
Ara pun menghela napasnya panjang, dan memberanikan diri untuk menengok ke arah Reza. Ia tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. Ia terlihat sedang memainkan gawainya.
‘Apa aku deketin aja kali ya?’ batin Ara, yang ternyata masih ragu dalam mengambil keputusan.
‘Aku masih merasa tidak enak hati pada Reza. Paling tidak ... aku harus mengobati lukanya itu.’
Ara berinisiatif tinggi, dengan mengambil kotak P3K yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Ia pun memberanikan diri untuk duduk di sebelah Reza. Reza yang mungkin saja terusik dengan keberadaan Ara, langsung membuka benda aneh yang ia selipkan di kedua telinganya.
Melihat keberadaan Ara di hadapannya, Reza pun mendelik karena terkejut melihatnya.
“Ada apa, Siti?” tanya Reza kaget.
Ara hanya berfokus pada benda aneh itu. ‘Lagi-lagi, aku tidak tahu dengan benda yang ada di kota,’ batinnya, yang merasa aneh hanya karena melihat sebuah earphone.
“Itu ... apa, Za?” tanya Ara dengan ragu, sembari menyentuh dagunya sendiri menggunakan jari telunjuknya.
Reza langsung mengalihkan pandangannya pada alat itu. Ia langsung tersenyum, ketika mendengar Ara bertanya tentan benda ini padanya.
“Ini namanya earphone. Biasanya, gue pakai buat dengar musik, nonton film, nelepon, dan lain-lain,” paparnya menjelaskan, selaras dengan senyumannya.
Ara hanya mengangguk-angguk, tanda paham dengan yang ia jelaskan.
“Memangnya, bisa dengarin musik dari sini, Za?” tanya Ara lagi, masih belum yakin dengan yang Reza jelaskan tadi.
‘Bisa saja, dia membohongiku, bukan?’ batin Ara.
“Lo mau dengar?” tanyanya, Ara pun mengangguk cepat ke arahnya.
Reza dengan senyumannya yang sumringah, lalu menempelkan alat itu ke telinga Ara, membuat Ara merasa sangat geli. Karena Ara yang mungkin tak terbiasa menggunakannya, Reza pun menarik kembali alat itu dari telinganya.
__ADS_1
“Geli, ya? Gak apa-apa kok, ini gak bakalan masuk ke dalam telinga lo,” ujar Reza, dengan tawanya pecah seketika karena melihat respon dari Ara.
Aku jadi malu padanya, “Hehe. Oke deh, coba sekali lagi,” ucap Ara dengan perasaan tak enak.
Reza pun kembali memasangkannya ke telinga Ara. Ada perasaan sedikit geli, tapi Ara menahannya sebisa mungkin. Akhirnya, alat itu sudah berhasil dipasangkan di telinga Ara. Namun, sama sekali tidak ada yang terdengar dari alat itu.
‘Sepertinya Reza memang membohongiku!’ batin Ara agak geram dengannya.
“Mana? Gak ada musiknya kok!” ucap Ara dengan spontan, membuat Reza tertawa kembali mendengarnya.
“Hihi. Belum gue nyalahin.”
Tiba-tiba, terdengar suara musik yang sangat asing di telinga Ara. Namun, Ara jadi merasa ucapan Reza memang benar adanya. Ara bisa mendengarkan musik jika alat ini dipasangkan ke telinganya. Ia pun menjadi menikmati alunan musik yang sedang diputar ini.
“Gimana, enak gak musiknya?” tanya Reza dengan sangat bersemangat, membuat Ara mengangguk dengan cepat.
Dari arah jendela, Bisma memandang Ara yang sedang berbincang dan tertawa bersama dengan Reza. Hal itu membuat Bisma kesal, tetapi ia memikirkan hal lain yang ada di pikirannya.
‘Ara terlihat senang ketika mendengarkan musik dengan menggunakan earphone. Apa ... aku belikan handphone saja untuknya? Kebetulan ... Ara tidak memilikinya, sehingga aku kesulitan berkomunikasi dengannya. Sejujurnya ... aku agak kesal dengan Reza yang selalu bisa mendapatkan waktu untuk bersama dengan Ara. Sementara aku? Sialnya aku tidak bisa satu kelas dengannya. Aku jadi harus diam-diam memperhatikannya dari jauh,’ batin Bisma, yang benar-benar sangat terganggu pikirannya karenanya.
Bisma mengepalkan telapak tangannya karena kesal, ‘Sialan si Reza!’ batinnya kesal, lalu segera pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, saking senangnya mendengarkan music, Ara sampai lupa tujuan awalnya untuk mengobati Reza.
“Oh ya, sampai lupa!” ucap Ara, yang sampai terlupa akan sesuatu.
Ara pun mengeluarkan kotak P3K yang sejak tadi ia bawa. Ia mulai mengambil obat merah, dan juga perlengkapan yang lainnya. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk mengobati luka Reza, agar lukanya bisa sedikit terobati.
Bila diperhatikan dari jarak yang sedekat ini, Ara terlihat sangat manis di pandangan mata Reza. Reza semakin tertarik untuk lebih dekat dengan Ara. Ara dengan perlahan memakaikan obat merah dan yang lainnya, ke arah luka Reza. Terakhir, ia memakaikannya plester. Ia tertawa sembari melihat ke arah Reza, membuat Reza mengerenyitkan dahi ke arahnya.
__ADS_1
“Kenapa? Kok ketawa?” tanya Reza dengan bingung.
“Gak apa-apa.” Ara menjawabnya sebari menahan tawanya, sementara Reza hanya diam terkekeh mendengarnya.
“Oh ya, makasih ya Reza selama ini udah nolong Ara. Dari dulu ... waktu Ara masih diganggu sama mereka yang udah jahatin Ara, sampai sekarang pun Reza masih sering nolongin Ara. Sebenarnya ... Ara mau kasih Reza permen dari dulu, sebagai tanda terima kasih Ara ke Reza. Tapi ... Ara gak pernah sempat. Selalu Reza ngilang gitu aja. Sekarang, udah waktunya Ara kasih kamu hadiah,” ujar Ara yang tiba-tiba teringat dengan tujuan awalnya.
Ara pun langsung merogoh saku jaketnya, dan memberikannya sebuah permen yang sudah ia siapkan sebelumnya. Reza hanya menatap ke arah permen yang sudah Ara sodorkan.
‘Apa benar, dia anak yang waktu itu aku tolong?’ batin Reza, yang sampai saat ini masih belum percaya dengan apa yang Ara katakan.
Namun, karena ia tidak ingin membahas masa lalu, Reza hanya bisa diam sembari memandangnya dengan lekat.
“Makasih banyak, Za!” ucap Ara dengan senyuman khas itu.
Mata Reza membulat kaget, karena senyumannya yang terlihat sangat manis dan enak dipandang itu. Ia sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan hanya bisa mengambil hadiah yang Ara sodorkan padanya. Wajah Reza pun terasa sangat panas sekarang.
‘Ternyata, pertemuanku dan dia bisa berlanjut sampai saat ini. Andai saat itu aku tidak menolongnya, mungkin saja aku tidak bisa sedekat ini dengannya sekarang,’ batin Reza, benar-benar sangat senang, karena sudah mengambil langkah yang tepat.
***
Di sana, terlihat Reza yang sedang melepas penat sehabis pulang sekolah. Ia membawa motornya masuk ke dalam garasi rumahnya.
Terlihat sekelibat bayangannya di kaca, ‘Sepertinya ... ada sesuatu yang aneh di wajahku,’ batin Reza, yang penasaran dan kembali melihat bayangannya lagi untuk memastikan.
Matanya mendelik karena ternyata, plester yang Ara pakaikan di kening Reza tadi, memiliki keanehan. Ada suatu tulisan di sana, membuat Reza memerhatikannya dengan saksama, karena ia merasa masih kurang jelas.
Setelah diperhatikan baik-baik, di sana tertulis nama lengkap Ara, dan juga sebuah tanggal, lengkap dengan bulan dan tahunnya. Reza merasa, itu adalah tanggal lahir Ara.
“Hmm ... tanggal 9, ya?” Reza bergumam lirih sembari mengangguk kecil.
__ADS_1