Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Malu


__ADS_3

“Pelan-pelan makannya,” tegur Bisma dengan nada yang sangat datar.


Tatapan yang sangat datar, Bisma lontarkan ke arahnya. Ara sampai tidak bisa membedakan mana peduli, dan mana yang sedang mengejeknya.


“Emhh ... inyii yha ... emmhh ... bakwan paling enyakk ....” Ara belum sempat mengunyah habis bakwannya, dan belum sempat juga ia menelannya.


Bisma tidak senang melihat cara makan Ara yang seperti itu, “Makan dulu sih yang bener, baru ngomong!” bentak Bisma yang agak kasar.


Ara menelan bulat-bulat sisa bakwan yang masih ada di mulutnya, kemudian memandangnya dengan sumringah.


“Iya! Ini ya, bakwan paling enak yang pernah aku makan. Jujur, aku nggak bohong, itu rasanya enak banget. Gurih kriuk di luar, tapi lembut banget pas dimakan!” ucap Ara yang berusaha me-review makanan dengan jujur.


“Yaudah habisin semuanya. Gue nggak doyan,” suruh Bisma, membuat Ara hanya bisa melongo kaget mendengarnya.


‘Kenapa Bisma tidak menyukai makanan seenak ini? Apa ada masalah dengan lidahnya?’ batin Ara yang merasa sangat aneh dengan keadaan Bisma.


“Kenapa kamu nggak suka? Ini ‘kan enak banget tau! Apa kamu ada masalah indera pengecapan?” tanya Ara yang terdengar sangat asal.


Bisma menatap Ara dengan tajam, membuatnya tersadar akan statusnya di rumah ini. Ara yang takut, segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Dasar cewek bodoh. Kalau nggak mau, biar gue yang ngabisin!” ujar Bisma, membuat Ara sampai ketakutan mendengarnya.


‘Kapan lagi aku bisa merasakan makanan seenak ini? Aku tidak rela jika ia yang menghabiskan makanan itu!’ batin Ara, yang merasa sangat tidak rela membaginya pada Bisma.


Ara memandangn sendu ke arah Bisma, “Jangan gitu dong ... aku mau deh! Tapi jangan dihabisin, ya?” ujar Ara dengan memelas ke arahnya.


Bisma hanya menatap Ara dingin, “Ya udah, makan semuanya. Gue capek, mau istirahat,” ujar Bisma, yang kemudian meletakkan garpu dan pisau secara menumpuk di atas sisa makanan yang tadi ia makan.


Bisma pun bangkit dari tempat duduknya. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya.

__ADS_1


Bisma memandang ke arah Ara dengan datar, “Nanti sore, temenin gue ke mall. Gue pengen beli beberapa barang,” ucapnya memerintah.


Mendengar perintahnya yang semena-mena, Ara pun hanya diam sembari menatapnya kaget.


‘Apa aku tidak salah dengar? Dia mengajakku ke mall? Untuk apa dia mengajak Gadis desa sepertiku untuk pergi ke mall? Bahkan, aku saja tidak pernah menginjakkan kakiku ke tempat itu,’ batin Ara, merasa sangat kaget dan bingung mendengarnya.


Ara memandang ke arah Bisma dengan bingung, “Apa ... aku boleh ikut?” tanya Ara dengan nada yang sedikit sedih.


Bisma mengernyitkan dahinya, “Kalau gue udah bilang ikut, ya ikut! Gak perlu loe harus nanya lagi.” Jawaban Bisma membuat hati Ara menjadi sedikit lega. Walaupun dengan nada yang seperti itu, dia tetap peduli dengan Ara. Namun, tak bisa dipungkiri, masih ada hal yang mengganjal di hatinya.


“Aku aja nggak pernah jalan-jalan lewatin mall, apalagi sampai masuk ke mall. Kalau di kampung mah, jauh banget jarak dari rumah ke mall. Makanya waktu itu, aku cuma bisa dengar cerita teman aku waktu dia diajak pergi ke mall sama orang tuanya,” tutur Ara panjang lebar.


Tanpa sadar, Ara pun berbicara terlalu banyak seperti ini, karena ia teringat akan masa lalunya, saat ia tinggal di kampung halamannya.


Ara melirik ke arah Bisma yang sedang memelototinya. Spontan, ia pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ara merasa, dirinya sudah terlalu banyak bicara. Sementara diri tahu, Bisma tidak suka jika ia terlalu banyak berbicara.


Ara memandang ke arah Bisma dengan sendu, “Bisma, Bisma ... maafin Ara ya? Ara udah banyak ngomong. Ara tahu Bisma nggak suka kalau Ara bayak ngomong,” ujar Ara dengan nada memelas, seperti anak kecil yang sedang merayu untuk dibelikan sebuah permen.


‘Ada apa dengannya? Aku tidak mengerti, kenapa dia tiba-tiba mendadak menjadi malu?’ batin Ara, yang kembali menegaskan dan melihat ke arah Bisma, dengan tatapan yang lebih tajam.


“Lho, Bisma kenapa? Kok mukanya merah?” tanya Ara, sembari memiringkan kepalanya ke kanan.


Karena merasa Ara yang semakin imut, Bisma pun langsung menutup wajahnya dengan tangan kanannya, kemudian melepaskan kembali tangannya dari wajahnya.


“Nanti sore, jangan lupa!” lirihnya masih dengan rasa malu yang sama, lalu dengan segera ia meninggalkan Ara di sana.


Ara bingung dan menatap ke arah perginya Bisma, “Kenapa Bisma mukanya merah ya?” lirih Ara bertanya-tanya, bingung dengan keadaan Bisma yang seperti itu.


Dua orang pelayan tiba-tiba saja menghampiri Ara, sampai Ara bingung dibuatnya.

__ADS_1


“Non Ara ... tadi gimana caranya bikin den Bisma malu?” tanyanya dengan nada yang terdengar sangat penasaran.


Ara mendelik kaget, “Jadi, tadi Bisma malu?” tanyanya.


“Iya, Non! Udah lama tahu, nggak ngeliat den Bisma malu-malu kayak gitu. Jadi greget ngelihatnya,” sahut pelayan satunya, dengan nada yang sangat imut.


Ara sampai tersenyum dibuatnya, ‘Ternyata mereka semua ingin akrab denganku,’ batinnya.


“Ara juga nggak tahu, Kak. Tiba-tiba Bisma kayak gitu. Ara pikir, Bisma kepanasan makanya mukanya pada merah,” ujar Ara dengan nada yang sangat polos.


Mereka terlihat menahan tawanya, sampai-sampai Ara pun bingung dibuatnya.


“Ternyata benar ya kata mang Ujang. Non Ara itu orangnya polos banget,” ucap pelayan tadi.


“Iya bener. Kalau Non Ara di sini terus-terusan, kita pasti seneng, Non. Karena bisa sembari ketawa juga. Kalau sama-sama den Bisma mah kita tegang nggak ada bercandanya.” Respon pelayan lainnya membenarkan.


Ara tersenyum simpul pada mereka, ‘Kenapa kehidupan disenangi orang lain itu sangat menyenangkan? Jadi seperti ini rasanya! Tapi, dengan statusku yang adalah anak dari wanita panggilan, apa mereka masih mau berteman denganku?’ batin Ara, yang merasa sangat merendah di hadapan mereka.


Ara memandang sendu ke arah mereka, “Kalian ... nggak malu temenan sama Ara?” tanya Ara dengan nada merendah.


Mendengar ucapan Ara itu, mereka tiba-tiba saja terdiam, merasa aneh mendengarnya. Terlihat tatapan bingung dari mereka.


“Lho memangnya Non Ara kenapa?”


“Iya, Non. Kenapa kita harus malu temenan sama Non Ara? Kita di sini tuh ngasih pengabdian kok buat Non sama den Bisma,” ucapnya membuat Ara terenyuh, dan mendadak menjadi mellow.


“Aku takut kalian malu, Aku kan—”


“Ra!” pekik seseorang yang Ara ketahui, itu adalah Bisma.

__ADS_1


Ara seketika menoleh ke arahnya. Para pelayan itu pun dengan cepat segera meninggalkan mereka di sana. Ara kembali melihat ke arah Bisma sembari memanyunkan bibirnya.


__ADS_2