
Setelah pulang ke rumah mereka, Dana melihat seluruh barang-barangnya telah tertata rapi di beberapa sudut di rumah itu.
"Udah di tatain?" tanya Dana tersenyum.
"Ya masa aku tinggal di luar sampe pagi?" kata Awan merasa bangga. Dana hanya menaikkan alisnya dan tersenyum.
"Makasih," kata Dana tersenyum.
Ia lalu bersiap-siap untuk pergi bekerja. Hari ini, Dana pergi di antar oleh Awan. Mereka juga berencana untuk sarapan di luar.
Tak lama, keduanya sudah siap dan bergegas untuk masuk ke mobil untuk berangkat ke kantor.
"Sarapan apa?" tanya Awan masih sibuk menyetir mobilnya.
"Apa ya? soto?" tanya Dana pada Awan.
"Boleh, yang enak di sekitar sini di mana?" tanya Awan.
"Ada, coba kamu belok ke kanan. Sepertinya sudah buka sih." kata Dana mengarahkan Awan untuk menuju tempat yang ia maksud.
Tak lama, Dana dan Awan tiba di tempat itu. Mereka lalu masuk untuk makan soto.
"Nanti pulang aku jemput ya?" tanya Awan pada Dana.
"Oke," kata Dana singkat. "Wan, aku beli motor kali ya?" tanya Dana setelah berfikir beberapa saat.
"Kenapa? maksudnya, kalau kamu mau beli kendaraan, beli mobil sekalian lah. Kenapa harus beli motor?"
"Ya, lebih enak pakai motor saja. Apa lagi di Jakarta kan?" kata Dana menjelaskan. Sesekali Ia menyendok makanan yang ada di mangkuknya.
"Kamu yakin sudah bisa naik motor? Lagi pula kalau naik motor kan hujan kamu kehujanan. Aku masih bisa antar jemput kamu juga Dan."
"Sebenarnya aku itu gak trauma naik motor. Cuma mama saja yang over protektif sama aku sampai aku gak boleh naik motor lagi."
"Kalau mama kamu gak ngebolehin, berarti aku juga gak ngebolehin kamu." Kata Awan menatap Dana.
__ADS_1
"Kok gitu?"
"Dan, aku yakin ada alasan kenapa mama kamu gak ngebolehin kamu naik motor. Kalau dipikir-pikir lagi memang kamu juga tak terlalu membutuhkannya, aku masih bisa antar jemput kamu, kalau kamu mau pergi juga kamu bisa pakai mobil aku."
Dana yang mendengar ucapan suaminya itupun akhirnya mengalah pada Awan. Dana yang selalu memikirkan sesuatu menggunakan logika benar-benar tak bisa membantah ucapan Awan.
Setelah makan soto, Awan lalu mengantar Dana ke kantor.
"Hati-hati, jalanan sudah mulai macet soalnya." kata Dana sembari melepas sabuknya.
Awan hanya mengangguk mendengar ucaoan Dana. Perempuan itu pun keluar dari mobil dan melihat Awan melaju dengan mobilnya. Dana menebar senyum sumringah pagi itu. Matanya masih tertuju pada arah Awan pergi.
"Begini ya kalau pengantin baru." kata kak Rindang pada Dana. Perempuan itu sontak menoleh ke kanan dan kiri takut jika ada yang mendengar ucapan rekan kerjanya itu.
"Kak!" kata Dana memberi isyarat diam.
"Gak nyangka sih, ternyata di jodohin bisa adem ayem seperti itu."
"That's long story." kata Dana tersenyum. Mereka berdua lalu masuk ke dalam kantor untuk bekerja.
Tiba-tiba, telefon yang ada di ruangan di divisinya pun berbunyi. Salah satu junior di divisi Dana lalu mengangkat telefon itu.
"Kak Dan, ada yang mencari di bawah." Kata salah satu juniornya.
"Siapa?" tanya Dana singkat.
"Wisnu tadi kak katanya." Dana yang mendengar nama itu sontak menghembuskan nafas kesal. Ia masih tak ingin menemui laki-laki itu.
"Lagi marahan?" tanya kak Lita yang melihat ekspresi Dana yang seperti tak suka.
"Putus!" jawab Dana sembari beranjak dari tempat duduknya. Ia lalu berjalan keluar ruangan untuk menemui Wisnu. Kak Lita hanya menatap keheranan ke arah Dana pergi.
Di lobi, Wisnu tampak duduk menunggu kedatangan Dana. Laki-laki itu sontak berdiri melihat kedatangan wanita itu.
"Dan..." sapa Wisnu tersenyum.
__ADS_1
"Ada kepentingan apa kak Wisnu kemari?" tanya Dana tanpa basa-basi.
"Hanya ingin memberikan ini padamu." kak Wisnu menyodorkan sebuah undangan yang tertulis namanya dan nama perempuan yang sangat asing ditelinganya. 'Vega'. "Aku harap kamu datang. Akadnya Tanggal 25 bulan ini." kata kak Wisnu canggung.
"Terimakasih atas undangannya. Insya Allah saya akan datang." kata Dana singkat. Ia lalu mengambil undangan yang ada di depannya.
"Kenapa kamu gak bilang Dan?" tanya Wisnu pada Dana. "Kenapa kamu tak bilang padaku kalau kamu sudah menikah?" Pertanyaan Kak Wisnu tak membuat Dana gentar sedikitpun. Ia menanggapi ucapan laki-laki itu dengan santai.
"Aku tak punya kewajiban untuk mengatakan atau memberi kabar tentangku padamu kak."
"Kamu benar," jawab Wisnu tersenyum getir.
"Selamat Dan, aku turut bahagia atas pernikahanmu." kata Wisnu menatap Dana dengan teduh. Terlihat di sana ada sedikit kekecewaan dari mata Wisnu. Tapi Dana tau, ada senyum tulus di sana untuknya. Mungkin jika perempuan itu masih bersama Wisnu, ia akan tersentuh oleh senyuman itu. Mungkin jika hatinya masih untuk Wisnu dan masih tertutup untuk siapapun ia akan luluh oleh senyuman laki-laki itu. Tapi kini berbeda. Entah mengapa, hatinya tak lagi merasa luluh akan senyum Wisnu. Baginya kini, senyum itu adalah senyum biasa yang diberikan seorang laki-laki yang tak lagi menempati ruang di hati Dana. Mungkin benar jika cara melupakan paling baik adalah dengan membencinya.
"Terimakasih,"kata Dana singkat.
"Kalau begitu, aku harus pergi sekarang. Aku harus ke kantor."
"Oke, hati-hati." kata Dana singkat. Ia lalu berdiri dan melihat ke arah pintu dimana Wisnu keluar. Setelah memastikan Wisnu telah pergi, Dana lalu bergegas untuk menuju ke ruang kerjanya. Ia lalu meletakan undangan itu di dalam tasnya.
"Kamu seriusan putus?" tanya kak Lita pada Dana ketika rekan kerjanya itu kembali.
"Iya," jawab Dana yang kini hanya menatap layar komputer yang ada di depannya. Ia sama sekali tak ingin menjawab pertanyaan lain dari siapapun tentang Wisnu. Kak Lita yang sepertinya mengertipun tak mengulik banyak hal dari rekan kerjanya itu. Ia hanya mengelus pundak Dana dan kembali bekerja.
Jam telah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Hampir seluruh pegawai di kantornya sudah pulang. Hanya tersisa Dana dan salah satu junior di divisinya. Kak Lita pun memilih untuk pulang lebih cepat hari ini.
Dana menerima panggilan dari Awan. Perempuan itu lalu mengangkat telefon dari suaminya.
"Halo Wan?" sapa Dana dari telefon.
"Sudah selesai kerjanya?" tanya Awan yang sepertinya masih menyetir.
"Belum, kamu pulang saja dulu. Aku sepertinya akan lembur. Mungkin aku pulang selepas maghrib. Nanti aku naik ojek online saja." Dana melirik ke arah jam Dinding yang tertempel di atas pintu keluar divisinya.
"Ya sudah kalau begitu. Semangat kerjanya." kata Awan. Dana hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia lalu menutup telefon dan mulai menyelesaikan pekerjaannya lagi.
__ADS_1
...****************...