JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
DRAMA PEKERJAAN


__ADS_3

Saat mereka berdua sedang mengobrol, terdengar bunyi suara HP dari Wisnu. Ternyata suara itu berasal dari seseorang yang menelefonnya.


"Aku angkat dulu ya?" Dana hanya mengangguk mendengarkan ucapan Wisnu.


Setelah selesai menelfon, Wisnu mengantar Dana untuk kembali ke kantor mereka. Dirinya benar-benar merasa tak enak hati dengan Dana karena menolaknya untuk pulang ke kota mereka bersama.


Setelah sampai di kantor Dana hendak melepas sabuk pengaman yang masih mengikat di tubuhnya tetapi, laki-laki di sampingnya itu menahan gerakannya. Wisnu memeluk Dana dengan hangat. Perempuan itu hanya menerima pelukan itu.


Sejenak, tak ada percakapan diantara keduanya. Dana juga tak mengucap satu katapun. Pikirannya masih berkutat pada pertanyaan mengapa kak Wisnu menolak ajakannya.


"Baterai telah terisi penuh." Wisnu melepaskan pelukannya. Dana hanya tersenyum mendengar ucapan laki-laki di sampingnya itu.


"Kabarin kalau sudah sampai." Dana keluar mobil dan berjalan menuju pintu masuk kantornya.


"Dana, kamu kok lama sih? kamu dipanggil sama pak Andan ke ruagannya." Kak Rindang terlihat cemas ketika mencari perempuan itu.


Sedikit banyak ia tau jika alasan dirinya di panggil adalah karena masalah pagi ini. Ia menghembuskan nafas berat dan berjalan menuju ruangan pak Andan.


"Bapak mencari saya?" tanya Dana saat memasukki ruangan pak Andan.


Pak Andan menunjukkan kertas berisikan complain dari client yang diurusnya. Dana menatap kertas itu dari jauh.


"Kamu bisa kan melimpahkan ini pada orang lain jika kamu tak mau mengurusnya? Sekarang client meminta ini diurus tanpa pembayaran." Pak Andan terlihat sedikit kesal dengan sikap Dana yang keras.


"Maaf pak, Saya sudah menerangkan pada client untuk mencari konsultan lain untuk mengatasi masalah ini. Saya telah melakukan sesuai SOP yang berlaku."


"Dan, Kamu berada di dunia yang mengharuskan kamu untuk bernegosiasi. Kamu tau itu?"


"Saya sudah melakukan yang saya bisa pak, kalau client tetap menolak saran dari kita itu bukan lagi ranah saya sebagai konsultan. Jika bapak ingin memotong gaji saya, saya tidak masalah. Tapi, saya sudah melepas kasus ini dan saya tak mau terlibat di dalamnya."


Pak Andan menghela nafasnya. Dirinya tau jika hal tersebut bukan salah dari anak buahnya. Tapi hal tersebut menimbulkan kerugian bagi perusahaan.


"Baik kalau begitu. Rindang akan mengurus ini. Sementara pemeriksaan ini masih berjalan, kamu bisa mengurus client milik Rindang. Dan karena ini berhubungan dengan client, saya mau kamu minta maaf pada mereka."

__ADS_1


Dana terpaksa untuk menyetujuinya. Dirinya memang paham betul jika hal seperti ini suatu saat akan terjadi di pekerjaanya.


Dana keluar ruangan dengan santai. Di luar, kak Rindang dan kak Lita telah menunggunya.


"Gimana?" tanya kak Lita sangat penasaran.


"Selamat kak, kamu dapat client baru." kata Dana pada kak Rindang. Seniornya itu lantas menghela nafas berat.


"Haduh, susah nih. Mana dokumennya?" Kak Lita lalu menepuk-nepuk pundak Rindang.


"Semangat!" kata kak Lita menimpali.


Ketegangan antara mereka bertiga telah usai. Mereka kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.


"Senin kita ke kantor mereka kak." Kata Dana tanpa melihat seniornya itu.


"Untuk?"


"Mengenalkan kak Rindang, dan minta maaf."


Malam harinya setelah pulang dari kantor, perempuan itu mencari tiket untuk pulang besok. Ia juga sudah menyiapkan beberapa baju untuk dibawanya. Setelah beberapa saat mencari, Dana menemukan tiket untuknya pulang. Tak banyak kursi terisi di sana. Mungkin karena ini adalah akhir pekan yang sibuk jadi tak banyak orang bepergian. Dirinya lantas membeli tiket itu segera.


"Jam 4? Aku harus pulang awal besok." Perempuan itu lalu bersiap untuk tidur setelah selesai dengan aktifitasnya.


Esok harinya, Dana berangkat ke kantor lebih awal untuk menyiapkan dokumen Senin depan. Dirinya harus memberikan berkas-berkas terkait perusahaan pada kak Rindang. Seharian, Dana sangat sibuk sampai tak sempat makan siang. Beberapa kali juga telefon dari kak Wisnu tak diangkatnya. Dirinya masih berkutat pada tumpukan kertas yang ada di depannya.


"Kak, ini dokumen perusahaannya." Kata Dana pada kak Rindang.


"Tips menghadapi mereka?" Dana tersenyum mendengar perkataan seniornya itu.


"Kalau aku tau, tak mungkin aku melepaskan clientku kak, sepertinya kak Rindang lebih tau daripada aku." Dana tersenyum pada seniornya itu. Mereka bertukar dokumen dan membahasnya sekilas.


Dana pulang lebih awal karena akan mengejar kereta sore itu. Dirinya langsung pergi ke stasiun tanpa pulang ke kost nya terlebih dahulu. Ia hanya membawa 1 ransel yang sedari tadi ia simpan di bawah mejanya.

__ADS_1


Dana menunggu datangnya kereta. Dirinya duduk di kursi samping peron stasiun.


"Dan?" Terdengar suara yang tak asing di telinga perempuan itu. Dirinya lantas menengok ke sumber suara yang memanggilnya.


"Wan?" Dana tersenyum melihat Awan.


"Balik?" Awan duduk di sebelah Dana.


"Iya, tangannya sudah sembuh?" tanya Dana menunjuk tangan Awan.


"Sudah lepas perban sih." Dana mengangguk mendengar ucapan Awan. Dirinya lega karena laki-laki itu telah sembuh.


"Gerbong berapa?" tanya Dana pada Awan.


"Gerbong 6, kamu?" Dana melihat tiket yang ia pegang sedari tadi.


"Aku 5 Dan."


Tak lama kereta yang akan mereka naiki datang. Mereka masuk ke dalam gerbong sesuai tiket masing-masing.


Dana duduk di kursinya. Tampak beberapa orang menaiki gerbong yang sama dengannya. Sore itu, kereta tampak sangat longgar. Mungkin jika dihitung hanya sekitar 15 orang di sana.


Dana hanya melihat ke luar jendela. Sebenarnya walaupun ia bersikap biasa saja pada masalah yang tengah dihadapinya, ia memikirkan bagaimana caranya meminta maaf pada client itu. Hati nuraninya yang merasa tak bersalah seperti menolak hal tersebut. Ditambah lagi pikiran tentang kak Wisnu terus menghantuinya. Ia tau jika hubungan seperti ini bertahan terlalu lama, mama pasti akan menanyakan ini padanya. Mama tak akan membiarkan dirinya terlalu lama berpacaran tanpa keseriusan di dalamnya.


Tak lama setelah kondektur memeriksa tiket, dirinya melihat orang yang tak asing datang dari arah pintu depan.


"Aku disini ya? AC di dekat kursiku bocor." Awan langsung duduk di sebelah perempuan itu tanpa mendengar jawaban Dana terlebih dahulu. Awan tersenyum melihat ekspresi Dana yang tampak kebingungan menatapnya.


"Gak usah gitu liatinnya." Awan menyentil jidat perempuan di sebelahnya itu.


"Sakit tau!" Dana memukul lengan Awan.


"Aw, ini lebih sakit!" Dana lantas kaget karena ternyata ia memukul lengan Awan tepat di bagian tangannya yang sakit. Dana pun meminta maaf pada Awan. Mereka berdua tertawa karena sikap Awan yang pura-pura sakit.

__ADS_1


Sore itu mereka mengobrol banyak hal lagi. Sesekali Dana dan Awan tertawa karena candaan mereka berdua. Dana juga baru tau jika musik yang disukainya selama ini ternyata didengarkan juga oleh Awan. Ini adalah kecocokan pertama mereka dari sekian ribu hal yang tak cocok diantara Awan dan Dana.


...****************...


__ADS_2