
‘Apa harus sampai seperti ini? Dari mana dia tahu hari ulang tahunku? Padahal ... aku saja tidak mengetahui tanggal lahirnya. Kalau seperti ini ... aku harus memberikan kado juga padanya. Aku harus bertanya, kapan ulang tahun Bisma!’ batin Ara, yang merasa sangat tidak enak dengan Bisma.
Ketika dipikir kembali, Bisma membuat Ara menjadi sangat menggelora.
“Dia romantis, ya ....” Ara kalut dalam buaiannya.
Ara merasa, sekarang ada yang memperhatikannya dan bisa memberikan segalanya untuknya, tanpa ia pinta.
“Ara janji, gak akan marah-marah lagi sama Bisma, walaupun Bisma udah bikin Ara kesel. Tapi ... Ara berusaha buat bersikap baik ke Bisma. Ara janji,” ujar Ara dengan lirih, sembari menitikkan air matanya.
‘Dia orang yang ingat dengan ulang tahunku, dia juga orang pertama yang mengucapkan selamat, dan memberikanku kado. Aku sangat tersentuh kali ini,’ batin Ara, merasa sangat senang karenanya.
***
“Mana ya? Kemarin di sini, kok!” lirih Ara sembari tetap mencari keberadaan buku PR-nya.
‘Aku bingung, di mana aku menaruh buku itu. Padahal, jelas sekali aku menaruhnya di dalam tas, saat Bisma datang untuk menggangguku semalam. Apa yang harus aku lakukan?’ batin Ara, yang kepalanya mendadak sakit karena memikirkan hal tersebut.
Ara pun kembali mencari ke segala arah. Ia tidak mengerti, kenapa ia bisa lupa seperti ini. Ia pun mengeluarkan seluruh isi lemari, dan melemparkannya ke segala arah. Ara tetap masih tidak bisa menemukannya.
Ara pun meremas rambutnya dengan keras, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
‘Aku pasti akan dihukum oleh guruku!’ batin Ara, benar-benar sangat kesal karenanya.
“Aduh ... gimana bisa lupa sih?” Ara semakin tidak keruan, karena ia harus segera menemukan buku PR-nya. Kalau tidak, ia tidak akan bisa mengatakan apa pun di hadapan gurunya nanti.
Setelah lama mencarinya, Ara sama sekali tidak menemukan buku PR-nya. Ia merasa sangat kesal, tetapi ia juga tidak bisa berbuat apa pun.
__ADS_1
Ara menghela napasnya dengan dalam, “Sudahlah ... lupakan soal buku PR!” gumam Ara, sembari duduk di kursi yang berada di hadapan Bisma dan juga ayahnya.
Ara tidak berani menatap mereka. Yang ia lakukan hanyalah menunduk sembari memainkan pisau dan garpu saja. Ia bahkan tidak selera makan saat ini.
Melihat Ara yang melakukan hal aneh di hadapannya, Bisma pun merasa bingung dengannya.
“Kenapa lo gak makan? Rotinya gak enak?” tanya Bisma dengan nada yang sudah terdengar tak enak.
Ara menghela napas panjang, lalu segera memasukkan seluruh roti ke dalam mulut, hanya dalam sekali santap. Ara ingin menunjukkan, bahwa tidak terjadi apa pun padanya. Namun, Bisma melontarkan tatapan tak senang padanya.
“Gila, mulut lo lebar banget!” ujarnya tak percaya dengan yang Ara lakukan.
“Jangan terlalu kasar berbicara dengan wanita.” Ayahnya sedang membela Ara dari Bisma.
Ara hanya diam tidak bergeming, sembari melihat ke arah Bisma yang nampaknya sedang menahan perasaan kesalnya pada ayahnya.
Ayahnya memandang ke arah Ara dengan lekat , “Papa punya sesuatu buat Ara,” ujarnya tiba-tiba, membuat Ara mengalihkan perhatiannya padanya.
“Selamat ulang tahun ya, Ara. Maaf Papa terlambat ngucapinnya,” ucapnya dengan sangat lembut, membuat Ara sangat tidak enak hati padanya.
Walaupun Ara masih malas sekali berbicara, karena sedang bingung, dan masih memikirkan buku PR-nya yang hilang entah ke mana, ia masih berusaha untuk menahan semuanya di hadapan Bisma dan juga ayahnya.
Ara membuka kotak itu setengah hati, pasrah karena setengah pikirannya masih memikirkan buku itu. Ara pun membuka kotak tersebut, dan yang ia lihat adalah sebuah kunci yang sama sekali tidak ia ketahui.
Ara merasa bingung, ‘Kenapa Papa memberikanku sebuah kunci?’ batin Ara, merasa sangat bingung dengan keadaan yang ada.
Ara mengerutkan dahinya, dan memandang ke arah ayahnya, “Lho ... ini kunci apa? Kok Ara dikasih kunci sih?” tanya Ara bingung, sembari memperlihatkan kunci tersebut pada Bisma dan juga ayah.
__ADS_1
“Kamu suka, tidak?” tanya ayah dengan nada yang masih sama seperti tadi, membuat Ara memandang kunci itu dengan sangat remeh.
‘Apa gunanya kunci ini?’ batin Ara heran.
Ara memandang ke arah mereka dengan tatapan polosnya, “Dibanding kunci, Ara lebih butuh tas.”
Bisma menepuk keningnya, “Ya ampun ....”
‘Apa Ara sama sekali tidak mengetahui benda yang dia pegang itu? Aku sampai kesal karena responnya yang biasa saja. Jelas-jelas, ayah memberikannya sebuah kunci mobil, sudah pasti ayah memberikannya sebuah mobil. Kenapa dia malah lebih memilih diberikan sebuah tas? Kenapa dia terlalu polos seperti ini? Ayah saja sampai tertawa kecil mendengar ucapan Ara yang aneh itu,’ batin Bisma, yang benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Ara ucapkan.
Ara memandang Bisma bingung, karena respon Bisma yang terlihat sangat aneh di hadapannya.
“Kenapa?” tanya Ara.
Bisma mendelik tak percaya di hadapan Ara, “Lo lebih milih tas, daripada mobil?” tanya Bisma, yang sudah gemas dengan tingkah polosnya yang aneh itu.
‘Sebenarnya, dia berasal darimana sih? Apa di tempat asalnya dulu, ia tidak pernah melihat kunci mobil? Bukannya dia sering melihat kunci mobilku?’ batin Bisma benar-benar sangat kesal dengan keadaan ini.
Mendengar ucapan Bisma, Ara pun menganga kaget, karena baru menyadari bahwa yang Bisma katakan sangat tidak Ara ketahui.
“Hah? Mobil?” gumam Ara yang terkejut, sampai terdengar nada yang seperti tidak percaya.
Bisma menggelengkan kepalanya, ‘Ternyata benar dugaanku! Dia sama sekali belum pernah melihat kunci mobil. Harus bagaimana aku menjelaskan padanya?’ batin Bisma, benar-benar sangat kesal dengan Ara.
Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Lo sebenernya dateng dari planet mana, sih? Sampe belom pernah lihat kunci mobil? Lo bukannya ngelihat kunci mobil gue setiap hari, ya?” tanya Bisma dengan nada yang sedikit julid padanya.
‘Aku sudah tidak mengerti, apa wilayah tempat tinggal Ara dulu, adalah wilayah yang sangat awam mengenai elektronik dan teknologi?’ batin Bisma lagi.
__ADS_1
Ara baru sadar, bahwa ia juga sering melihat Bisma yang selalu memegang sebuah kunci. Ara hanya bisa menyeringai, dengan Bisma yang hanya bisa memandang ke arahnya dengan tajam.
‘Bisma sepertinya ingin marah padaku. Aku tidak tahu kalau itu adalah kunci mobil. Aku memang sering melihat mobil mewah yang selalu melewati desaku. Tapi ... aku sama sekali tidak pernah melihat kunci mobilnya. Aku juga tidak sadar, kalau Bisma setiap hari memegangi sebuah kunci. Apa mobil tidak bisa berjalan kalau tidak ada kunci itu? Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menjalankan mesin mobil,' batin Ara, benar-benar sangat bingung kali ini.