JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
TERNYATA


__ADS_3

"Nih," Dana membawakan 2 gelas kopi untuk Awan dan om Iyan. Mereka berdua sedang duduk mengobrol dj ruang tamu. Tantenya sedang mandi di atas bersama dengan Shanum. Dana lalu duduk dj sebelah om Iyan.


"Jadi kapan mau diresmikan?" tanya om Iyan pada Awan dan Dana.


"Ih, om ini apa-apaan sih? resmikan apanya?" tanya Dana masih tak mengerti.


"Ya hubungannya, gak baik lama-lama. Om dulu menikah umur 23 lo nduk, kamu bulan depan sudah 24 tahun kan?" kata om Iyan pada Dana. Perempuan itu hanya cemberut dan duduk menyandar ke kursi sambil melipat tangannya. Awan hanya tersenyum melihat tingkah Dana yang kekanak-kanakkan. Menurutnya Dana seperti menunjukkan sisi lain yang tak ia ketahui selama ini. Dan ia suka akan hal itu.


"Mba... sisir rambut." Shanum turun dari tangga mengenakan dress warna biru bersama tante Eni. Rambutnya masih terurai basah.


"Wah udah mandi, sini cium dulu." Dana mencium pipi adik sepupunya itu. Ia lalu menggendong adiknya menuju ke atas untuk menyisir rambutnya. Awan melihat hal tersebut dengan seksama. Matanya terus mengikuti ke arah dimana Dana berjalan. Bibirnya tanpa sadar tersenyum saat melihat keakraban diantara 2 saudara itu. Lagi-lagi Dana membuat Awan melihat sisi lain dari dirinya.


"Cantik ya?" tanya om pada Awan. Om Iyan berhasil membuat Awan tergagap.


"Hah? siapa?" Awan tampak panik menjawab pertanyaan om Iyan.


"Anak saya," kata om Iyan pada Awan dengan santai.


"Oh... iya om," Awan tersenyum mendengar jawaban dari om Iyan.


"Kalau kakaknya gimana?" Tanya om Iyan pada Awan.


"Namanya perempuan ya cantik om." Awan memilih jawaban aman agar tidak menimbulkan praduga tak bersalah atas dirinya.


"Nduk, abis nyisir rambut adik nanti turun ke bawah lagi ya? biar Shanum makan dulu." Tante lalu berbicara pada Dana dari arah dapur. Dana hanya mengiyakan perkataan tante Eni.


"Saya itu baru punya anak setelah 13 tahun menikah. Wah masya Allah mas dulu pas belum punya Shanum. Omongan orang itu pedes beneran. Cobaannya ada saja. Tante itu pas hamil Shanum, tiap hari itu di suntik."


(Seru gak sih kalau ini dijadikan cerita sendiri?)


"Disuntik om?"

__ADS_1


"Iya, tante itu sulit hamil, setiap hamil selalu keguguran. Tapi alhamdulillah dikasih sama Allah anak secantik itu." Tante tersenyum menceritakan pengalamannya pada Awan. Wanita itu duduk di samping om Iyan. Ia masih sibuk mengaduk makanan untuk Shanum. Awan pun tersenyum mendengar cerita pengalaman tante Eni.


"Dulu, yang selalu tante sama om bawa kemana-mana ya si Dana itu. Udah kaya anak sendiri. Makanya ya kalau dia pulang ke sini, ya kaya pulang ke rumah sendiri."


"Dana dekat juga ya om dengan tante Ari?" Awan bertanya pada om Iyan.


"Iya, tante Ari itu kakak saya. Jadi mamanya Dana itu kakak saya yang pertama. Kalau mba Ari itu kakak saya yang nomor 2." Awan hanya mengangguk tanda mengerti.


"Kalau di group keluarga, adanya itu ngomongin kalian terus. Tante sudah gak sabar pingin cepat-cepat buat baju kebaya kembaran sama mba Santi dan mba Ari." Kata tante Eni pada Awan. Awan hanya tersenyum mendengar ucapan tante Eni. Sekarang ia tau kenapa seluruh keluarga Dana seperti sudah mengenal dirinya. Ternyata alasan dari semuanya adalah group keluarga Dana yang sering membicarakan tentang ia dan kakak kelasnya itu.


"Mih..." kata Shanum pada mamanya. Shanum turun dari lantai 2 digendong oleh Dana.


"Masya Allah cantiknya anak mamih. Makan dulu yok nduk?" Dana menurunkan Shanum ke lantai. Adiknya itu memegang erat tangan Dana.


"Suap mba," Kata Shanum yang masih belum sepenuhnya lancar berbicara.


"Suapin mba?" tanya Dana pada Shanum. Ia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan adiknya itu. Shanum mengangguk tanda setuju. Adik kecilnya itu menariknya menuju sepeda roda 3 yang ada di depan pintu masuk.


"Naik, iat mpus." kata Shanum pada Dana.


"Sana sambil jalan ke luar, muter pinggir rumah itu nduk ada kucing warna putih bagus, punya rumah pojok." Kata tante Eni pada Dana.


Awan membantu Dana menaikkan Shanum ke sepeda roda 3 milik Shanum. Awan menemani mereka berdua untuk jalan-jalan di depan rumah om Iyan dan tante Eni.


Dana menyuapi nasi dan sop yang telah tante Eni siapkan. Shanum terlihat sangat lahap memakan makanan yang ada di piring itu. Awan mendorong sepeda yang Shanum naiki. Sesekali mereka berhenti saat Dana menyuapi adik sepupunya. Sementara itu, tante Eni dan om Iyan berada di dalam rumah.


"Sekarang aku tau kenapa semua keluargamu mengenalku." Kata Awan membuka pembicaraan. Dana mengerutkan dahi tanda tak mengerti.


"Memang kenapa?" tanya Dana pada Awan.


"Group keluargamu Dana, kamu gak pernah buka group memangnya?" tanya Awan pada perempuan itu.

__ADS_1


"Hah masa sih? aku itu jarang sekali membuka group. Suka tenggelam soalnya. Kerjaan aku numpuk. Jadi kalau penting memang mending telefon saja." Dana sontak membuka group keluarga miliknya.


"Astaga! iya." Ia kaget ketika banyak sekali percakapan yang membicarakan mereka berdua. Mama seperti sedang melapor pada atasannya tentang kedekatan Dana dan Awan. Sesekali mama memgirimkan foto dirinya dan Awan yang diambil secara diam-diam. Bahkan 5 menit yang lalu tante Eni mengirimkan foto Awan dan Dana yang sedang mendorong sepeda milik Shanum.


Tante Putri


Foto√√ Pasangan muda √√


Dana menatap ke arah Awan. Dirinya merasa tak enak hati akan hal teraebut.


"Sudahlah, mamaku juga suka seperti itu." Kata Awan tersenyum. Dirinya lalu mendorong kembali sepeda milik Shanum. Dana benar-benar merasa malu akan hal itu.


"Mpus!" kata Shanum ketika melihat kucing putih milik tetangganya. Awan yang melihat itu lalu menurunkan Shanum dari sepedanya.


"Mau pegang?" tanya Awan pada Shanum. Adik sepupu Dana itu lalu memegang kucing secara perlahan. Awan masih mengobrol dengan Shanum khas orang dewasa yang mengobrol dengan anak kecil.


"Wan, aku foto deh, lucu." Kata Dana mengambil foto mereka berdua. Dana tersenyum melihat adiknya yang tampak sangat akrab dengan Awan.


"Dah pantes belum?" tanya Awan pada Dana.


"Tinggal cari calonnya." Jawab Dana tertawa kecil. Dana mengirim foto itu pada Awan.


Setelah kucing itu pergi, Awan menaikkan Shanum lagi ke sepeda. "Lap dulu pake tissue basah." Kata Dana pada Awan. Laki-laki itupun membersihkan tangan Shanum dan tangannya.


Setelah makanan yang ada di piring adiknya itu habis, mereka pun pulang ke rumah.


"Masya Allah, mama Dana dan papa Awan." Sambut om Iyan yang ada di depan rumah. Dana yang kesal dengan ledekkan om nya itu lalu memukul pelan om Iyan dengan sendok.


"Ih, apaan sih om ini." Om Iyan hanya tertawa melihat keponakannya yang seperti salah tingkah. Paman dan keponakan itu memang sangat dekat. Julukan yang diberikan oleh keluarga pada mereka berdua adalah kucing dan Anjing. Dulu mereka seringkali bertengkar karena om Iyan yang selalu mengusili ponakkanya itu.


Awan menggendong Shanum dan membawanya ke dalam rumah. Dana menyusul mereka berdua masuk ke dalam rumah om nya itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2