
Matanya mendelik kaget, karena ia menemukan tidak ada satu pun makanan yang disentuh oleh Ara. Sementara Ara dan Morgan sudah pergi menuju ke sekolah mereka.
Pemandangan ini membuat amarah Bisma semakin meledak. Hal ini membuatnya sangat yakin, bahwa Ara memang sama sekali tidak mencintainya dan lebih memilih Morgan daripada dirinya.
“Sialan si Ara! Kenapa gak menghargai usaha gue, sih? Baru kali ini ada cewek yang berani bikin gue sampai begini. Biasanya gue yang selalu bikin cewek begini. Kenapa malah dapat karma di saat yang gak tepat begini, sih?” gerutu Bisma, sembari menatap kesal ke arah makanan yang ada di meja makan.
Saking kesalnya, Bisma segera pergi dari sana dan ia juga sama sekali tidak menyentuh makanan tersebut. Ia sudah tidak makan sejak semalam, bahkan ia sama sekali tidak menikmati makan malam bersama dengan Gladis malam tadi.
Perutnya terasa sedikit sakit, tetapi masih bisa ia tahan. Ia jadi tidak mood makan, saking kesalnya ia melihat usahanya yang sama sekali tidak ada harganya di mata Ara.
Bisma segera pergi menuju ke arah mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, berusaha untuk melepaskan beban permasalahan yang ada.
“Ah!” teriaknya dengan keras, sembari berusaha untuk melupakan sejenak permasalahan hati yang ia rasakan.
Lalu di sana, Morgan dan Ara sudah sampai di sekolah mereka tepat pada waktunya. Mereka tiba 5 menit sebelum petugas menutup pintu gerbang mereka.
Ketika mereka melewati gerbang sekolah mereka, Reza yang merupakan ketua OSIS di sekolah mereka, saat ini memandang ke arah mereka yang melewatinya. Ia memandang mereka dengan tatapan tajam, sementara Ara hanya bisa memandangnya dengan bingung.
Di satu sisi Ara tahu kalau Morgan sedang dalam kondisi tidak mood, sehingga mungkin saja akan ada permasalahan yang nantinya akan terjadi, jika ia menyapa Reza. Di sisi lain, Ara juga sangat tidak enak dengan keadaan ini, yang membuatnya sampai harus menjaga jarak dari Morgan.
“Ara!” pekik Reza, yang memanggil Ara ketika Ara sudah berlalu sedikit di hadapannya.
Ara menghentikan langkahnya, dan memandang Reza dengan heran. Sementara itu, walaupun Morgan sedang dalam keadaan yang tidak mood, ia merasa harus menunggu Ara di sana yang langkahnya sudah terhenti karena Reza memanggilnya.
“Ada apa, Za?” tanya Ara, bingung dengan apa yang harus ia katakan pada Reza, di hadapan Morgan.
__ADS_1
Ara harus pintar-pintar mengatakan sesuatu di hadapan Morgan.
“Lo baru dateng jam segini? Tumben,” ujar Reza, yang masih bersikap biasa saja di hadapan Ara.
Ara melirik ke arah Morgan, bingung menilai reaksi Morgan yang hanya memandangnya dengan dingin.
Ara pun kembali memandang ke arah Reza. “Ah, iya Za. Tadi Ara bangun kesiangan,” jawabnya seadanya.
“Wah ... kenapa? Lagi gak mood, ya?” tanya Reza, lalu ia mengeluarkan sebuah cokelat batang dari saku celananya. “Nih, cokelat buat penambah mood!” ujarnya sembari menyodorkan cokelat tersebut di hadapan Ara.
Tanpa banyak kata, Morgan segera mengambil cokelat tersebut dan membuangnya di hadapan Reza. Hal itu membuat Ara dan Reza terkejut melihat sikap Morgan itu.
Tak terima dengan apa yang Morgan lakukan, Reza pun memandang sinis ke arah Morgan. “Eh, apa-apan sih lo? Kenapa malah buang cokelat yang gue kasih ke Ara, sih?” tegur Reza, Morgan hanya memandangnya dengan datar.
Reza merasa tersinggung mendengarnya. “Lho, kenapa lo malah ngelarang begitu, deh? Memangnya apa urusan lo?” tanyanya sinis, Morgan memandangnya dengan tatapan yang tajam.
“Ara itu pacar gue, dan gue sebagai pacarnya tersinggung kalau lo ngasih cokelat ke dia. Apalagi di depan gue kayak tadi!” jawab Morgan dengan tatapan yang sinis, sontak membuat Reza mendelik kaget karena tak percaya mendengarnya.
“Apa? Ara pacar lo?” gumam Reza bertanya-tanya, membuat Morgan memandangnya dengan tajam.
“Ya, dan gue tersinggung saat lo ngasih dia cokelat apalagi di depan mata gue,” ujar Morgan, Reza memandang Ara dengan tatapan yang tak percaya.
“Ra ... gimana bisa?” tanya Reza, Ara hanya menunduk saja tak ingin mengatakan apa pun di hadapan mereka.
“Urus aja urusan lo sama Adele. Mulai sekarang, jangan pernah ganggu Ara lagi!” ujar Morgan dengan datar, yang lalu segera merangkul Ara pergi menjauh dari hadapan Reza.
__ADS_1
Reza mendelik kaget, karena tak menyangka Morgan mengetahui tentang Adele. Ia bingung, dari mana Morgan sampai mengetahuinya.
“Dia ... dari mana dia tau soal Adele? Masa sih, dia ngeliat gue lagi ketemu sama Adele kemarin?” gumam Reza dengan lirih, masih tak percaya dengan apa yang Morgan katakan itu.
Reza juga semakin tak percaya, karena sekarang Morgan dan Ara berpacaran. Hal itu membuatnya sangat kaget, karena Ara yang menerima cinta dari Morgan.
“Mereka pacaran? Gak masuk logika! Terus, gimana perasaan Bisma yang udah dari awal ngejar Ara, dan terus-terusan berada di sisi Ara? Walaupun mereka kakak beradik, bukan hal yang tidak mungkin kalau mereka memiliki perasaan satu sama lain. Apalagi mereka cuma adik dan kakak tiri aja,” gumam Reza, masih bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
Namun satu yang Reza ketahui, kali ini ia sudah kalah dari Morgan, setelah kalah dengan Bisma. Ia tidak menyangkan, Morgan juga menyukai Ara seperti dirinya menyukai Ara.
“Entah apa bagusnya gadis itu, tapi rasanya ... gue gak bisa kalau tanpa Ara,” gumam Reza, yang masih memiliki tekad untuk mendapatkan Ara.
Ia masih penasaran dengan hal itu.
“Gue harus lebih gencar deketin Ara, karena bisa jadi Ara cuma terpaksa nerima Morgan. Bisa jadi, karena sikap dia aneh banget dan kayak terpaksa gitu,” gumam Reza, yang sudah bertekad untuk mendekati Ara kembali.
Reza memandang cokelat yang sudah jatuh di aspal itu. “Yah ... ini cokelatnya sayang banget! Kenapa Morgan buang-buang makanan, sih? Ini ‘kan enak!” gerutunya sembari mengambil cokelat yang masih terbungkus rapi itu, lalu segera membuka bagian bungkusnya.
Reza memakannya, karena memang bundanya selalu mengajarkannya untuk tidak pernah membuang makanan. Itu adalah hal yang sangat mubadzir, dan Reza tidak akan pernah rela melakukan hal tersebut.
Pandangannya menoleh ke segala arah, memastikan tidak ada yang memandang ke arahnya. Ia memakan habis cokelat tersebut, lalu segera membuang bungkus cokelat itu ke dalam tempat sampah.
“Awas aja Morgan, gak akan gue biarin lo dapetin Ara, sampai gue bener-bener jengah mendapatkan Ara!” gumam Reza, yang lalu segera pergi dari tempat tersebut menuju ke kelasnya.
***
__ADS_1