
"Awan?" kata Dana refleks ketika melihat suaminya sedang berdiri di depan pintu kost Arin. Laki-laki itu menatap Dana dengan tatapan sendu. Ia lalu memeluk istrinya erat. Menumpahkan rindunya dalam pelukan yang telah lama tak ia berikan pada Dana.
"Pulang yok?" tanya Awan lembut.
Dana hanya membalas pelukan suaminya tanpa mengucap sepatah katapun. Ia juga merindukan Awan seperti Awan merindukannya. Selama ini ia memutuskan untuk tidak pulang karena ia ingin Awan yang datang menjemputnya. Ia hanya menunggu laki-laki itu mendatanginya, memeluknya seperti sekarang ini. Hati Dana kini menghangat seiring dengan hilangnya rasa cemas yang ia rasakan beberapa hari ini.
Dana melepaskan pelukannya dari Awan. "Sudah tidak marah lagi?" tanya Dana masih menunduk.
"Rindu aku jauh lebih besar dari pada ego ku." jawab Awan menatap Dana lekat. Tatapan teduh yang Awan berikan padanya benar-benar membuat Dana terharu.
"Harusnya aku gak pergi dari rumah, maaf." Dana mengelap air matanya yang tanpa sadar telah menetes mengalir melewati pipinya.
"Harusnya aku jemput kamu lebih cepat." kata Awan mengelus pipi istrinya.
"Udah dramanya?" kata Arin yang kini berdiri di belakang Dana. Ia melipat kedua tangannya di depan dan menatap adegan drama itu dengan seksama.
"Apaan sih? harusnya seneng dong sahabatnya baikkan," kata Dana cemberut.
"Iya seneng, dah Wan bawa balik ini anak satu! pusing aku dia di sini terus, berantakan kost aku!" kata Arin pada Awan.
"Ini kopernya!" Arin pun memberikan koper milik Dana agar segera dibawa pulang.
"Dah tenang aja, semua udh di dalem! nanti kalau ada yang ketinggalan aku kirimin kd rumah kamu, dah ya? bye!" Arin lalu menutup pintu kostnya. Dana hanya keheranan menatap ke arah pintu kost Arin. Ia lalu menatap Awan yang tanpa sadar telah memeluknya karena dorongan Arin ketika menutup pintu. Dana lalu tersenyum geli, senyum manis yang memperlihatkan susunan gigi perempuan itu yang cukup rapih. Awan memperhatikan Dana dengan seksama. Lesung pipi Dana benar-benar membuatnya salah fokus. Ia baru menyadari jika Dana sangat cantik ketika tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa liatin nya sampe kayak gitu?" tanya Dana pada Awan.
"Mata kamu ilang kalo senyum." jawab Awan dengan jujur.
"Ck! dari lahir dah sipit gini. Tapi aku sebenernya gak sipit-sipit amat kan ya?" Dana lalu memandang pantulan wajahnya dari kaca jendela kamar Arin. Ia mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.
"Cantik kok! dah yok pulang?" Awan lalu membawa koper Dana. Ia menggandeng istrinya untuk mengikutinya dari belakang. Dana tersenyum melihat perilaku Awan yang menurutnya romantis.
Dana terus menyender pada pundak Awan ketika di dalam mobil. Tangannya melingkar pada lengan Awan. Ia seakan tak mau melepaskan Awan sedikitpun dari pelukannya.
"Susah nih kalau kamu pegang seperti itu. Mau pindah gigi dimana nih?" kata Awan tersenyum. Sesekali ia melepasakan tangan Dana untuk mengoper gigi. Dana pun menyahut lengan Awan setelah suaminya selesai dengan kegiatannya mengubah gigi mobil.
Dana terus menempel pada Awan sampai masuk ke dalam rumah. Ia bagaikan perangko yang menempel pada surat dengan lem super. Sampailah mereka di dalam kamar. Awan lalu berjalan ke arah kamar mandi setelah meletakkan koper Dana di samping tempat tidur.
"Mau ikut masuk mandi bareng, atau mau di lepas?" tanya Awan pada istrinya.
"Kamu belum mandi? yasudah mandi dulu sana?" kata Dana melepaskan pelukkannya. Ia tampak canggung walaupun Dana mencoba untuk menutupinya.
"Gak mau mandi sama- sama?" bisik Awan tepat di telinga istrinya. Dana menatap Awan dengan mata membulat. Tatapan mereka lalu bertemu, walaupun sudah menjadi istri Awan, jantung Dana benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Jantung Dana seperti mau meledak karena berdetak begitu kencang, Dana sempat khawatir jika Awan mendengar detak jantungnya. Nafasnya yang tertahan akibat jarak keduanya yang cukup dekat pun menyiksa imannya. Awan yang seperti mengerti isi hati Dana pun mulai menjauhkan tubuhnya dari istrinya. Ia menyandar di pintu kamar mandi sembari melipat tangannya.
"Aku kasih 3 detik, kamu harus putuskan, satu, dua,...." belum sampai hitungan ke tiga, perempuan itu sudah berjalan masuk ke kamar mandi. Awan yang melihat Dana sudah ada di dalam kamar mandi, sontak tersenyum dan menutup pintu.
***
__ADS_1
"Mandi dua kali aku sore sama malem," kata Dana yang kini sedang mengeringkan rambutnya di depan meja rias.
"Mau sepuluh kali juga aku jabanin." kata Awan yang sibuk memandangi gerak gerik istrinya. Ia lalu duduk di tepi tempat tidur menghadap ke arah Dana.
"Masuk angin Wan," jawab Dana menengok ke arah Awan.
"Aku gak mau gengsi-gengsi an lagi," Awan bangkit dari posisi duduknya. Ia merangkul Dana dari belakang. Tangan Awan kini telah melingkar di tubuh Dana yang hanya berbalut handuk kimono. "Aku mau kamu malam ini," bisik Awan di telinga istrinya. Dana yang menatap suaminya dari kaca di depannya pun sontak kaget mematung.
Awan mulai menjalankan aksinya. Ia mulai mengecup leher istrinya, menciptakan kegelian yang dirasakan perempuan itu. Dana masih menatap dirinya di depan cermin. Membiarkan Awan dengan perlahan menyingkap kimono miliknya. Jantung wanita itu benar-benar tidak aman, berdetak dengan sembarang seperti sentuhan suaminya. Terlebih lagi Awan sudah membuka tali kimono yang melekat di tubuh mungil itu. Kini pantulan dari bayangan yang ada di cermin menampilkan tubuh polos dari istrinya. Dana berdiri dari tempat duduknya. Membalik tubuhnya menatap Awan. Ia lalu berjinjit untuk meraih bib*r suaminya. Awan membalas c*uman itu dengan lebih menuntut. Ia menjatuhkan Dana di atas tempat tidur, mengungkung istrinya di bawah. Masalah yang mereka hadapi beberapa hari ke belakang seperti hilang begitu saja seiring dengan munculnya kenikmatan yang mereka rasakan.
***
Dana kini tertidur di pelukkan Awan. 'Nyaman' satu kata yang dapat menggambarkan suasana hati perempuan itu. Awan seperti rumah untuknya. Kini ia tak perduli bagaimana perasaan Awan pada nya. Yang ia tau, ia benar-benar telah jatuh cinta pada laki-laki itu. Dana melepaskan pelukkan Awan perlahan agar dapat melihat wajah suaminya. Dana membelai wajah Awan dengan lembut. Tatapannya kini berubah menjadi sendu.
"Aku harap hari ini tak pernah berakhir Wan," kata Dana lirih.
Dana lalu beranjak dari tempat tidur mereka. Ia memungut kimono yang ada di lantai. Memakainya dan berjalan ke luar kamar. Dana menatap ke arah luar lewat jendela rumahnya. Tak lama, Ia berbalik untuk kembali ke kamar. Langkahnya terhenti ketika melihat Awan yang telah berdiri di tengah ruang tamu.
"Kenapa pergi ninggalin aku?" tanya Awan pada istrinya. Dana tak menjawab pertanyaan suaminya. Ia hanya mendatangi Awan dan memeluknya.
"Kalau keluar kamar, pake baju. Aku gak mau ini diliat orang lain." kata Dana menutupi tubuh Awan dengan kimono yang dipakainya. Mengikatkan tali kimono itu pada dirinya dan Awan. Awan tersenyum dan membawa istrinya masuk ke dalam kamar mereka lagi.
Awan menatap istrinya yang saat ini tertidur dengan lelap. Tak henti-hentinya dieinya memuja perempuan yang ada di hadapannya. Awan sama sekali tak menyesal menikah dengan Dana. Tapi ia sangat sadar jika hatinya masih terbagi dengan perempuan lain. Meskipun ia benar-benar berusaha untuk melupakan masa lalunya, tapi empat tahun baginya tidak akan mudah untuk dilupakan hanya dengan beberapa bulan saja.
__ADS_1
...****************...