
Morgan mencoba untuk menghubungi Ara, tetapi nomor telepon Ara tidak aktiv sama sekali. Hal itu membuatnya merasa semakin resah saja.
“Duh ... gak aktif pula. Kenapa dia gak nyalahin handphone-nya, sih?” gumamnya, merasa kesal dengan apa yang terjadi.
Morgan kembali menghubungi nomor Ara, tetapi lagi-lagi nomornya tidak aktif seperti sebelumnya. Hal itu membuat Morgan menjadi kesal karenanya.
“Kenapa gak aktif, sih? Gue ‘kan khawatir sama dia! Kenapa dia pake gak masuk sekolah segala, sih?” gumam Morgan, yang lagi-lagi masih bingung dan khawatir dengan keadaan Ara.
Karena keadaan yang mendesaknya, Morgan pun berpikir untuk bertanya pada Bisma. Namun, ia merasa sungkan, karena ia tidak ingin Bisma tahu kalau dirinya dan Ara sudah tidak ada hubungan apa pun lagi.
“Masa sih tanya ke Bisma?” gumam Morgan, yang masih saja berdebat dengan hatinya.
Karena tidak ingin terus-menerus berpikir macam-macam, Morgan pun akhirnya memutuskan untuk menanyakan keberadaan Ara pada Bisma.
“Ah, gak bisa dibiarin! Paling enggak, gue tau keadaan Ara. Gue gak bisa gini, tanpa kabar dari dia,” gumam Morgan, yang benar-benar terlihat sangat bucin.
Karena rasa egoisnya kalah dengan perasa khawatirnya terhadap Ara, Morgan pun akhirnya menghubungi Bisma dengan perasaan yang sebenarnya tidak rela. Ia sebenarnya malas untuk melakukan hal ini, tetapi ia harus tahu keadaan Ara yang sebenarnya.
Beberapa saat menunggu, akhirnya telepon itu pun terhubung. Segera Morgan menanyakan keadaan Ara pada Bisma.
“Halo, Bisma. Lo lagi sama Ara, gak? Kenapa kalian gak masuk sekolah?” tanya Morgan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
Bisma menghela napasnya panjang, “Ara ... sekarang lagi dirawat di rumah sakit,” jawabnya seadanya, sontak membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.
“Apa? Ara dirawat di rumah sakit? Sakit apa?” tanya Morgan dengan sangat kaget.
“Tipes,” jawab Bisma seadanya.
Morgan merasa sangat panik, “Ya udah, gue ke sana sekarang! Kirimin gue nama ruangannya,” ujarnya, Bisma tak memiliki pilihan lagi.
“Ya, nanti gue kirim.” Bisma menyetujuinya, dan merasa sangat tidak bisa berbohong pada Morgan.
Pasalnya, seperti yang Bisma ketahui, Morgan dan Ara masih berhubungan baik. Hal itu yang membuat Bisma sungkan untuk menutupi semua keadaan tentang Ara, karena hanya ia satu-satunya sumber informasi Morgan saat ini.
__ADS_1
“Oke,” ujar Morgan, yang lalu segera memutuskan sambungan telepon mereka.
Morgan menghela napasnya panjang, “Gue harus ke sana sekarang!” ujarnya.
Karena diberi tahu kabar seperti itu dengan Bisma, Morgan pun langsung meluncur ke tempat Ara dirawat. Itu semua karena dirinya sangat sedih, dan kaget dengan keadaan Ara saat ini.
Sementara itu, Bisma hanya bisa memandang ke arah Ara saja. Ia melihat Ara yang sudah terbaring lemah, dengan selang infus yang menempel pada punggun tangannya. Wajah Ara pucat, dan saat ini sedang tidak sadarkan diri.
“Ra ... kenapa lo nakal sih kalau dibilangin? Gue ‘kan udah bilang, lo harus ke rumah sakit dari kemarin-kemarin. Sekarang kalau udah begini, gimana? Terpaksa lo harus dirawat begini,” gumam Bisma, sembari memandang Ara yang terbaring lemah di hadapannya.
Ayahnya datang ke hadapan Ara dan Bisma, membuat perhatian Bisma teralihkan ke arahnya.
“Udah selesai urus administrasinya, Pah?” tanya Bisma.
“Sudah, Ara dirawat di sini dulu aja sementara sampai keadaannya pulih. Papa nitip Ara, karena mungkin Papa gak bisa lama-lama di sini,” ujarnya, Bisma pun mengangguk paham mendengarnya.
“Ya, Bisma pasti jagain Ara,” ujar Bisma, membuat ayahnya senang mendengarnya.
Setengah jam berlalu, Morgan pun akhirnya sampai di rumah sakit tempat Ara dirawat. Ia segera berlarian ke arah ruangan yang telah Bisma kirimkan, dan tepat di depan sebuah ruangan, Bisma dan ayahnya menunggu duduk di kursi depan ruangan.
Bisma dan ayahnya bangkit, dan berdiri di hadapan Morgan yang baru saja tiba di sana.
“Gan, apa kabar?” tanya ayahnya Bisma.
“Baik, Om. Om gimana keadaannya?”
“Baik juga.”
Morgan melirik ke arah ruangan kamar Ara, “Ara ... gimana keadaannya, Om?” tanyanya yang agak ragu untuk menanyakan keadaan Ara pada ayahnya.
Ayah Bisma menjawab, “Ara masih belum sadar. Dia masih di dalam, dan belum boleh dijenguk.”
Morgan mengangguk kecil mendengarnya, “Oh, baiklah. Mungkin saya akan tunggu sampai Ara sadar, Om.”
__ADS_1
“Oh ya, silakan. Izin dulu dengan keluarga kamu, ya. Ini sudah mau malam soalnya,” ujar ayahnya Bisma, Morgan pun mengangguk kecil mendengarnya.
“Baik, Om.” Morgan pun menoleh ke arah Bisma, yang saat ini masih memandang ke arahnya.
“Ayo kita ngobrol bentar ke kantin,” ajak Bisma, Morgan pun mengangguk mendengarnya.
“Oke,” ujar Morgan.
Bisma menoleh ke arah ayahnya, “Pah, nitip Ara sebentar ya. Nanti kalau Ara udah sadar, kabarin Bisma,” ujarnya, ayahnya pun mengangguk kecil mendengarnya.
Bisma dan Morgan pun segera pergi meninggalkan ayahnya, untuk berbincang bersama di kantin. Banyak hal yang ingin Bisma bicarakan pada Morgan, sehingga ia harus memanfaatkan kesempatan ini untuk berbincang dengan Morgan.
Sementara Bisma dan Morgan menuju ke arah kantin rumah sakit, di rumahnya Reza merasa tidak tenang. Ia masih tidak tahu kabar dari Ara, karena hari ini Ara tidak masuk sekolah. Biasanya Ara sangat rajin, bahkan ia tidak pernah sekalipun absen sekolah.
Reza merasa bingung, karena ini kali pertama Ara tidak masuk ke sekolah.
“Ara mana, ya? Kenapa malah perasaan gue yang gak tenang?” gumam Reza, yang mulai cemas dengan apa yang ia pikirkan tentang Ara.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, dan Ara sama sekali belum membuka pesan singkatnya pada aplikasi chat mereka. Hal itu membuat Reza tambah khawatir, karena seharian ini Ara diketahui tidak memegang handphone-nya.
“Ara ke mana, sih? Kenapa dia gak bisa dihubungin juga dari tadi?” gumam Reza, khawatir dengan keadaan Ara.
Karena saking khawatirnya ia dengan Ara, ia sampai berpikir untu menghubungi Bisma, orang yang sudah membuatnya malu di hadapan Ara.
“Masa sih gue harus tanya sama Bisma? Apa dia mau jawab pertanyaan gue?” gumam Reza, bingung dengan keadaan yang ada.
Karena Reza sangat terdesak, ia pun akhirnya memutuskan untuk menghubungi ayahnya Bisma. Walaupun sangat malu, tetapi ia harus tahu dengan keadaan Ara yang sebenarnya.
Setelah beberapa saat menunggu, telepon mereka pun terhubung. Reza sempat tersentak, karena ternyata orang super sibuk seperti ayahnya Bisma saja, bisa menerima telepon darinya.
“Eh? Halo ... Om,” sapa Reza.
“Maaf, ini dengan siapa ya?” tanya ayahnya Bisma, Reza pun menghela napasnya dengan panjang.
__ADS_1
“Saya Reza, Om. Temannya Ara,” jawab Reza, ayahnya Ara sampai baru tersadar dengan ucapannya itu.