
“Emang hubungan lo sama Bisma gimana sih?” tanya Reza, yang akhirnya memiliki kesempatan bertanya seperti ini pada Ara.
‘Sebenarnya ... ada hubungan apa antara dia dan juga Bisma? Aku masih tak habis pikir dengannya,’ batin Reza benar-benar penasaran dengan hubungan Ara dan juga Bisma.
“Emangnya ... Reza masih belum tahu, ya?” tanya Ara, Reza hanya menggeleng kecil karena memang ia sama sekali tidak tahu dengan kejadian yang sebenarnya.
‘Kenapa Siti bisa sampai tinggal di rumah semewah ini? Apa benar kata mereka yang sudah mem-bully Siti waktu itu, kalau Siti hanyalah anak biologis saja?’ batin Reza.
“Aku sama Bisma itu—”
“Kepo.”
Seseorang memotong ucapan Ara. Dengan spontan Reza pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Di sana, terlihat Bisma yang sedang menyedekapkan tangannya. Reza tak habis pikir dengan Bisma, yang kelihatannya sangat senang muncul di saat-saat penting irinya dan juga Ara.
Bisma memandang Ara dan juga Reza dangan tatapan datar. ‘Aku tak menyangka, tebakanku mengenai Reza benar. Kalau saja aku lebih lama datang, pasti Ara sudah pergi bersamanya tadi,’ batinnya, benar-benar sangat kesal melihat pemandangan ini di hadapannya.
“Bisma!” pekik Ara, membuat Bisma menatapnya tajam.
“Enak lo ya, di rumah berdua-duaan sama cowok asing?” cerca Bisma, Ara terlihat menunduk takut karena mendengar ucapan Bisma.
“Gak gitu Bis ...,” tepis Ara lirih, sembari tetap menundukkan pandangannya.
Bisma membuang pandangannya dari Ara. Ia sudah muak dengan semua ini, karena ia merasa kalah satu langkah dari Reza. Bisma merasa sudah gagal, sehingga perasaan ini terus menggerogotinya. Bisma terlalu takut bersaing dengan Reza.
“Pokoknya, gue gak mau ngeliat dia di sini lagi. Terserah lo mau gimana!” bentak Bisma dengan nada tinggi, lalu segera berjalan melewati Reza dan berdiri tepat di sebelahnya.
__ADS_1
“Pergi loe dari rumah gue,” lirih Bisma dingin, sementara Reza terlihat sedang menoleh ke arahnya. Bisma benar-benar tak memedulikannya dan malah berlalu meninggalkan mereka di sana.
Baru beberapa langkah ia berjalan, Bisma melihat Ujang yang baru saja datang.
“Ada apa Den ribut-ribut?” tanyanya.
“Ah. Kebetulan. Usir orang ini ....” Bisma menunjuk lantang ke arah Reza, yang kini sedang berdiri dengan bergeming, sembari memerhatikannya. “Jangan pernah izinin dia masuk lagi ke rumah ini,” tambahnya, masih dengan suara yang datar, kemudian pergi dari hadapan mereka semua.
Hanya ini yang bisa Bisma lakukan untuk menjaga Ara. Untung saja Reza tidak mempunyai hasrat untuk berbuat macam-macam pada Ara. Tak bisa dipungkiri, Reza juga seorang laki-laki yang pastinya memiliki hawa nafsu. Bisma sama sekali tidak ingin membiarkan rumah ini sampai dinodai olehnya.
Bisma meninggalkan Ara dan juga Reza di sana, membuat Ara tak berani memandang Reza saat ini. Ara hanya bisa menunduk, tak tahu harus berkata apa. Ia juga berusaha untuk menahan air matanya yang sudah menggenang. Ia melakukannya, karena tidak ingin membuat Reza khawatir tentang keadaanya.
Melihat Ara yang sepertinya hendak menangis, Reza pun segera mendekatinya membuat Ara spontan menoleh ke arahnya.
“Jangan takut ... ini bukan salah lo kok, Siti,” ujar Reza dengan lirih, karena ia membisikkan dengan dekat ke telinga Ara.
“Gak usah diusir, Mang Ujang. Saya bisa jalan ke pintu keluar sendiri,” ujar Reza, membuat Ara tidak tega mendengar Reza mengatakan demikian.
‘Padahal ... dia datang dengan niat baik, tapi kenapa jadi seperti ini?’ batin Ara, benar-benar sangat menyesali apa yang terjadi pada Reza.
“Gue pamit. Sampai jumpa besok di sekolah,” pamit Reza, yang terdengar sendu.
Ara pun menoleh ke arah Reza, yang sudah membalikkan tubuhnya. Ia merasa tidak enak sekali dengan Reza, karena keadaan seperti ini.
Reza pun pergi meninggalkan Ara dengan gontai, tetapi pikirannya masih tak habis pikir dengan yang terjadi ini.
__ADS_1
‘Kenapa Bisma selalu datang di waktu yang tidak tepat? Seandainya Reza lebih cepat datang, kami bertiga tidak akan berpapasan seperti ini, bukan?’ batin Ara, benar-benar tidak menyangka kejadiannya akan jadi seperti ini.
Karena sudah tidak ada yang bisa Ara lakukan, ia pun kembali menuju kamarnya. Ketika ia sampai di kamarnya, ia menghempaskan dirinya ke atas ranjang dan menutup wajahya dengan kedua tangannya. Ia benar-benar tidak habis pikir, dan bingung harus mencerna semua yang terjadi di antara mereka.
Ara menghela napas panjang, dan berusaha mencerna sesuatu yang sudah terjadi. ‘Kenapa Bisma melakukan hal sekasar itu? Mengapa Bisma sampai harus mengusir Reza dari sini? Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, sampai mereka menjadi seperti ini sekarang? Kenapa sangat sulit untuk memilih antara Kakak dan juga sahabat? Kenapa bisa jadi seperti ini?’ batin Ara, yang terus-menerus bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
Tiba-tiba saja terdengar suara yang kencang, seperti ada benda yang jatuh. Spontan, Ara pun menoleh ke arah sumber suara. Ia mendapati Bisma yang sedang berdiri di hadapannya. Terlihat juga sebuah nampan berisi sepiring nasi, lengkap dengan buah dan air.
Melihat kedatangan Bisma itu, Ara pun segera bangkit dari tempatnya berbaring.
“Bisma?” gumam Ara, tak percaya dengan kedatangan Bisma ke kamarnya itu.
“Gue tau, lo pasti belum makan. Nih gue bawain makanan buat lo,” ucapnya dingin, tanpa melihat ke arah Ara.
Sikap Bisma yang seperti ini, benar-benar membuat Ara menjadi bingung. ‘Ada apa dengannya? Seperti marah, tapi perhatian sekali padaku,’ batin Ara heran melihatnya.
“Bisma marah sama Ara?” tanya Ara dengan nada sendu.
Bisma sama sekali tidak melihat ke arahnya, membuat Ara merasa semakin bersalah saja padanya.
‘Mana bisa gue marah sama lo?’ batin Bisma, yang tidak ingin mengungkapkannya di hadapan Ara. Ia lebih memilih untuk menjaga image-nya di hadapan Ara.
“Jangan lupa, habis makan ... cuci piring,” ujar Bisma dengan nada yang seenaknya saja, kemudian pergi entah ke mana meninggalkan Ara seorang diri.
Ara memandang kepergian Bisma dengan heran, ‘Kalau dipikir kembali ... kenapa Bisma sangat peduli padaku? Padahal, dia mungkin saja sedang marah saat ini. Tapi kenapa ... dia menyempatkan diri untuk mengantarkan makanan untukku? Kenapa dia tidak menyuruh pelayan saja yang mengantarkannya ke kamarku?’ batin Ara benar-benar heran dan tak habis pikir dengan apa yang Bisma lakukan itu.
__ADS_1
Ara menghela napasnya panjang, “Bisma aneh banget! Kenapa sih, dia nggak ngebolehin Ara dekat sama Reza? Padahal, Reza baik banget sama Ara. Reza selalu nolong Ara kalau Ara lagi dalam masalah, atau lagi butuh pertolongan,” lirih Ara, yang selalu bertanya-tanya dengan keadaan yang terjadi.