JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
DITINGGAL KENCAN


__ADS_3

Selepas Maghrib, Dana menemani adiknya menonton di depan TV. Shanum mengeluarkan mainan yang ada di dalam kotak mainan. Dana menemani adiknya itu bermain sambil menonton TV. Awan keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka berdua.


"Main apa?" tanya Awan yang kini duduk di samping Dana. Adik sepupu Dana itu lalu memberikan Awan ikan nemo.


"Makan Wan," Dana menyuruh Awan untuk pura-pura memakan ikan itu. Dana lalu tertawa melihat Awan yang menuruti perkataannya.


Tante dan Om lalu muncul dari tangga lantai 2. Mereka sudah berpakaian rapih seperti hendak pergi.


"Loh, tante mau ke mana?" tanya Dana pada tante Eni.


"Kencan lah, mumpung kamu di sini." Kata tante singkat.


"Huuu... kesempatan ya?" kata Dana menatap om dan tante nya.


"Mba Dana mau nitip apa biar om belikan nanti pulangnya." Om Iyan coba merayu ponakannya itu agar mengizinkan mereka berdua untuk keluar rumah.


"Tahu susu, lumpia basah, cilok yang biasanya aku beli, aku juga mau cilor yang di depan gang. Pokoknya pulang harus dapet semuanya." Kata Dana pada om nya itu.


"Gampang..." kata om Iyan. Ia mengeluarkan handphone yang ada di sakunya. Ia memesan semua makanan permintaan Dana melalui aplikasi online.


"Tinggal ditunggu saja makanannya datang. Om sama tante pergi dulu. Wan nitip ini 2 anak ya?" Awan mengangguk dan tersenyum ke arah om Iyan dan tante Eni. Dana hanya melongo melihat om dan tantenya pergi berlalu di depannya. Tante Eni mencium Shanum untuk berpamitan dengan anaknya perempuannya itu.


"Dana, Dana..." Kata Awan pada perempuan yang duduk di sampingnya.


"Kenapa?"


"Kamu mau menghabiskan semuanya?" tanya Awan.

__ADS_1


"Iyalah, kapan lagi bisa makan seperti itu di Jakarta." Kata Dana pada Awan. Hingga pukul 9 malam, om dan tante belum juga pulang. Mereka mengirimi Dana pesan agar menidurkan Shanum pukul 9. Mereka akan menonton film di bioskop sebelum pulang.


"Tante pulang larut, aku mau menidurkan Shanum dulu. Sudah rewel dia." kata Dana menggendong Shanum hendak menuju kamar atas. Tangan Shanum masih memegangi Awan dengan kencang. Ia tak mau lepas dari laki-laki itu. Shanum mulai menangis ketika tangannya dilepaskan dari Awan.


"Mas...mas... sini!" kata Shanum pada Awan.


"Mas nya mau tidur, Shanum sama mba ya?" kata Dana pada adik sepupunya itu. Shanum mulai menangis dan berontak dari gendongan Dana. Akhirnya Awan mengikuti Shanum dan Dana menuju kamar atas.


Dana lalu memeluk Shanum dan tidur di samping adik perempuannya itu. Ia menepuk nepuk punggung Shanum dengan pelan agar adiknya itu segera tidur. Shanum tidur di kamar Dana. Awan merebahkan tubuhnya di sisi lain kasur menghadap ke arah Dana.


"Kamu kalau mau turun gak papa Wan, "Kata Dana lirih.


"Nanti saja, tunggu Shanum pules." Sesekali anak kecil itu masih nenggeliat mengubah posisi tidurnya.


"Kamu sudah seperti ibu anak 1." Kata Awan pada Dana. Ia mengecilkan volume suaranya agar tidak membangunkan Shanum.


"Enak aja, aku gak setua itu." Kata Dana menimpali.


"Sejak Shanum bayi aku sudah sering menggendongnya. Adikku banyak Wan, anak tante 4 anak om 1 adikku 1. Jadi gak mungkin aku gak bisa ngasuh anak kecil. Tapi Shanum termasuk yang gak rewel. Anak tante Ari yang nomor 2 dulu lebih parah." Jelas Dana pada Awan. Laki-laki itu menatap lekat perempuan yang ada di dekatnya. Ia seperti menemukan sosok lain dalam diri perempuan itu.


"Kenapa ngelihatinnya kayak gitu?" tanya Dana yang tak sengaja melihat raut wajah Awan.


"Gak papa." kata Awan pada Dana.


Tak lama Shanumpun terlelap. Dana yang semenjak tadi ada di sampingnya ikut terlelap juga. Awan masih memandangi wajah kakak-kelasnya itu. Entah mengapa banyak hal dari diri perempuan itu yang membuatnya semakin penasaran. Rasanya seperti setiap hari ketika saat ia mengenal Dana lebih dekat, ia terus dikejutkan oleh perilaku perempuan itu.


Awan menyelimuti Dana dan Shanum yang masih pulas terlelap.

__ADS_1


Tak lama, laki-laki itu mendengar suara mobil dari depan rumah. Ia lalu bangun dengan perlahan dari tempat Dana tidur agar tak membangunkannya. Awan berjalan menuju tangga untuk turun ke lantai 1. Laki-laki itu membukakan pintu untuk tante dan om.


"Sudah pada tidur?" tanya tante pada Awan.


"Sudah tante, di kamar Dana." Awan tersenyun menjawab pertanyaan tante. Tante hanya mengangguk mendengar jawaban Awan. Om yang sudah selesai memarkirkan mobil lalu menyusul masuk.


"Belum tidur mas?"


"Belum om, saya kalau tidur itu suka agak larut." kata Awan pada om.


"Mau ngopi dulu?" tanya om pada Awan. Awanpun menyetujui ajakan om Iyan. Mereka berdua duduk di teras depan. Sedangkan tante Eni sudah ada di kamar atas. Sekali ia menengok ke kamar Dana dan Shanum tidur.


"Dana dekat sekali ya om dengan Shanum?" tanya Awan membuka pembicaraan.


"Iya begitu. Adiknya yang lain kan sudah besar-besar. Jadi Dana seperti sangat bersemangat ketika punya adik baru." Om menyeruput kopi yang ada di tangannya.


"Dana itu nurut banget sama orang tua. Gak pernah neko-neko. Makanya om, tante, nenek, kakek semuanya sayang sama dia. Disuruh A ya dilakuin A, Disuruh B ya dilakuin B. Jarang banget ngebangkang." Kata om melanjutkan ucapannya. Awan tersenyum mendengar ucapan om Iyan.


"Mungkin karena anak pertama, cucu pertama kali ya om? Awan juga suka seperti itu soalnya. Gak bisa nolak kemauan orang tua." Kata Awan menanggapi ucapan om Iyan.


"Mungkin sih, om sih cuma berharap dia dapat suami yang baik. Kadang sikapnya itu lo, keras! Tapi, kalau logikanya jalan, akhirnya ya dia nurut. Dari kecil sudah mandiri. Dulu dia ikut neneknya kan di kampung. Sekolah di sana. Jadi dari kecil sudah dilatih apa-apa sendiri." Awan menengok ke arah om Iyan mendengar hal itu.


"Iya om? kenapa memangnya?" tanya Awan penasaran.


"Ya gak papa, dulu kan papanya Dana kerja ke luar pulau. Mamanya kerja di rumah sakit, jadi kadang masuk malam. Dana gak ada yang jagain kalau malam." kata om Iyan padanya. Awan hanya mengangguk mencoba mengerti.


Mereka lalu mengobrol banyak hal. Awan dan juga om Iyan lalu menghabiskan kopi mereka dan masuk ke dalam rumah. Awan kembali ke kamarnya yang ada di lantai 1. Sedangkan om Iyan naik ke lantai 2 menuju kamarnya.

__ADS_1


Awan tak langsung tidur ketika meluruskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia terus terbayang akan Dana. Awan tersenyum ketika mengingat tentang perempuan itu. Entah mengapa menghabiskan waktu bersama Dana benar-benar membantunya menghilangkan ingatan tentang Rachel. Dirinya seperti menemukan sifat lain yang tak dimiliki oleh mantan pacarnya itu.


...****************...


__ADS_2