Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Pertemuan Dua Kubu


__ADS_3

Melihat gadis yang ada di dalam rengkuhannya, adalah seorang yang ia kenal, ia merasa sangat kaget karena melihat gadis itu saat ini.


“Siti?” gumamnya lirih, Ara semakin membulatkan matanya ke arah lelaki itu.


‘Kenapa dia selalu menyebut aku dengan sebutan ‘Siti’? Sudah kubilang, aku bukan Siti yang ia maksud,’ batin Ara, merasa sedikit jengkel dengan apa yang Reza katakan padanya.


Melihat pintu yang tiba-tiba saja terbuka, Ara merasa sangat kaget. Sudah ada beberapa orang yang melihat ke arah mereka. Ara terkejut, dan merasa sangat malu pada mereka. Karena, Reza sedang menahan tubuh Ara agar tidak jatuh ke lantai.


‘Oh tidak! Mereka memandang ke arah kami! Aku tidak ingin, mereka berpikir yang aneh tentang aku dan juga Reza!’ batin Ara, yang benar-benar sangat bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


Tangan Reza terlihat sedang menekan sesuatu. Mereka semua yang sudah melihat Reza dan Ara, langsung terkejut dan sontak menjadi ramai.


Pintu itu kemudian langsung tertutup kembali. Guncangan aneh itu pun terasa kembali. Ara merasa tidak kuat, jika harus berada lama-lama di dalam benda aneh ini. Ia yang takut, hanya memejamkan matanya saja, sampai benda ini berhenti bergerak.


“Lo ngapain di sini?” tanyanya, Ara tidak bisa melihat matanya karena ia masih takut dengan sensasi pada lift yang bergerak naik itu.


“Aku gak bisa ngeliat kamu. Aku takut!” ucap Ara, berusaha menjelaskan padanya.


Reza sama sekali tidak melepaskan rangkulan tangannya dari Ara. Bagi Ara, Reza memang benar malaikat penolongnya.


‘Dia baik banget, gak mau lepasin tangannya dari aku,’ batin Ara, yang sedang berharap cemas dengan keadaan dirinya.


“Loe mau ke mana?” tanya Reza, yang berusaha untuk menghilangkan rasa kakunya itu.


“Aku mau ke ruang kantor. Aku anak baru di sini, dan gak bisa ke ruangan itu karena aku gak tau,” jawab Ara menjelaskan, tanpa membuka matanya karena masih takut dengan keadaan.


Melihat Ara yang benar-benar ketakutan, Reza pun menuntunnya untuk berdiri kembali. Mau tidak mau, Aea jadi berusaha menyeimbangkan lagi tubuhnya.

__ADS_1


Karena masih melihat rasa takut yang ada pada diri Ara, Reza tidak membiarkan Ara untuk melepaskan tangannya darinya.


“Gak apa-apa, buka aja matanya. Nanti, biar gue antar lo ke ruang kantor,” ujarnya yang terdengar sangat lembut, membuat Ara sedikit tenang mendengarnya.


Ara berusaha sedikit untuk membuka matanya, karena ia harus bisa menyesuaikan keadaan dirinya, di sekolah ini.


Tak lama kemudian, benda ini pun berhenti bergerak. Pintu itu pun terbuka kembali, membuat Ara merasa sangat lega mengetahuinya.


Mata Ara membulat sempurna, terkejut karena melihat Bisma yang sudah berdiri di hadapan mereka. Bisma melihat ke arah tangan Ara yang masih bergandengan dengan tangan Reza. Karena melihat tatapan Bisma itu, Ara pun spontan menghempaskan tangan Reza dan berdiri sedikit lebih jauh dari tempat Reza berdiri.


Suasana menjadi canggung seketika, karena Bisma menatap Reza dengan tatapan yang sinis, begitupun sebaliknya. Ara benar-benar bergeming, tidak bisa berkata apa pun lagi di hadapan Bisma.


‘Situasi macam apa ini?’ batin Ara yang perasaannya sudah tidak bisa terkontrol lagi.


Ara sama sekali tidak memiliki jawaban, jika Bisma bertanya sesuatu menyangkut apa yang ia lihat barusan. Yang jelas, ini tidak seperti yang ia bayangkan.


“Bisma--”


Ucapan Ara terpotong tiba-tiba saja, karena Reza yang juga menarik tangan Ara yang satunya. Terjadilah aksi saling tarik antara Bisma dan juga Reza, membuat tangan Ara menjadi sakit karena tarikan mereka yang terlalu kuat.


“Lepasin tangan Siti!” bentak Reza, yang berusaha keras, agar Bisma melepaskan tangan Ara. Namun, yang terjadi malah Bisma semakin menarik tangan Ara dengan sangat kuat.


“Bukan urusan lo!” bentak balik Bisma dengan sangat kasar, hampir menyamai nada bicara Reza.


Mereka semakin menarik erat kedua lengan Ara, membuat Ara semakin bertambah kesal.


‘Sepertinya, aku sudah tidak bisa menahannya lagi,’ batin Ara, yang benar-benar sudah kesal karna kesalahan mereka itu.

__ADS_1


“Stop!” teriak Ara, yang sudah merasa jengkel dengan apa yang mereka lakukan.


Mendengar teriakan Ara, mereka pun menghentikan aktivitasnya. Tak sadar, Ara malah menangis di hadapan mereka, sehingga banyak sekali mengeluarkan air mata. Itu semua karena Ara merasakan sakit di kedua lengannya, sehingga air matanya tidak bisa ia kontrol dan keluar begitu saja dari pelupuk matanya.


Ara menutup matanya dengan cepat, dan malah menumpahkan semua rasa kesal dan sakitnya itu. Ada bahu yang dengan suka rela memeluknya, saat ia sedang menahan tangisnya itu.


‘Kenapa mereka bertingkah seperti anak kecil yang sedang bertengkar berebut mainan? Aku bukan mainan! Apa mereka sadar, efek buruk dari kejadian tadi?’ batin Ara, yang benar-benar sangat kesal melihat kelakuan mereka padanya.


Ara melirik sedikit ke arah tangannya. Ternyata, keduanya sudah berubah menjadi lebih besar. Ia merasakan keduanya mungkin saja sudah berubah menjadi bengkak.


“Bisma ... tangan Ara bengkak, sakit ...,” lirih Ara, yang berusaha untuk menahan tangisnya.


Bisma dengan segera melepaskan pelukannya dari Ara. Ia memandang dengan sangat khawatir, sampai Ara tak menyangka, ini akan terasa sangat menyakitkan.


“Kita ke UKS sekarang!” ujar Bisma dengan nada yang terdengar khawatir, tetapi Ara menggeleng cepat karena tidak mau merepotkannya.


Tiba-tiba saja, terdengar suara yang tidak tahu dari mana asalnya. Itu adalah suara bel masuk, menandakan semua siswa yang harus masuk untuk memulai pelajaran.


Reza hanya bisa memandang nanar ke arah mereka, karena ternyata gadis yang ia sebut Siti, ternyata mengenal Bisma juga.


‘Sial, dia kenal sama Bisma? Kenapa dia kelihatannya deket banget sama Siti?’ batin Reza, yang benar-benar bingung dengan keadaan mereka.


Bisma memandang ke arah Ara, “Udah bel masuk. Ayo, gue antar ke ruang kantor,” ajak Bisma dengan lembut, sehingga Ara tidak mungkin lagi untuk menolak tawaran Bisma kali ini.


Ara benar-benar tidak ingin membuat masalah lagi. Ini adalah kesan pertama Ara di sekolah barunya, dan ia tidak mau banyak membuat masalah lagi.


Mendengar ajakan Bisma, Ara pun mengangguk pelan, kemudian mengikuti Bisma yang sudah berlalu sejak tadi di hadapan Ara. Saat Ara melangkah, ia sedikit melirik ke arah Reza yang terlihat hanya diam membeku di sana. Hal itu membuat Ara menjadi sangat canggung dengan Reza, karena membuatnya kembali berhadapan dengan masalah yang besar.

__ADS_1


‘Aku tidak ingin menimpakan masalah lagi pada Reza. Dia sudah cukup membantuku selama ini,’ batin Ara, yang benar-benar tidak ingin melakukannya lagi.


__ADS_2