
"Yaudah coba kalau kamu mau bahas di sini. Sok coba ceritain, ada urusan apa ketemu sama Rachel?"
"Aku gak sengaja ketemu sama dia di kantor, dia bertengkar dengan rekan kerja aku. Yasudah aku bantu, just it!"
"Kenapa gak cerita aja sih Wan? kenapa kamu malah marah-marah sama aku. Kalaupun kamu cerita yang sebenarnya, aku juga gak akan marah sama kamu. Kenapa kamu berdalih privasi atau apa lah itu?"
"Ya buat apa diceritakan Dan, gak penting!"
"Kalau gak penting kenapa marah?"
"Denger ya Dan, dalam hubungan, aku gak pernah sama sekali ngecek privasi pasangan. Handphone itu privasi. Bahkan sewaktu dengan Rachel aku gak pernah buka HP dia, dan diapun sama."
"Ini beda ya Wan, kamu sudah menikah sekarang! aku hargai kalau kamu punya privasi,"
"Yes! itu kamu tau!" kata Awan menyela.
"Aku belum selesai bicara! aku hargai kalau kamu punya privasi, tapi ini beda Wan! kamu bukan lagi pacaran. Hal sekecil apapun aku perlu tau sebagai istri kamu. Karena apa? masalah kecil apalagi soal perempuan lain, akan jadi besar nantinya. Itu pentingnya aku tekankan sama kamu komunikasi."
"Aku ingin kamu memperlakukan aku sama seperti aku memperlakukan kamu Dan, aku gak pernah menyentuh HP kamu. Dan aku ingin kamu juga sama seperti itu." Dana tak habis pikir dengan ucapan Awan. Ia lalu diam menunduk dan berfikir.
"Sepertinya kamu belum paham dengan kata-kataku Wan, jadi percuma aku ngajak kamu diskusi." Dana melepas sabuk pengaman yang tadi dltelah ia pasang.
"Mau kemana?"
"Aku pulang dengan kak Sad, kamu pulang saja dulu." jelas Dana.
"Kamu gimana sih? apa kata mama kalau aku pulang sendiri."
"Kamu lebih perduli kata mama? pikirkan perkataan aku tadi Wan," Dana lalu keluar dari mobil. Ia berjalan hendak masuk ke dalam gedung.
Sebelum sampai di depan pintu masuk gedung, Dana dikagetkan dengan kedatangan kak Sad.
"Dana?" sapa kak Sad yang melihat adiknya di depan pintu gedung.
"Kak Sad," Dana menghentikan langkahnya.
"Dan," ternyata Awan menyusulnya dari belakang.
"Wan, datang berdua ternyata?" kata kak Sad pada Awan.
"Iya kak," Awan lalu menyalami kak Sad sopan.
"Datang sama siapa kak?" tanya Dana pada kak Sad.
__ADS_1
"Sendiri, Nisa ada seminar soalnya. Gak bisa nemenin." kata kak Sad tersenyum.
"Em... kak aku nanti pulang sama kakak gak papa kan? Awan mau ada kepentingan jadi mau pulang dulu, iya kan Wan?" kata Dana menegaskan kata-katanya.
"Yaudah, jangan kawatir Wan, istri kamu aman. Ada aku, tenang saja." Awan tidak dapat mengelak. Ia pun terdiam sejenak dan menghala nafas pelan.
"Yaudah, nitip Dana ya kak. Aku duluan." Awan lalu pergi setelah berpamitan dengan kak Sad.
Dana hanya menatap suaminya yang pergi menjauh meninggalkan gedung itu. Ia masih memikirkan ucapannya pada Awan. Dana menimang-nimang apakah yang ia lakukan benar atau salah.
"Berantem?" Dana yang merkutat pada lamunannya pun seketika menengok mendengar ucapan kak Sad.
"Enggak," jawab perempuan itu mencoba mengelak.
"Kalau gak bisa bohong, gak usah bohong Dan," kata kak Sad tersenyum.
"Kelihatan ya?" kata Dana balik tersenyum. Kak Sad mengangguk menatap adiknya.
"Dari kecil aku kenal kamu Dan, aku tahu memang kamu gak bisa bohong. Kalau ada masalah, selesaikan! jangan ditunda gak baik." tanya kak Sad pada adiknya. Dana lalu mengangguk mendengar ucapan kak Sad.
"Yasudah kita masuk?" kak Sad menyambung ucapannya.
"Oke," kata Dana singkat.
"Loh kok sendiri? istri kamu mana?" kata mama duduk di samping anak laki-lakinya.
"Masih di tempat nikahan." jawab Awan singkat.
"Terus kenapa kamu di sini?"
"Ya masa aku pulang mama gak seneng?" jawab Awan pada mamanya.
"Pulang gak sama istri setelah menikah, jelas lah mama gak senang." kata mama pada Awan.
"Ma," kata Awan mencoba minta pengertian dari mamanya.
"Ada masalah apa?"tanya mama langsung.
"Gak ada apa-apa."
"Gak mungkin! kamu ngelakuin apa sampai istri kamu marah?" Tanya mama menyelidik kepada anak laki-lakinya.
"Kok mama gitu sih?"
__ADS_1
"Wan! seumur-umur nih, Papa kamu itu gak pernah ninggalin mama kalau datang ke hajatan orang lain. Kenapa? karena dia tau banyak yang akan godain mama di sana. Lah kamu? ninggalin istri kamu di acara orang, gak gentle banget!"
"Dia yang minta. Lagi pula dia sama kakak nya juga." kata Awan menghembuskan nafas berat.
"Terus kamu turutin? Awan, Awan! gemes mama sama kamu ya? bener-bener deh!" mama lalu meninggalkan anak laki-laki nya dan berjalan menuju dapur. Awan hanya menghembuskan nafas berat dan memejamkan matanya.
Dana menyalami beberapa teman SMA nya yang memang datang ke acara itu bertemu dengan Dana. Mereka lalu bercengkrama dengan hangat. Acara pernikahan itu tak berbeda dengan acara reuni sekolah karena tamu yang datang kebanyakan adalah teman, kakak tingkat atau adik tingkat SMA nya.
"Dan," sapa seseorang dari belakang. Itu adalah kak Wisnu. Acara formal yang diadakan di pernikahan itu telah selesai berganti dengan acara semi formal. Wisnu juga menyalami teman-temannya yang datang ke pernikahannya.
"Boleh bicara sebentar?" bisik Wisnu pada Dana.
"Oke," Dana lalu mengikuti kak Wisnu ke samping gedung. "Mau bicara apa kak?"
"Terimakasih sudah datang," kata kak Wisnu pada Dana.
"Iya sama-sama, kak Wisnu narik aku ke sini hanya ingin membicarakan ini?" tanya Dana mengerutkan dahi. Laki-laki itu terlihat berfikir keras sebelum menjawab pertanyaan Dana.
"Are you happy?"
"Yeah! I'm happy, kenapa memangnya?" kata Dana mengerutkan dahi.
"Aku dengar kamu bertengkar dengan Awan tadi." Dana tertawa mendengar ucapan kak Wisnu.
"Jadi menurut kak Wisnu aku gak bahagia karena bertengkar dengan Awan?"
"Aku cuma khawatir sama kamu." Wisnu menatap Dana lekat-lekat.
"Kak, kamu tahu gak kenapa aku datang kesini?" Dana menjeda ucapannya. "Aku datang kesini karena Awan. Dia yang nyuruh aku datang. Dan percaya atau enggak, aku bahagia karena bisa datang kesini. Karena aku bisa lihat kak Wisnu di sini. Memulai hidup baru dengan perempuan yang menurut aku baik untuk kak Wisnu. She looks kind, nice and yeah aku harap kak Wisnu memperlakukan dia lebih baik dari pada kak Wisnu memperlakukanku dulu. Jangan sia-siakan dia kak!" Wisnu mengehala nafas nya. Ia menatap Dana dengan ragu. Ia terlihat gelisah memikirkan sesuatu.
"Kak, sudah jadi takdir tuhan kalau kita tidak berjodoh. Aku harap masing-masing dari kita bisa bahagia dengan jalan masing-masing. Kak Wisnu gak perlu khawatir denganku. Aku sudah punya Awan yang menjagaku. Dan yang terpenting, aku sayang sama dia." kata Dana panjang lebar.
Wisnu tersenyum mendengar ucapan Dana. Tak ada keraguan dari perkataan wanita yang berdiri di depannya itu. Wisnu sadar jika Dana telah bahagia dengan pilihannya. Dan ia sadar jika tak ada lagi tempat di hati Dana yang tersisa untuk dirinya.
"Sepertinya ada yang mencari kamu." kata Dana yang melihat Vega dari kejauhan. Ia terlihat mencari seseorang. Wisnu menengok ke arah Vega.
"Oke, aku harus kembali ke dalam sepertinya."
"Ya," kata Dana tersenyum.
"Take care." kata Wisnu mengelus pundak Dana. Ia berlalu dari hadapan perempuan di depannya dan masuk ke dalam gedung.
...****************...
__ADS_1