Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Sengaja


__ADS_3

“Heran ya, kenapa jadi caper banget jadi orang?” ucap seorang gadis, dari arah belakang Ara.


Mendengar ucapan gais itu, Ara pun terdiam sejenak. Ternyata, Fla yang ingin mencari masalah dengan Ara. Namun sebisa mungkin Ara berusaha untuk tidak menghiraukannya, dan melanjutkan untuk merapikan barang-barangnya.


“Iya, ganggu pemandangan aja.”


“Hadeh, bikin mata sakit. Pengen ngegodain yang lainnya mungkin?”


Suara mereka bersahutan, membuat telinga Ara sakit dan merasa terganggu.


Karena sudah terlalu kesal, Ara pun spontan melihat ke arah mereka semua yang sudah bersikap di luar batas. Ara menggebrak meja di hadapan mereka, membuat mereka merasa sangat kaget melihat kelakukan Ara yang seperti itu.


“Kalian kenapa sih, selalu gangguin Ara? Emangnya Ara salah apa sama kalian?” tanya Ara dengan spontan, karena mereka yang sudah membuatnya merasa jengkel.


Tak terima dengan bentakan Ara, Fla pun mendelik dan melayangkan tangannya ke arah wajah Ara.


“Berani loe sama gue—”


DRING!


Fla hampir saja melayangkan tangannya ke arah wajah Ara. Untung saja bel masuk pelajaran pertama berbunyi tepat pada waktunya, sehingga Ara bisa selamat kali ini dari Fla.


“Sial! Awas loe!” geramnya, lalu segera pergi meninggalkan Ara, disusul dengan teman-temannya yang lain.


Ara merasa heran dengan apa yang baru saja ia lakukan. ‘Kenapa aku bisa mempunyai keberanian seperti ini? Biasanya pun aku tidak merespon yang mereka katakan. Aku hanya mendengarkan, sembari menahan hatiku yang tersayat,’ batinnya.


Karena pelajaran yang sudah dimulai, Ara pun segera melanjutkan pembelajarannya dengan segera.


***


Jam istirahat tiba. Terlihat Morgan yang sedang membawa sesuatu di tangannya. Ia berjalan menuju kelas Ara, karena ia ingin sekali memberikan Ara makan siang. Morgan merasa ada kecanggungan antara dirinya dan Ara, dan sepertinya mereka tidak berkomunikasi dengan baik setelah ia mengantarkan Ara pulang kemarin. Morgan jadi merasa tidak enak dengan Ara.


‘Kemarin dia sama sekali gak ngerespon ucapan gue. Gue khawatir kalau dia beneran gak nyaman sama gue,’ batin Morgan, sembari melanjutkan langkahnya untuk menuju ke arah ruangan kelas Ara.

__ADS_1


Langkah Morgan terhenti, karena melihat seseorang yang tak asing baginya, sedang mengintip dari jendela ruang kelas Ara. Morgan memandang Ilham dengan tatapan sinis, lalu mendekatinya perlahan, dan mengikutinya.


Morgan juga melihat ke arah yang Ilham lihat. Di sana, terlihat gadis yang asing, yang baru ia lihat.


‘Siapa dia? Apa ... dia adalah anak baru di kelas ini? Ilham saja sampai mengambil start duluan,’ batin Morgan, merasa sangat heran dengan gadis yang ia lihat di dalam kelas Ara.


Morgan kembali mengalihkan fokusnya ke arah Ilham. “Ngapain lo?” tanyanya dengan tiba-tiba, membuat Ilham terkejut mendengar ucapan Morgan yang mendadak itu.


Ilham terlihat sangat gugup, sembari memegangi dadanya. Napasnya terdengar sangat memburu, Ilham benar-benar sangat terkejut mendengar ucapan Morgan.


“Ngagetin aja lo!” bentak Ilham terdengar sangat kesal, Morgan hanya diam sembari menatapnya datar.


Di hadapan Morgan kini, terlihat Ilham yang sedang memegang sebuah bungkusan. Sepertinya, ada beberapa makanan di dalamnya. Ternyata, Ilham memang ada maksud untuk mendekati gadis asing itu.


Morgan menghela napasnya,‘Ya ... buat apa juga gue peduli?’ batinnya mendebatnya.


Morgan sedang tidak tertarik dengan yang Ilham lakukan. Tujuannya kini hanya Ara, sehingga ia pun meninggalkan Ilham di sana, dan masuk ke dalam ruang kelas Ara.


Morgan melihat sekeliling ruangannya. Namun, tak ada siapa pun di sana, kecuali gadis yang sedang Ilham perhatikan tadi. Morgan yang penasaran pun mendekatinya dan berdiri di hadapannya.


“Ngapain kamu di sini?” tanya Ara, membuat Morgan mengerenyitkan dahinya.


Morgan memerhatikan gadis ini dengan saksama, ‘Sepertinya ... aku mengenal gadis ini,’ batin Morgan, merasa mengenal gadis yang ada di hadapannya. ‘Tapi siapa?’


“Lo ....” Morgan menunjuk ke arah Ara, dengan Ara yang hanya mengangguk kecil.


“Iya, aku Ara,” ucap Ara membenarkan tebakan dari Morgan.


Ternyata, gadis yang Morgan lihat ini adalah Ara. Morgan sampai tak menyangka, perubahan Ara yang begitu drastis, membuat Morgan hampir saja tertipu dengan penampilan yang ia lihat.


Seketika Morgan terdiam, ‘Kenapa bisa Ilham mendekati Ara? Bukankah ....’


Morgan memikirkan sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Saat itu, saat berbicara dengan Ara pertama kalinya, Ara pergi dari Morgan. Hal itu benar-benar membuat Morgan merasa heran.

__ADS_1


‘Kenapa dia aneh banget?’ batin Morgan, yang berpikir kalau Ara sangat aneh baginya.


Morgan tak mengerti dengan sikap Ara yang bisa dibilang, agak aneh. Ia tiba-tiba saja berlari, membuat Morgan kesal saja.


Tiba-tiba saja, terlihat Ilham yang sedang berjalan menuju ke arah Morgan. Morgan memerhatikannya dengan saksama, sepertinya ia sangat kesal.


“Kenapa lo?” tanya Morgan.


“Gila, tuh cewek culun, maen nabrak gue seenaknya aja. Terus kabur lagi!” gerutu Ilham dengan kesal, membuat Morgan semakin mendelikkan matanya saja.


“Siapa?” tanya Morgan untuk memastikan, bahwa bukan Ara yang dia maksud.


“Ara!” jawabnya dengan spontan.


Morgan menghela napasnya dengan panjang, ‘Ternyata benar saja, gadis culun yang baru saja pergi dari tempat ini, adalah Ara. Ternyata, gadis itu benar-benar tidak hati-hati, tingkahnya selalu saja ceroboh,’ batinnya sembari menggelengkan kecil kepalanya.


“Liat aja, kalau sampai ketemu lagi, gue kerjain dia!” lirih Ilham yang masih terdengar oleh Morgan.


Perkataan Ilham membuat Morgan tak senang. Morgan pun maju selangkah di hadapannya, membuat Ilham lebih dekat dengannya, dan menatap Morgan.


“Kalau sampai lo nyentuh dia sedikit aja ....” Morgan menggertaknya, tetapi ia tak melanjutkan ucapannya.


Morgan menahan diri, ia tidak ingin dirasuki emosi. Ilham menelan salivanya, terlihat sudah paham dengan yang Morgan maksudkan.


Hal itu membuat Morgan masih saja berpikir tentang hal terakhir yang ia bicarakan dengan Ilham. Morgan sangat mengerti dengan apa yang Ilham pikirkan, yang memiliki dendam pribadi dengan Ara.


‘Bukankah ... Ilham mempunyai dendam pribadi dengan Ara? Kalau dilihat lagi, memang tidak ada orang lain di kelas ini. Dengan kata lain, Ilham pasti sedang melihat dan memperhatikan Ara, bukan?’ batin Morgan yang sudah mulai mengetahui celahnya.


“Gan?” panggil Ara lirih, membuyarkan lamunan Morgan seketika, dan kembali mengubah fokusnya pada Ara.


“Kamu ngapain di—”


Ucapan Ara terpotong, karena Morgan yang tiba-tiba saja menaruh kotak makanan yang sudah ia bawa tadi, ke atas mejanya. Ara memandangnya dengan heran, lalu segera membukanya, dan mengeluarkan kotak tersebut. Melihat makanan yang ada di kotak makan yang ia pegang, Ara pun terlihat sangat bingung saat ini.

__ADS_1


Ara memandang ke arah Morgan, “Ini ....”


__ADS_2