
"Jadi mama sudah tau jika Awan punya pacar?"
"Ya sudah, tante Hesti dan mama kan sudah lama berteman nduk. Tahunan, mana mungkin dia tak menceritakan hal ini kalau mau jodohin kamu sama anaknya." Dana mengendus kesal. Ia mengubah posisi duduknya menyender pada kursi di belakangnya.
"Tapi itu kan kejam ma, maksa orang namanya."
"Nduk, yang namanya hubungan kalau punya perbedaan seperti itu ya susah. Pilihannya cuma menghianati tuhan, atau menghianati pasangan. Jelas Awan tak akan melakukan hal itu. Jadi hanya perempuan itu yang harus memilih. Apa Awan tega membuatnya memilih antara tuhan dan dirinya?"
"Kamu itu, bagaimana dengan pacarmu? Seiman sudah, kok malah belum maju-maju." Dana tak menjawab pertanyaan mamanya. Pikirannya masih berkutat pada Awan dan pacarnya. Ia berfikir jika memeng inilah alasan mereka berdua menyudahi hubungan mereka. Mama memang benar, sangat sulit melanjutkan hubungan jika mempunyai perbedaan seperti itu.
Sesampainya di rumah, Dana langsung mrmbaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dirinya benar-benar lelah hari ini. Ia memilih untuk tidur sampai siang nanti.
30 Panggilan tak terjawab.
Dana bangun pukul 11 siang. Dilihatnya 30 panggilan tak terjawab dari Wisnu. Ia menghela nafasnya. Perempuan itu lalu menelfon Wisnu kembali.
"Halo, kamu dari mana saja sih? aku telfonin kamu dari tadi. Bisa gak kalo telefon tu diangkat? kamu ini kebiasaan tau gak?" Kak Wisnu terdengar sangat marah dari balik telefon.
"Maaf kak, Aku baru bangun tidur ini. Aku capek banget soalnya." Dana menanggapi kemarahan kak Wisnu dengan santai.
"Sampai jam berapa tadi?"
"9 an, tadi mampir dulu ke rumah A..." Dana hampir saja menyebut nama Awan. Ia mennghentikan ucapannya itu. Dirinya berharap kak Wisnu tak mendengar ucapannya.
"Mampir ke rumah siapa?"
"Ais temen aku, dia kemarin kan nikah akunya gak datang. Jadi aku mampir sebentar tadi ngasih kado." Dana benar-benar merasa bersalah atas kebohongannya pada kak Wisnu. Dirinya takut laki-laki itu akan lebih marah lagi kalau saja ia tau dirinya pulang dengan Awan.
Mereka lalu mengobrol singkat sebelum akhirnya mengakhiri panggilan. Dana menghela nafas lega karena kak Wisnu tak curiga padanya.
**
Disisi lain, kak Wisnu benar-benar khawatir pada kekasihnya itu. Ia juga merasa bersalah karena tak jujur soal alasannya tak mengantarkan Dana pulang ke rumahnya. Dirinya takut Dana akan mampir ke rumahnya. Ia sangat tak ingin mempertemukan perempuan itu dengan papanya.
Flashback!
"Cukup pah..." Mama Wisnu memeluk kaki suaminya. Wanita itu menangis sangat keras karena kemarahan suaminya kepada anak pertamanya itu.
"Papa macam apa yang memperlakukan anak dan istrinya seperti ini!"
__ADS_1
"Anak tak tau diuntung! kamu bisa seperti sekarang ini ya karna aku! Bukan laki-laki itu!" Papa menunjuk Wisnu masih dengan raut muka yang sangat marah padanya.
"Setidaknya, papa kandung aku tak pernah menyakiti mama!"
"Orang yang kamu sebut papa itu sudah mati! Kamu tau? yang ngurus kamu, yang biayain sekolah kamu itu saya!"
"Ayo pergi dari sini ma, Wisnu sudah bisa menghidupi mama sendiri!" Wisnu memapah mamanya. Ia ingin membawa mamanya pergi dari neraka yang sudah 15 tahun ia tempati.
Tapi, keadaan berkata lain. Mamanya menolak ajakan Wisnu. Wanita yang sudah babak belur itupun memilih untuk tetap tinggal disana. Bertahan dengan perasaan yang ia sebut cinta. Wisnu menatap nanar wanita itu.
Dari balik pintu kamar, terlihat 2 adiknya yang masih kecil mengintip. Adik tirinya itu menangis melihat hal tersebut. Kedua adiknya itu membekap mulut masing-masing agar suara tangis mereka tak terdengar keluar.
"Pergilah nak, jangan pernah kembali lagi ke rumah ini. Doakan saja kami dari jauh. Mama akan selalu mendoakan kesuksesanmu." Wisnu menangis mendengar ucapan mamanya itu.
Papa kandung Wisnu memang sudah lama meninggal. Ia meninggal ketika Wisnu masih berumur 5 tahun. Dirinya yang merupakan anak tunggal sangat menjaga mamanya yang sangat sedih akibat meninggalnya papa.
1 Tahun kemudian, mama menikah dengan om Herman, papa barunya sekarang.
Awalnya, Om Herman sangat baik pada mereka. Hingga beberapa bulan setelah menikah, sifat asli dari om Herman muncul. Dirinya sering kali bersikap kasar pada mamanya. Dirinya juga sering kali dipukul jika menyebut nama papanya yang telah meninggal.
Beberapa tahun setelah itu, Om Herman merantau untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Setiap pulang ke rumah, om Herman sering kali memukul istrinya. Hal itu terus berlanjut sampai Wisnu tumbuh dewasa.
"Ma, aku sudah lulus sekarang, mama bisa bergantung padaku."
"Mama tetap disini. Kamu pergilah nak!"
Wisnu menangis mendengar ucapan mamanya. Esok harinya, Wisnu yang memang harus berangkat bekerja ke luar pulau harus meninggalkan mamanya sendiri di rumah itu.
Semenjak saat itu, Wisnu tak pernah sekalipun pulang ke rumahnya.
Beberapa tahun setelah Wisnu tak pulang ke rumah, mamanya jatuh sakit. Adik tirinya memberi kabar jika mama mereka dirawat di rumah sakit. Wisnu lalu pulang ke kotanya.
"Nu, ini mba Vega, dia yang selalu jagain mama di sini." Wisnu menyalami perempuan yang dikenalkan mama padanya.
Sudah beberapa bulan Vega merawat mama dari laki-laki itu. Wisnu sangat berterimakasih pada Vega. Perempuan itu adalah saudara jauh mama yang sedang merantau bekerja di kotanya. Wisnu sama sekali tak pernah mengenal Vega.
Setelah mamanya sembuh, Wisnu mengantar mama pulang ke rumah. Kedua adiknya membantu mama untuk menyiapkan tempat tidur untuk mama.
Wisnu meletakan barang-barangnya di kamarnya dulu.
__ADS_1
"Masih ingat rumah kamu?" kata papa pada Wisnu. Laki-laki itu hanya mengabaikan ucapan papa. Dirinya tak mau berdebat karena mama baru saja sembuh dari rumah sakit.
"Mas, ini obat punya mama, saya pulang dulu." Wisnu menerima obat yang diberikan oleh Vega. Wanita itu hanya menunduk tanpa melihat wajah Wisnu.
"Terimakasih," Jawab Wisnu singkat.
Wisnu tinggal di rumah selama 1 minggu. Papa sama sekali tak pernah mengurus mama. Hanya dirinya dan juga kedua adiknya yang mengurus mama.
Suatu hari, papa pulang ke rumah dengan keadaan mabuk parah. Ia dipapah oleh seorang wanita yang tak Wisnu kenal.
"Papa dari mana?"
"Alah, kamu anak kecil tak perlu tau! sana!"
"Mama baru sembuh pa, jangan seperti ini!" Papa mendorong adiknya itu hingga jatuh ke lantai. Wisnu yang sudah tersulut amarah langsung memukul papanya.
"Orang tua A*****! Gak punya o***. Bisa-bisanya berbuat seperti ini pada mamaku!" Beberapa tetangga yang mendengar pertengkaran itu langsung melerai mereka berdua. Mama hanya menangis mendengar hal tersebut. Wanita itu tak bisa berbuat apapun karena ia hanya bisa terbaring di kamarnya.
Wisnu menangis karena ia harus berangkat bekerja. Dirinya meminta izin pada mama untuk berangkat.
"Berangkatlah nak, Mama disini baik-baik saja." Kata mama pada anak laki-lakinya itu.
Wisnu lalu berangkat ke kota untuk bekerja. Beberapa minggu sekali ia pulang ke rumahnya untuk menjenguk mamanya.
1 Tahun kemudian, mamanya sembuh. Wisnu diminta mamanya untuk pulang ke rumah minggu itu.
"Nu, kamu masih ingat kan ini siapa?" tanya mama pada Wisnu.
"Iya ma, mana mungkin Wisnu lupa siapa Vega." Wisnu tersenyum pada perempuan itu. Vega masih menunduk tanpa melihat laki-laki di depannya.
Vega merupakan lulusan pondok di Jawa Timur. Ia merantau di kota ini untuk menjadi guru di salah satu pondok pesantren. Penampilannya benar-benar sangat tertutup walaupun Wisnu masih dapat melihat wajahnya. Menurutnya, Vega adalah wanita yang baik dan solehah.
"Mama ingin menjodohkanmu dengan Vega le, mama berhutang budi pada Vega." Ucapan mamanya itu benar-benar mengagetkannya. Dirinya tak tau apakah harus menerima atau menolak kemauan mamanya.
Semenjak saat itu, Wisnu terus menggantungkan jawabannya. Ia beralasan jika laki-laki harus menikah jika sudah mapan. Mama mengerti apa maksud dari ucapan anaknya. Oleh karena itu, mamanya tak pernah memaksa agar Wisnu cepat-cepat menikahi Vega.
Flashback off!
...****************...
__ADS_1