
"Halo mah? Assalamualaikum." kata Awan pada mama Santi di telefon.
"Waalaikumsalam Wan, Dana mana? kok kamu yang angkat telephone nya?" tanya mama Santi menyelidik.
"Dana lagi rebahan mah ini di pangku sama aku. Capek katanya pulang kerja." kata Awan tersenyum.
"Manja sekali dia, mama mau ngobrol sama dia, tolong bangunkan Wan." kata mama pada menantunya itu.
Awan lalu menempelkan handphone milik Dana pada telinga istrinya itu. Dana dengan malas membuka matanya dan bangun dari tidurnya untuk mengangkat telephone dari mama. Dana pergi sedikit menjauh dari Awan. Ia duduk di kursi ruang makan sembari mengambil minum untuk dirinya. Awan hanya memandang punggung istrinya. Matanya mengekor ke arah istrinya pergi. Awan sedikit penasaran mengapa mertuanya itu menelfon istrinya. Tapi, ia berfikir untuk bertanya hal tersebut pada Dana setelah mereka berdua selesai menelephone.
"Halo mah? kenapa?" tanya Dana pada mama.
"Nduk, kamu sudah periksa link yang mama kirimkan?" tanya mama pada anaknya.
"Belum mah, aku baru pulang." kata Dana merubah posisi hp miliknya.
"Mama kirim list catering makanan nya. Kamu pilih ya untuk makanan nya. Terus ini nduk, keluarga kita kan banyak, nah mama rencananya mau booking beberapa kamar di hotel untuk mereka. Menurut kamu bagaimana? mau booking hotel saja, atau kita sewa rumah untuk keluarga?" tanya mama pada anaknya. Dana menghela nafas berat ketika mama mengajaknya berdiskusi tentang pernikahan. Sejujurnya Dana tidak terlalu perduli dengan resepsi pernikahan yang mewah itu. Menurutnya, menikah dengan Awan dengan ijab qabul saja sudah cukup. Ia sudah cukup bahagia menjadi istri dari Awan. Mama berbicara banyak hal di balik telephone. Dana hanya mendengarkan nya dan diam.
"Mama atur saja enaknya bagaimana. Kalau perlu sewa rumah gak papa, daripada mereka gak nyaman juga kan di rumah ramai. Pokoknya mama urus saja ya hal itu, Dana ikut mama saja." Kata Dana pada mama.
"Cateringnya nduk! kamu harus pilih." kata mama mengingatkan anak perempuan nya.
"Dana gak ada request ma, ikut mama saja." Jawab Dana singkat. Awan memperhatikan istrinya itu dari jauh. Sesekali Dana menatap Awan dengan tatapan lelah. Awan akhirnya menghampiri istrinya itu. Ia mengambil telephon Dana dan mulai berbicara pada mama.
__ADS_1
"Halo ma, mama tanya makanan catering ya? Awan ada request nih mah. Mama nanti kirimkan link nya pada Awan ya ma, biar Awan yang pilih. Mama bagaimana kabarnya?" kata Awan bersemangat. Dana tersenyum melihat Awan mengerti akan keadaan nya yang lelah. Ia menggantikan nya berbicara pada mama. Dana lalu berjalan ke arah tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Perlahan matanya yang berat pun terpejam. Awan yang selesai menelfon mama pun menyusul istrinya masuk ke kamar. Ia melihat Dana yang telah tertidur pulas di ranjang.
"Sayang, bangun sebentar. Ganti bajumu dulu, gak nyaman tidur seperti ini nanti." Dana tak menghiraukan kata-kata Awan. Ia hanya berbalik mengganti posisi tidurnya. Awan hanya bisa menarik nafas berat melihat sikap istrinya itu. Akhirnya, Awan hanya bisa menyelimuti tubuh Dana dan tidur di samping tubuh istrinya. Ada kekesalan di hati Awan beberapa hari ini karena Dana. Tapi Awan menahan nya karena ia tak ingin ada perdebatan kecil yang membuat mereka semakin berjarak.
Pagi harinya, Dana bangun lebih awal. Seperti biasa ia melakukan rutinitas ibadah, mandi dan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Tak lupa, Dana menyiapkan bekal untuk Awan.
"Morning Awan!" Sapa Dana sumringah kepada suaminya.
"Morning! Sudah hilang lelahnya?" tanya Awan yang kini duduk di kursi meja makan.
"Sudah, dan aku sudah buatkan sarapan." Kata Dana sembari menyajikan nasi goreng di depan suaminya.
"Terimakasih." Kata Awan pada Dana. Awan lalu menyendok sesuap nasi untuk dirinya.
"Enak? pas tidak?" tanya Dana pada Awan. Ia menunggu reaksi Awan atas nasi goreng yang ia buat.
Hari berganti hari, hingga hari pernikahan yang dinanti-nanti itupun sebentar lagi tiba. Menjelang pernikahan nya, Dana benar-benar sibuk menyiapkan hal-hal di kantor. Ia harus membagi tugas yang harusnya ia kerjakan ke teman-teman kantornya.
"Kak Rindang, aku bulan ini ada 10 client, aku minta tolong kak Rindang pegang pak Wira, pak Aldi sama koh Rico ya? ini deadline nya minggu ini soalnya. Aku sudah kirim ringkasan dari masing-masing client ke email kak Rindang. Lalu untuk PT Kusuma Jaya, ini kan lumayan banyak PR nya, untuk progress nya sudah aku email ke kak Lita. Aku minta tolong kerjasamanya kawan-kawan." kata Dana memohon pada rekan kerjanya itu.
"Baik calon ibu negara." kata kak Lita pada Dana.
"Kamu tenang saja Dan, pokoknya cutimu itu kamu nikmati bener-bener. Kalo perlu kamu gak perlu liat handphone lagi." kata kak Rindang pada Dana.
__ADS_1
"Makasih banyak ya kak," kata Dana tersenyum.
Sore itu, seperti hari-hari sebelumnya, Awan menjemput Dana di kantornya. Dana berlari kecil ketika melihat Awan berdiri di parkiran depan kantor.
"Lama ya?" tanya Dana pada Awan.
"Setengah jam." Jawab Awan tersenyum. Mereka berdua lalu naik mobil dan pulang ke rumah. Sebelum pulang, Dana melihat kak Lita dan Kak Rindang keluar dari kantor bersama.
"Tadi bagaimana di kantor?" tanya Awan pada istrinya.
"Aku lelah Wan." kata Dana menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil. Ia mengatur kursi itu agar nyaman di punggung Dana. "Tapi ya itu, untung ada kak Lita dan kak Rindang. Jadi semuanya sudah beres." Kata Dana tersenyum.
"Awan, ini tissue di mobil habis?" tanya Dana pada suaminya. Ia membuka dashboard mobil Awan.
"Kamu butuh tissue? Nanti aku beli di minimarket." kata Awan.
"Buku apa ini Wan?" tanya Dana pada Awan. Mata perempuan itu tertuju pada sebuah buku berwarna biru yang ada di mobil Awan. Awan bukanlah seseorang yang suka dengan hal-hal berbau bacaan. Oleh karena itu, Ia sangat tertarik dengan buku yang ada di mobil suaminya.
"Punya teman, mau aku kembalikan." Kata Awan pada Dana. "Gak perlu di buka!" sambung Awan.
"Kenapa?" tanya Dana menaruh curiga. Tak biasanya Awan terlihat gugup atau tidak suka jika barang-barang miliknya di sentuh.
Laki-laki itu menarik nafas panjang. Ia terlihat berfikir sejenak sebelum berucap. Awan menemukan minimarket tak jauh dari tempat mereka berkendara. Ia lalu menepi dan memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
"Sayang, ini buku Rachel, album foto. Kamu tak perlu membukanya, karena ini masalaluku. Tidak ada yang penting dari buku ini. Aku cuma mau balikin buku ini ke Rachel. Dia yang minta buku ini, dia bilang mau menyimpannya." Jelas Awan.
Dana terdiam sejenak menatap laki-laki yang ada di depan nya. Memikirkan matang-matang, kata- kata yang akan keluar dari mulutnya. Berbulan-bulan setelah ijab qabul diucapkan. Dana tak pernah mendengar lagi nama perempuan itu. Hatinya terlalu bahagia hidup dengan Awan. Dan detik itu, ia tak siap mendengar nama perempuan lain terucap dari mulut suaminya.