
Setelah perjalanan yang panjang, Dana akhirnya tiba di rumah Awan. Mereka lalu beristirahat sebentar sebelum mereka menghadiri pernikahan kak Sad. Awan langsung tertidur pulas setelah sampai. Sedangkan Dana masih sibuk menyiapkan pakaian yang akan ia pakai dan juga tentunya pakaian suaminya. Dana menggantungnya di gantungan baju yang ada di kamar itu. Ia lalu berbaring di sebelah suaminya. Menggirup aroma tubuh Awan benar-benar membuat Dana merasa tenang dan mengantuk.
***
Dana tersenyum ketika mengingat hal yang memalukan yang pernah terjadi di kamar ini beberapa bulan lalu.
Flashback!
(Ingat bab rumah mama?)
Dana mulai memejamkan matanya. Awan tampak tak bisa tidur dengan tenang. Beberapa kali ia mengganti posisi tidurnya dan tentu saja hal itu membuat Dana tak bisa tidur dengan nyenyak.
"Kamu kenapa sih?" tanya Dana yang mulai tak tahan dengan tingkah Awan.
"Aku mau kamu malam ini." kata Awan dengan tegas. Ia sudah tak perduli dengan tanggapan istrinya nanti. Dana hanya mengerutkan dahi mendengar ucapan suaminya.
"Ini di rumah mama Wan." Jawab Dana pelan.
"Ya gak papa, lagi pula kamar mama di bawah, di atas cuma kita." Awan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Ia mulai men c*um Dana dengan lembut.
Perempuan itu telah terbawa permainan suaminya. C*uman lembut yang Awan berikan kini berubah lebih menuntut. Awan dengan perlahan melucuti pakaian istrinya. Dana tersentak kaget ketika tangan Awan mulai menjamah tubuhnya. Ia mendorong Awan dan menatap laki-laki itu dengan nafas yang tak teratur.
"Kamu punya pen****n?"
"Ada, di tas bentar," kata Awan segera mengambil benda yang istrinya maksud.
Laki-laki itu mendorong pelan tubuh istrinya. Mengunc*nya di bawah tubuhnya. Tangan Awan kini telah berkelana entah kemana memberikan sensasi aneh yang dirasakan oleh perempuan itu. Dana mencoba mengimbangi suaminya. C*uman Awan kini telah berpindah ke leher jenjang istrinya. Tangan Awan kini telah menyusup di b***k c****a panjang perempuan itu.
"Awan jangan pakai t****n, Ah!" Awan menatap wajah istrinya dengan puas.
"Matikan lampunya,"
"Gak! aku mau terang." kata Awan menjeda aktifitasnya.
Ditengah-tenagah permainan itu, mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang membuka pintu kamar mereka.
'ceklek!'
"Sayang besok kalian mau sarapan apa?" keduanya kaget setengah mati mendengar seseorang masuk ke dalam kamar mereka. Dana refleks menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia mendorong Awan dengan cepat. Keduanya seperti kucing yang tertangkap basah setelah mencuri ayam milik tuannya. Dana dan Awan tampak canggung dan salah tingkah.
"Ma! bisa ketuk pintu enggak?" kata Awan berteriak pada mamanya.
Mama tampak shock menutup mulut dan matanya. Ia lalu menutup pintu kamar anaknya dengan cepat ketika melihat hal yang seharusnya tidak dilihatnya. "Maaf, maaf ya sayang?" kata mama dari balik pintu.
Dana menatap Awan yang juga menatapnya. Laki-laki itu tampak frustasi karena mama mengganggu mereka. Awan lalu bangkit dari tempat tidur dan mengunci pintu kamar.
Dana terlihat menahan tawanya. Ia kini menutup mulutnya dengan tangan karena melihat tingkah Awan yang menurutnya lucu.
"Seneng? lucu ha!" tanya Awan pada Dana. Ia kini berkacak pinggang menatap ke arah istrinya.
"Lagian sudah tau di rumah mama, gak kunci pintu lagi."
"Ah gatau dah!" kata Awan mengacak rambutnya. Ia lalu duduk di tepi tempat tidur.
"Dilanjutin enggak?" tanya Dana mendekat ke arah Awan yang masih duduk di tepi tempat tidur. Awan menatap istrinya penuh arti. Dana menaikkan alisnya, ia mengulum senyumnya dan menatap ke wajah suaminya. Dana mengalungkan tanganya di leher Awan.
Dana menatap Awan dan membisikkan kalimat di telinga suaminya.
"I'm yours!" Awan menatap Dana dengan tatapan nakalnya. Ia mendorong Dana perlahan. Awan membuka bungkus plastik dari pe*****n yang ada di samping tempat tidurnya.
__ADS_1
"Aku pelan." kata Awan berbisik.
Flashback off!
"Tidur!" suara Awan membuyarkan lamunan perempuan itu. Dana hanya tersenyum dan menuruti perkataan suaminya. Awan memeluk Dana dalam tidurnya. Jujur ia merasa malu jika mengingat kejadian itu.
Pagi harinya, Dana telah bersiap untuk berangkat ke pesta pernikahan kak Sad.
Ia turun ke bawah untuk menyapa mama dan papa mertuanya terlebih dahulu. Awan masih di atas untuk bersiap.
"Mama?" kata Dana memeluk mama mertuanya yang sedang membaca majalah di ruang keluarga.
Perempuan itu lalu duduk di samping mama mertuanya.
"Sudah siap?" tanya mama Hesti pada Dana.
"Sudah, tinggal nunggu Awan." jawab Dana tersenyum.
"Mama belum masak, kalian makan di sana kan? atau mau sarapan dulu?" tanya mama pada Dana.
"Kita makan di sana kok ma," jawab Dana tersenyum. "Papa mana?" tanya Dana celingukan.
"Biasa, masih ada kerjaan. Sibuk terus ngurusin desa, pagi-pagi udah berangkat tadi." jawab mama. "O iya nduk, mama sama papa mungkin agak siangan nanti, nunggu itu papa Awan."
"Oke ma, gak papa kok." kata Dana tersenyum.
Tak lama, Awan turun ke bawah dengan pakaian rapih. "Berangkat sekarang?" tanya Awan pada Dana.
"Yok?" Dana lalu berpamitan dengan mama Hesti dan bergegas berangkat ke tempat acara dengan mobilnya.
"Wait," Dana menarik Awan sebelum masuk ke gedung. Ia merapikan dasi yang Awan pakai.
Dana menggandeng suaminya untuk masuk ke tempat acara. Banyak sekali keluarga Dana yang hadir di sana. Rata-rata adalah keluarga dari pihak papa Dana. Sepupu-sepupu Dana yang lain juga datang ke tempat acara. Dana menyalami mereka satu per satu.
Ia lalu berjalan ke belakang untuk melihat pengantin yang sedang berdandan.
"Nisa, selamat!" kata Dana memeluk teman SMA nya dulu. Ia turut bahagia karena akhirnya kakak sepupunya dapat segera melepas masa lajangnya. "Masya Allah! cantik banget!" kata Dana memuji temannya itu.
"Makasih Dana, bulan depan kamu kan ya? isi belum ini?" tanya Nisa memegang perut Dana.
"Doain aja, jangan isi dulu dong! nanti bajunya ga muat." kata Dana tertawa.
"Udah buat?" tanya Nisa pada temannya.
"Udah, dah siap semua. Tinggal printilan nya aja sih." Mereka lalu mengobrol banyak hal sembari menunggu Nisa selesai dengan make up nya.
Tak lama, kak Sad masuk ke dalam ruang an.
"Heh!" sapa kak Sad.
"Aa! Selamat kakak aku!" kata Dana sangat bersemangat ketika melihat kak Sad dengan jas hitam yang dipakainya. Membuatnya terlihat lebih gagah dari biasanya.
"Bulan depan kan?"
"Iya, gimana rasanya pak mau ijab qabul?" tanya Dana bagaikan watrawan yang sedang mewawancarai narasumbernya.
"Deg-deg an! kamu enak, udah ijab qabul!" kata Kak Sad pada Dana.
"Tanya sama Awan tuh rasanya." kata Dana tertawa. Awan yang sedari tadi duduk di depan ruang rias pun sontak menengok.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya penasaran.
"Ini kak Sad mau tanya," jawab Dana dengan semangat.
"Udah tadi," kata kak Sad menimpali.
"Ini yang mau nikah kalian, yang deg-deg an aku juga!" kata Dana tertawa.
***
Setelah selesai dengan make up, semua yang hadir di acara tersebut pun berkumpul di aula pernikahan. Dana duduk di samping Awan. Mama Santi dan papa serta adiknya baru saja datang.
"Mama lama banget baru dateng?" tanya Dana pada mamanya.
"Dandan tadi makanya lama," katanya tersenyum. Mereka lalu duduk di kursi depan bersama dengan budhe dan tante Dana yang lain. Sementara Niko adiknya duduk bersama dengan sepupu-sepupu mereka yang turut hadir di acara tersebut.
Setelah panas dingin dan perasaan yang tak karuan, akhirnya ijab qabul berjalan dengan lancar. Dana sangat senang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah kak Sad dan Nisa. Acara berlangsung dengan lancar. Dana yang masih termasuk anak muda di keluarganya pun membantu untuk menjaga buku tamu bersama dengan sepupu perempuannya yang lain. Awan duduk tak jauh dari Dana. Terkadang ia mengambilkan Dana makanan atau minuman ketika perempuan itu butuh. Terkadang juga ia membaur dengan sepupu Dana yang lain atau temannya yang datang di acara tersebut.
"Siapa?" tanya Dana ketika Awan menyalami tamu yang datang dan berbincang dengan mereka.
"Gak kenal? itu kak Brian! angkatan atas kak Sad sih, cuma satu pendidikan dulu sama aku. Senior aku," jelas Awan.
"Oh gitu..." Jawab Dana mengangguk tanda mengerti.
Dana melihat mama dan papa mertuanya datang. Ia pun sontak berdiri dan mengantar mereka masuk untuk menemui keluarganya termasuk mama dan papa nya. Awan mengikuti dari belakang. Setelah memastikan mama dan papa mertuanya nyaman di tempat itu, Dana pun kembali ke depan.
"Hai?" sapa kak Wisnu pada Dana.
"Hai? sendiri?" tanya Dana tersenyum.
"Iya, Vega lagi ada urusan soalnya." jawab kak Wisnu pada Dana. "Awan mana?" tanya kak Wisnu ketika tak melihat Awan bersama dengan Dana.
"Di dalam, lagi sama mertua aku tadi. Oh iya ini isi buku tamu dulu." kata Dana.
Setelah selesai, Kak Wisnu lalu berpamitan pada Dana. "Aku masuk dulu ya?" katanya tersenyum. Dana hanya mengangguk menjawab Kak Wisnu.
"Itu mantan kamu bukan sih?" tanya sepupu Dana sedikit berbisik.
"Iya," jawab Dana mengangguk.
"Awan gak marah?" tanya sepupunya sedikit khawatir.
"Kenapa marah? lagi pula dia pasti sudah tau kak Wisnu akan datang. Orang temen sekelas kak Sad," jawab Dana santai. Tak lama, Awan keluar menyusul Dana. Ia dengan cepat duduk di sebalah istrinya.
"Mama papa?" tanya Dana keheranan.
"Masih di dalam,"
"Kok kamu tinggalin?"
"Ya gak papa, aman kok ada mama kamu. Yang gak aman kamu." jawab Awan.
"Liat kak Wisnu tadi?" tanya Dana tersenyum geli.
"Iya, makanya aku ke sini." jawab Awan celingukan.
"Ih gemes," kata Dana mencubut pipi Awan.
...****************...
__ADS_1