JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
PERTANYAAN MAMA


__ADS_3

Handphone Dana berdering beberapa kali. Dana hanya mengabaikan telefon itu. Tak hanya telfon Dana tapi telfon milik Awan juga berbunyi. Dana berfikir sejenak mencari alasan agar tak ada yang curiga.


"Halo ma?"


"Nduk dimana?"


"Di jalan ma, maaf Dana sama Awan harus cepat pulang ke Jakartanya jadi gak bisa mampir rumah."


"Puter balik sekarang, mama tau kamu belum jauh."


"Kita udah jauh ma, minggu depan Dana janji akan pulang." Dana menatap ke arah Awan.


"Mana mama mau ngomong sama Awan." Awan yang mendengar ucapan mama pun meminta handphone Dana.


"Gausah," kata Dana lirih.


"Mana?" Awan lalu mengambil handphone itu dari istrinya.


"Halo ma,"


"Awan, mama minta kamu puter balik sekarang."


"Oke ma, kita puter balik ke rumah mama."


"Mama tunggu di rumah."


Setelah berbicara dengan menantunya, Mama menutup telefon itu.


"Wan gausah, lagi pula ini masalah kita, gak perlu mama ikut campur."


"Udah gak papa." Jawab Awan tersenyum. Dana hanya menghela nafas berat. Ia merapihkan dandanannya agar tidak terlalu berantakan. Tak hanya mama yang menelefon, kak Sad dan Nisa serta keluarga Dana yang lain pun mencoba menelefon Dana.


"Halo kak,"


"Dan dimana?"


"Di jalan, ini sudah mau pulang,"


Kamu gak papa? aku liat mobil Awan ngebut banget tadi."


"Gak papa kak,"


"Yaudah, syukur kalo gak papa. Tante nunggu kamu di rumah. Kalau ada apa-apa kabarin ya?"

__ADS_1


"Iya kak, makasih banyak."


***


Masih di tempat acara, kak Sad menghampiri Wisnu dengan tatapan marahnya. Ia yang tak sengaja menyaksikan pertengkaran Dana dan Awan dari jauh benar-benar marah besar dengan kelakuan Wisnu.


"Nu, mau ngomong sama lo!"


"Sad maaf banget Sad, aku gak bermaksud apapun."


"Aku gak perduli dengan masalalu adik aku dengan kamu. Persetan kamu masih punya perasaan sama dia, kamu belum bisa melupakan dia atau apalah itu. Tapi yang lo harus tau, adik gue udah nikah. Dan dia bahagia dengan pernikahannya."


"Sad aku tau..."


"Kalau lo tau! kalo lo tau, kalau lo cinta dengan dia. Lepasin dia! gue gak mau lagi denger adik gue bertengkar sama suaminya karena lo! inget itu!"


kak Sad meninggalkan kak Wisnu yang masih berdiri di belakang. Ia tampak sangat menyesali perbuatannya karena sudah berbuat hal yang tak sepantasnya ia lakukan.


***


Dana membuka mobil setelah sampai di depan rumah mama. Ia turun dari mobil dan menghampiri mama dan papa nya yang telah berdiri di depan pintu. Mama dengab sigap mengecek keadaan putrinya. Ia cukup lega tak ada luka yang berarti di tubuh Dana kecuali tangan Dana yang memerah.


Perempuan itu lalu memeluk putrinya, menumpahkan rasa lega di hatinya.


"Ma, pa...," Awan menyalami tangan mama dan papa mertuanya. Mama lalu mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah.


"Papa dan mama mau bicara sama kamu Wan," kata papa pada menantunya.


"Iya pa," jawab Awan singkat. Awan dan mertuanya pun keluar dari kamar setelah mengantar Dana beristirahat.


"Ma, bukan salah Awan. Dana yang salah." kata Dana mencegah mama nya pergi dari kamarnya.


"Awan suka kasar sama kamu?" tanya mama serius.


"Gak pernah. Awan baik, dia gak pernah kasar pada Dana." Mama menatap lengan Dana dengan penuh tanda tanya.


"Awan sudah minta maaf, ma... ini pertengkaran rumah tangga biasa." Dana mencoba menjelaskan pada mamanya.


"Mama khawatir sama kamu. Kakakmu bilang Awan menyeret kamu ke mobil dan menyetir sangat kencang. Dia tau kamu ada di mobil itu. Gimana mama gak khawatir?"


"Dana gak papa," jawab Dana mencoba meyakinkan mamanya.


"Dan, cukup sekali mama takut kehilangan kamu karena kecelakaan ya? mama gak bisa liat kamu koma lagi seperti waktu itu."

__ADS_1


"Ma, Awan gak akan biarin Dana seperti itu." Dana menggenggam tangan mama dengan erat.


Mama keluar dari kamar setelah berbicara dengan putrinya. Ia lalu menyusul papa dan Awan di ruang tamu.


'Plak!' mama menampar Awan cukup keras.


"Kalau kamu gak bisa urus anak saya dengan baik, Kamu bisa kembalikan Dana pada kami." kata mama tegas. Awan masih kaget dengan sikap mama mertuanya kepadanya.


"Ma, mama ini apa-apaan sih?" kata papa membela Awan.


Dana yang keluar dari kamar karena mendengar kemarahan mamanya pun kaget ketika tau mama menampar Awan. Awan hanya diam mematung. Ia tau jika dirinya bersalah. Ia juga tau kalau dirinya pantas untuk dipukul dan ditampar.


"Ma!" Dana berlari menghampiri mereka. Ia memegang pipi Awan yang memerah. Menatap wajah suaminya rinci.


"Mama apa-apaan sih! kenapa mama tampar Awan? ma, Dana sudah bilang ke mama, Ini salah Dana! kenapa mama tampar Awan?"


Mama tak menjawab pertanyaan Dana. Ia hanya berlalu meninggalkan mereka. Mama meninggalkan mereka bertiga menuju kamar. Menutup pintu itu dengan keras.


"Are you oke?" tanya Dana panik. Awan hanya mengangguk menjawab ucapan Dana. Papa lalu menyusul mama masuk ke dalam kamar. Dana mendengar samar papa berbicara cukup keras pada mama.


"Mama wajar marah sama aku. Aku bahkan gak tau kamu pernah hampir meninggal karena kecelakaan itu." Awan benar-benar mengutuk ketidak tauannya tentang masa lalu Dana. Ia tak tau jika istrinya pernah hampir meninggal karena kecelakaan motor yang pernah menimpanya beberapa tahun silam.


Dana memeluk Awan erat. Laki-laki itu menangis di pelukkan Dana.


"Maafin aku..." kata Awan memeluk istrinya.


"Wan, aku ini istri kamu. Aku milik kamu, dari ujung rambut aku sampai ujung kaki aku semuanya adalah hak kamu. Semenjak kamu mengucap janji pada Allah, gak ada yang bisa ambil aku dari kamu kecuali Allah. Dan aku akan janjikan itu pada kamu. Jadi kamu gak perlu takut. Aku sayang sama kamu, dan aku jatuh cinta sama kamu."


Dana menatap suaminya dengan tatapan teduh. Tatapan yang benar-benar membuat hati laki-laki itu tenang. Ia merasa bodoh karena brrfikiran macam-macam pada istrinya.


Awan memeluk Dana dalam tidurnya. Dana memandang wajah suaminya. Perempuan itu mengusap wajah Awan lembut. Ia lalu bangkit dari tidurnya. Berdiri perlahan dan meninggalakan Awan yang masih terlelap sore itu. Dana lalu keluar dari kamar untuk mencari mama. Dana melihat mama yang sedang duduk di teras rumah menatap tanaman-tanaman nya.


"Ma," sapa Dana ketika duduk di samping mamanya.


"Dana minta maaf kalau Dana menyinggung perasaan mama. Dana juga minta maaf kalau Awan ada salah."


Mama menggenggam tangan anak perempuannya.


"Mama minta maaf juga ya nduk, mama cuma takut anak mama kenapa-napa. Harusnya mama gak terlalu ikut campur masalah kalian."


"Dana paham kok ma, mama cuma ingin yang terbaik untuk Dana." Dana tersenyum menatap mama.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2