
"Apaan sih?" Awan tampak berusaha menghindari Dana. Ia berjalan menuju ruang TV untuk menghindari istrinya.
"Wan, setelah aku pikir-pikir kamu sinis sama aku setelah kita ngelakuin itu selamam. Sejak subuh kamu udah sensi sama aku. Kamu kalau nyesel bilang, jangan terus kayak gini." kata Dana yang terlihat sangat kesal dengan tingkah laku Awan.
"Kamu ngomong apa sih Dan, kamu pikir karena itu?"
"Iya, kalau bukan ya karena apa lagi?" Awan hanya menggeleng-gelangkan kepala. Ia menghembuskan nafas dan berlalu meninggalkan Dana.
"Aku belum selesai ngomong ya Wan, duduk sini, kita perlu bicara."
"Gak ada yang perlu dibicarakan." Awan berlalu hendak menuju kamar.
"Menurutku justru banyak yang harus dibicarakan di sini." Awan lalu berbalik dan menatap istrinya.
"Aku capek, aku mau tidur." Awan lalu berjalan lagi menuju kamarnya. Dana yang sudah sangat kesal dengan Awan pun melempar tempat makan itu ke lantai. Membuat makanan yang ada di dalamnya berserakan di lantai ruang tengah. Ia lalu menghampiri Awan yang masih berdiri di dekat pintu kamar.
"Mau terus kayak gini? Oke! kalau kamu gak mau bicara, biar aku yang bicara. I'm so sorry kalau ada yang membuatmu tak suka dengan tingkahku. Mungkin aku kurang baik dalam melayanimu sebagai istri. Tapi kamu keterlaluan memperlakukanku dengan seperti ini Wan! aku nikah sama kamu karena aku pikir kamu bisa jadi parter aku. Aku bisa ngobrol sama kamu dan cari jalan keluar sama-sama atas semua masalah yang pastinya akan kita hadapi. Tapi jujur aku kecewa kalau sikap kamu seperti ini. Komunikasi se-simpel tanya kabar hari ini aja kamu gak lakuin Wan!" Dana menatap wajah Awan lekat-lekat. Ia lalu melanjutkan ucapannya.
"Kamu gak tau kan hari ini aku ulang tahun? gak tau kan hari ini kaki aku kena pecahan kaca waktu ngejar kamu tadi pagi? " Tanpa disadari, air mata perempuan itu sudah menetes melewati pipinya. Dengan cepat ia mengusap air matanya. Ia tak mau terlihat lemah di hadapan siapapun termasuk suaminya. Awan hanya terdiam mendengarkan ucapan Dana. Ia sangat kaget karena ternyata kaki istrinya terluka karenanya.
"Kaki kamu terluka? mana aku liat?" kata Awan berjongkok mencoba untuk meraih kaki perempuan itu.
"Gak usah, kamu capek kan? lebih baik kamu tidur." kata Dana, Ia lalu berjalan menuju kamar. Awan mengusap wajahnya kasar. Ia menyesali perbuatannya.
Ketika membuka pintu kamar, Dana sangat kaget melihat orang yang ada di kamarnya.
"Happy birthday to you..." Mereka adalah mama, adik, dan sahabat-sahabat Dana. Mereka juga tampak kaget melihat Dana membuka pintu kamar tiba-tiba. Mama masih membawa kue yang ada di tangannya. Sementara itu, mama Hesti menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan canggung. Mereka tanpa sengaja mendengar pertengkaran antara Dana dan Awan. Dana hanya menatap mereka dengan kaget.
"Happy birthday Dan," kata Awan memeluk Dana dari belakang. Hal tersebut membuat Dana sangat tidak nyaman. Ia menepis tangan Awan dan berlalu meninggalkan mereka.
"Dan," Awan mrngejar Dana menuju ke luar. Ia menghentikan perempuan itu. "Dan!"
Langkah Dana terhenti ketika Awan memegang lengannya. Perempuan itu lalu menutup separuh wajahnya menggunakan tangannya.
__ADS_1
"Astaga Awan, aku malu banget! kamu keterlaluan ya?" kata Dana memukul lengan Awan.
"Maaf Dan, maaf!"
"Sumpah! kita berdebat di depan orang tua kita Wan, malu aku!" Awan lalu tersenyum dan memeluk istrinya. Dana hanya menenggelamkan wajahnya di dada Awan.
"Jadi cuma acting?" tanya Dana pada Awan.
"Hehe, maafin aku sayang, ide mama ini bukan ide aku." Awan memeluk Dana lagi.
"Terus masalah makanan juga?"
"Iya, niatnya mau aku makan setelah ini. Malah kamu buang."
"Asli gak jelas deh kamu Wan! kaki aku sampai kena kaca waktu ngejar kamu." Perempuan itu tanpa sadar menahan air matanya yang hampir saja jatuh dari pelupuk matanya.
"Maaf sayang, jangan nangis dong." Awan memegang pipi Dana. Ia mengelap air mata yang tersisa di pelupuk mata istrinya. "Mana kakinya yang kena kaca?"
"Yaudah masuk dulu, gak enak mereka nungguin kita." Awan lalu menggendong Dana dan membawanya menuju ke dalam rumah. Dana yang mendapat perlakuan tak terduga dari Awan pun cukup kaget.
"Awan turunin! nanti malu dilihat mama." kata Dana menepuk langan Awan.
"Ya gak papa, kan digendong suaminya." kata Awan tertawa.
Mama cukup kaget melihat Awan menggendong anak perempuannya masuk ke dalam rumah. Tante Hesti hanya tersenyum senang melihat tingkah dari anak dan menantu perempuannya. Teman-teman Dana yang lain yang juga kaget hanya menutup mata mereka dengan tangan masing-masing. Arin bahkan tersenyum melihat tingkah dari temannya.
"Aduh mata aku!" kata Dina
"Salah kita kemari hari ini." kata Tiya
"Ni kapan sih aku nikah, Aji gak ngelamar-ngelamar." kata Difa menimpali.
"Bener-bener ya? abis berantem sekarang bisa mesra-mesraan gitu ya di depan kita?" kata Bila berkacak pinggang.
__ADS_1
"Duh gak kuat liatnya!" kata Wiwi menutup matanya.
"Jadi udah baikan? kalau mau dilanjutin ke kamar boleh loh, kita bisa kok pergi dulu gitu. Ya kan?" kata Arin pada Dana dan Awan.
"Ih apaan sih mba," kata Dana yang kini sudah berdiri di samping Awan. Tangan Awan kini melingkar di pinggang istrinya. Sementara Dana sesekali melepas rangkulan Awan.
"Jadi ide mama?" tanya Dana melipat kedua tanganya di depan.
"Mama aku Dan," kata Awan berbisik di telinga istrinya. Dana yang sudah bersiap untuk mengomel pada mamanya karena Ia mengira sebelumnya hal tersebut adalah ide dari mamanya kini berusaha menyembunyikan rasa kagetnya.
"Makasih banyak mama, ya ampun aku terharu banget dapat kejutan. Seneng banget mama datang ke sini." Dana lalu memeluk mama Hesti.
"Sama-sama sayang, selamat ulang tahun ya?" kata mama Hesti pada menantunya. Dana kini juga menarik mamanya berpelukan dengannya.
"Istri aku memang gak jago bohong." kata Awan kepada teman-teman Dana yang melirik Awan. Ia hanya tersenyum dan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Hari itu, mereka mengadakan pesta di rumah. Adik Dana dan Awan membakar daging di halaman belakang. Sementara itu, Dana dan yang lainnya duduk di ruang tengah sembari mengobrol dan menonton film. Hari itu diakhiri dengan kebahagiaan dan canda tawa dari keluarga dan teman-teman Dana.
Hari ulang tahun pertama Dana dengan status baru sebagai istri dari Awan.
Dana lalu menghampiri Awan yang ada di belakang rumah.
"Niko mana?" tanya Dana pada Awan.
"Ke toilet, udah kamu di dalam saja. Biar aku yang bakar ikannya."
"Aku temani dulu sampai Niko ke sini." kata Dana mengolesi ikan bakar itu dengan bumbu.
"Bilang aja pingin berdua kan sama aku?" tanya Awan spontan.
"Apaan sih, percaya diri banget." kata Dana tersipu malu. Mereka lalu saling bertatapan dan tertawa karena kecanggungan yang masih ada di antara mereka.
...****************...
__ADS_1