JODOHKU ADIK KELAS

JODOHKU ADIK KELAS
TANGIS KEKECEWAAN


__ADS_3

Dana masih menangis di dalam taxi. Dirinya benar-benar menelan kenyataan pahit karena kak Wisnu memutuskan hubungan dengannya. Perempuan itu memegangi dadanya yang serasa sangat sesak. Lengan gaun yang ia pakai sudah basah terkena air matanya. Sopir taxi pun memberikannya tissue untuk menghapus air mata itu. Ia ingin menumpahkan seluruh kekesalan dan kekecewaannya pada seseorang. Dibukalah handphone yang ada di dalam tas kecil itu. Tak ada teman yang bisa Dana tuju di sana. Ia tak mungkin menghubungi Arin karena teman kuliahnya itu sedang cuti untuk pulang ke kampung halamannya.


Hanya 1 nama yang terlintas di pikiran Dana.


"Awan," Dana memencet nomor telefon laki-laki itu. Dirinya benar-benar kalut tak tau harus kemana. Dibalik telefon, Awan menjawab panggilan dari perempuan yang ia kenal.


"Halo Dan?" sapa Awan singkat.


"Halo Wan, kamu dimama?" Dana terus mengeka air mata yang sedari tadi terus turun tampa diminta.


"Kenapa? kamu nangis?" tanya Awan pada Dana. Dirinya panik ketika mendengar isakan tangis kakak kelasnya itu.


"Aku gak tau harus kemana."


"Kamu dimana? aku jemput sekarang!" Awan sudah bersiap memakai jaket yang menggantung di lemarinya. Dirinya benar-benar panik memikirkan Dana yang sedang menangis sendirian.


"Aku di taxi, boleh aku ke rumahmu?"


"Kamu bisa datang ke rumahku." Dana memberikan alamat rumah Awan ke sopir taxi itu. Dengan cepat, Dana telah sampai di depan rumah. Awan tampak menunggu kedatangan perempuan itu di luar rumah. Dirinya cemas akan keadaan Dana.


Dana turun dari taxi setelah membayar. Dirinya menatap Awan dengan lemah. Air matanya masih mengalir dari sudut matanya. Tanpa aba-aba, Awan memeluk wanita di depannya. Ia biarkan Dana menangis dalam pelukannya. Pikirannya masih bertanya-tanya mengapa perempuan itu menangis. Dana bukanlah tipe orang yang akan mudah untuk bersandar pada orang lain. Ia tau betapa kerasnya perempuan itu.


Awan memapah perempuan itu masuk ke dalam. Dirinya membantu Dana duduk di kursi ruang tengah. Awan dengan cekatan mengambil minum dan memberikannya pada Dana. Perempuan itu mulai mengatur nafas dan mencoba untuk tenang.


"Maaf merepotkanmu." Awan hanya mengusap punggung Dana dan menenangkan perempuan itu.


"Kak Wisnu memutuskan hubungan denganku Wan." Kata Dana masih menangis.

__ADS_1


"Wisnu membuangku sekali lagi."Awan mengerutkan dahi mendengar ucapan Dana. Ia bertanya-tanya mengapa Wisnu mengakhiri hubungannya dengan Dana. Ia tau, Wisnu sangat mencintai perempuan itu. Awan sangat ingat betapa marahnya Wisnu ketika ia datang untuk memperingatkan dirinya akan Rachel.


Awan mengantar Dana ke kamar tamu. Ia tak tega jika harus menyuruh perempuan itu pulang ke kost nya. Dana hanya menurut tanpa berkata apapun. Awan paham betapa sakitnya jika kehilangan orang yang dicintai. Putusnya ia dengan Rachel benar-benar sangat menyiksanya saat itu. Ia paham jika Dana pasti merasakan hal yang sama seperti yang pernah ia alami.


Awan menyelimuti tubuh Dana. Laki-laki itu duduk di pinggir tempat tidur. Awan masih memandangi Dana. Sesekali ia membenahi anak rambut yang menutupi Wajahnya. Tak perlu waktu lama mata perempuan itu pun terpejam. Awan lalu berdiri dari tempat tidur. Ia hendak keluar dari kamar tempat Dana tidur. Tangan Dana meraih Awan sebelum laki-laki itu pergi darinya.


"Wan, boleh kamu disini dulu sampai aku benar-benar tidur?" mendengar perkataan Dana, dirinya pun duduk di kembali di sudut tempat tidur. Ia menyender pada tembok sambil memegang tangan Dana. Sesekali, Awan melihat Dana masih menitihkan air mata. Sesekali juga tangan Awan mengusap air mata itu.


Awan meninggalkan Dana setelah memastikan perempuan itu benar-benar tertidur. Awan menutup pintu kamar sepelan mungkin agar tak membangunkan Dana. Dirinya lalu membuat kopi dan duduk di teras rumahnya. Suasana saat itu benar-benar sendu. Entah itu karena tangisan Dana atau memang malam itu bulan menyembunyikan dirinya. Awan menyeruput kopi yang ada di atas meja. Pikirannya masih bertanya-tanya tentang alasan Wisnu yang memutuskan hubungan dengan Dana.


Setelah menghabiskan kopi yang ia buat, Awan masuk ke dalam rumah dan memutuskan untuk tidur.


Keesokkan harinya, Awan terbangun ketika ia mendengar suara berisik dari dapurnya. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Dirinya mengambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh. Setelah menyelesaikan kewajibannya, ia lalu keluar dari kamar. Dilihatnya Dana yang sedang memasak sesuatu.


"Morning!" kata Dana ramah. Awan sedikit heran karena perempuan itu tak lagi terlihat bersedih. Dirinya lalu menghampiri Dana dan menengok ke arah wajah perempuan itu.


"O iya, aku pinjam baju di lemari. Aku juga ambil sikat gigi yang ada di laci. Duduklah, aku akan memasak untuk sarapan." Dana membalik telur yang sedang ia goreng. Awan hanya menuruti perkataan Dana.


Tak lama setelahnya, Dana menghidangkan makanan untuk sarapan. Terlihat ada 2 telur goreng, 4 potong roti panggang, telur orak arik di sebelahnya dan ada beberapa irisan timun, selada dan tomat.


"Hanya ini yang ada di kulkas, jadi aku cuma buat ini. Sepertinya kamu suka makan roti untuk sarapan."


"Aku tak suka makan berat. Jadi aku hanya akan makan roti untuk sarapan." Dana mengangguk tanda mengerti.


"Kamu kerja?" Dana menggigit roti panggang itu.


"Iya," Awan mengoleskan sedikit mayo di atas rotinya.

__ADS_1


"Hemmm, yasudah. Hari ini aku ambil cuti."


"Kamu ada rencana apa hari ini?" Awan penasaran dan bertanya pada Dana.


"Mau ngilang, aku mau ke Bandung aku."


"Ngapain?"


"Ke tempat saudaraku. Om ku punya rumah di Bandung." Awan hanya mengangguk paham.


Setelah makan dan membereskan makanan, Dana masuk ke kamar tamu. Dana membereskan barang barangnya dan izin pamit untuk pulang ke kost nya.


"Aku antar," Awan yang sedang duduk di ruang tengah lalu berdiri dan mengambil kunci mobil hendak mengantar Dana pulang.


"Gak usah, kamu nanti telat kalau nganter aku."


"Aku ambil cuti hari ini." Dana mengerutkan dahi mendengar ucapan laki-laki itu. Awan berjalan menuju ke pintu depan mendahuluinya. Mata perempuan itu mengikuti ke arah Awan berjalan. Awan lalu berbalik ketika sampai di depan pintu.


"Ayo?" Dana lalu berjalan ke arah luar rumah.


Setelah mengunci pintu, Awan membukakan pintu mobil untuk Dana. Saat mereka ada di mobil, Dana baru sadar jika Awan membawa ransel hitam.


"Buat apa ranselnya?" Awan meletakan ransel itu di tempat duduk bagian tengah mobil.


"Aku ikut ya ke Bandung?" Awan menengok ke arah Dana. Perempuan itu terlihat sedikit kaget melihat ke arah Awan.


"Ngapain?"

__ADS_1


Dana mengerutkan dahi mendengar ucapan Awan.


__ADS_2