjukkan pukul 6 petang. Dana dan Awan bergantian menuju bagian dapur untuk sholat.


Ketika Awan sedang sholat, nenek yang duduk di depannya mengajaknya berbicara.


"Sudah berapa tahun memang menikah?" Dana sedikit kaget dengan kata-kata wanita tua di depannya.


"Baru 3 bulan nek, iyakan sayang?" Jawab Awan yang mendengar ucapan nenek tersebut. Dirinya lalu duduk dan merangkul pundak Dana. Perempuan di sampingnya itu melotot menatapnya. Awan hanya memberi kode untuk mengikuti permainannya.


"Dulu nenek waktu masih baru menikah, langsung diboyong sama suami ke Jakarta. Wah, setiap hari isinya bertengkar terus. Kami itu dijodohkan dulu ya kek?" Kakek hanya mengiyakan perkataan istrinya itu. Laki-laki tua itu tertawa menunjukkan giginya yang sudah tak lagi lengkap. Dana hanya tersenyum melihat kemesraan pasangan di depannya.


Pikirannya tertuju pada Awan yang masih memeluk pundaknya. Entah mengapa saat itu ia tak mengingat sama sekali tentang masalah yang tengah ia alami. Pikirannya begitu tenang mendapati ada seseorang di sebelahnya yang merangkulnya. Ia sadar jika laki-laki itu adalah Awan dan bukanlah Wisnu.


Tak lama, Dana melepaskan pelukan Awan. Ia merasa tak nyaman ketika terlintas di pikirannya bayangan Wisnu. Awan yang sadar akan batas lalu melepaskan tangannya dari pundak kakak kelasnya itu.


Beberapa jam setelah itu, kereta yang mereka naiki talah sampai di tujuan. Awan menurunkan barang bawaan miliknya dan juga milik Dana dari penyimpanan tas di atas mereka. Sementara itu, pasangan suami istri itu masih tertidur pulas karena memang waktu sudah sangat larut. Awan meninggalkan catatan kecil disamping kakek itu. Catatan yang Dana bahkan tak tau apa isinya karena Awan menuliskan itu ketika ia sedang berada di kamar mandi.


Awan dan Dana turun di stasiun Jogja. Dana yang telah memberi kabar pada tante telah di jemput di stasiun.


"Kamu ngasih catatan apa ke kakek tadi?" tanya Dana setelah turun dari kereta.

__ADS_1


"Ada pokoknya, kepo!" kata Awan pada Dana. Mereka lalu berjalan beriringan keluar dari stasiun.


"Dijemput?" tanya Dana pada Awan.


"Enggak, aku nunggu agak terang terus naik bis." Awan mengotak atik handphone yang ada di tanggannya. Ia memesan taxi online untuk menjemputnya menuju ke hotel.


"Berarti nunggu dimana? naik taxi? Bukannya taxi online tak bisa menjemput di sini?" tanya Dana pada Awan.


"Aku jalan keluar nanti." Awan menunjuk arah luar dari stasiun. Tak lama, Tante datang menghampiri mereka.


"Mba?" sapa tante pada Dana. Ia dengan sopan mencium tangan tantenya itu. Dana sedikit bingung bagaimana caranya mengenalkan Awan pada tante.


"Wan, ini tante aku." Awan menjabat tangan tante dengan sopan.


"O iya, mas Awan ya? Dijemput mama nanti?" Tante dangan ramah bertanya pada Awan.


"Enggak tante, ini mau cari taxi, nanti pas sudah terang baru cari bis buat pulang. Papa lagi tugas ke luar kota soalnya jadi gak ada yang jemput."


"Loh, nunggu dimana?"


"Cari penginapan nanti tante,"


"Ke tempat tante saja, dari pada cari hotel kan? Dah ayo! nanti biar sekalian bareng Dana pas dijemput." Tante menyuruh Awan menaiki mobilnya. Dana hanya tersenyum melihat tante menarik Awan.


"Biar Awan yang nyetir tante." Awan yang tidak enak hati lalu menawarkan untuk menyetir mobil tante.


"Bisa? katanya habis kecelakaan?" Awan menengok ke arah Dana. Perempuan itu tau jika Awan bertanya-tanya mengapa tante Dana tau jika ia sempat kecelakaan kemarin.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2