
“Mungkin ... setelah akhir semester gasal, kamu bisa mengajukannya kembali.”
‘Terlalu lama bagiku untuk menunggu selama 5 bulan ke depan. Aku tidak ingin, Reza selalu bersama dengan Ara setiap waktu!’ batin Bisma, yang benar-benar tidak bisa melakukannya.
“Apa tidak bisa dipercepat lagi, Pak?” tanya Bisma lagi, memohon padanya untuk memberikan kebijakan lebih dalam hal ini.
Ia menggeleng pelan, membuat Bisma menjadi patah semangat. Bisma pun menghela napas panjang, dan berusaha menerima semuanya.
“Baik pak. Saya akan mengajukan setelah semester gasal berakhir. Tapi, sebagai gantinya ... boleh tidak, saya meminjam biodata Arasha?” Bisma masih berusaha bernegosiasi dengannya. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
‘Apa tidak boleh juga aku meminta biodatanya?’ batin Bisma, yang merasa sangat cemas dengan apa yang ia harapkan.
“Saya kakaknya Ara, Pak!” ceplos Bisma, agar ia tidak terlalu banyak untuk memikirkan hal yang tidak penting. Ia terlihat tercengang setelah mendengar ucapan Bisma tadi.
“Bisa kamu jelaskan, kronologinya?” tanyanya yang terus berbelit.
‘Sepertinya ... dia hanya ingin mengorek informasi dariku. Ia tidak benar-benar memberikannya padaku,’ batin Bisma, yang tidak ingin dibodohi olehnya.
“Masalah keluarga, saya tidak bisa memberitahukan kepada bapak,” ucap Bisma dengan tegas, tentu saja dengan pandangan yang serius, tertuju padanya.
Ia masih saja terdiam, mungkin saja sedang mempersiapkan ucapan selanjutnya.
“Jangan sampai bocor ya, Pak. Saya mohon ... untuk menjaga rahasia ini,” pinta Bisam dengan ekspresi yang seserius mungkin.
Ia terdiam sesaat, kemudian mengangguk cepat untuk merespon ucapan dari Bisma.
“Baiklah. Tunggu sebentar, saya ambilkan dulu biodata Ara yang kamu minta.” Ia akhirnya mengalah, dan mengambilkan sesuatu yang Bisma butuhkan.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, ia kembali dengan membawa sebuah amplop. Ia kembali duduk, dan langsung menyodorkannya pada Bisma. Bisma pun mengambil amplop yang ia sodorkan, kemudian membukanya dan membaca keseluruhan data yang tertulis tentang Ara, hingga membuat matanya melotot kaget karenanya.
***
Saat ini, Ara sudah sampai di kelasnya. Ia tidak ingin terlambat, hanya karena orang-orang aneh itu yang tidak ia mengerti.
‘Lebih baik aku fokus dengan pembelajaran hari ini saja. Kenapa di hari ulang tahunku juga, mereka tidak henti membuat masalah yang bisa membuat kepalaku menjadi pening!’ batin Ara, merasa sangat bingung dengan keadaan yang telah terjadi padanya dan juga mereka.
Ara duduk di tempatnya, yang berada di barisan paling belakang. Tiba-tiba saja, gadis yang waktu itu mengantarkannya saat Ara datang ke kelas ini pertama kali, yang Ara ketahui bernama Fla, datang dengan menangis tersedu. Ia langsung saja duduk pada kursinya di bagian paling belakang, tepatnya di barisan sebelah Ara. Ia menutupi wajahnya yang sekarang sudah basah karena air matanya itu.
Melihat ia menangis, Ara menjadi agak khawatir dengan keadaanya.
‘Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus mendekatinya, dan menghiburnya?’ batin Ara, benar-benar sangat khawatir dengan keadaannya.
Ara terdiam beberapa saat, untuk mengatur keberaniannya mengatakan hal seperti ini.
Aea pun menghampirinya, dan berdiri di hadapannya. “Fla, kenapa?” tanya Ara dengan ragu, Fla tiba-tiba saja melihat ke arahnya dengan sinis.
“Apa lo, culun! Gak usah deketin gue! Gue gak mau diganggu!” bentaknya dengan nada yang terdengar sangat marah.
Agak sedikit gentar hati Ara, karena dugaannya terhadap Fla memang benar adanya. Untungnya, Ara sudah mempersiapkan dirinya. Setidaknya, kata-katanya masih belum membuat Ara sakit.
Ara teringat dengan permen yang akan ia berikan pada Reza. Ia pun merogoh saku jaketnya, dan mengambil permen loly yang cukup besar itu. Ara menyisihkan satu untuk ia berikan pada Reza. Ara sudah berjanji untuk memberikan Reza hadiah, karena ia sudah selalu menolong Ara.
Dengan berat hati, Ara pun menyodorkan permen itu ke arah Fla. Ia sadar dan memandang ke arah Ara.
“Biar hati Fla tenang ... kata ibu, kalau makan yang manis-manis saat kita sedih, bisa meringankan beban yang kita hadapi. Ini, Ara kasih untuk Fla. Mudah-mudahan, Fla bisa kembali ceria seperti sedia kala,” ucap Ara, sembari tersenyum manis padanya.
__ADS_1
Fla tidak senang, lalu segera menampikkan pemberian Ara, dengan menepis tangannya. Permen itu pun terjatuh di lantai, membuat Ara yang melihatnya dengan tatapan sedih, karena niat tulusnya ternyata tidak diterima oleh Fla.
“Pergi, lo! Gue gak butuh lo buat hibur hati gue! Lo pikir, gue gak tau kejadian Bisma sama Reza tadi? Jangan karena lo ngehibur gue begini, lo jadi bisa seenaknya deket sama Reza, jangan mimpi!” bentaknya membuat hati Ara mulai retak kali ini.
‘Ternyata ... saat ingin menjadi orang baik pun, selalu ada rintangannya. Aku jadi paham, dunia ini memang sangat kejam untukku. Apa lagi, dengan situasi dan kondisi seperti, perbedaan derajat, dan juga kebiasaan, yang sejatinya memang membuat kesenjangan di antara kami semakin terlihat jelas,’ batin Ara, benar-benar sangat sendu mendengarnya.
Ara pun meninggalkan Fla dan kembali ke tempatnya semula, dengan keadaan sedih. Walaupun Ara sudah tahu akan jadi seperti ini, ia tetap tidak menyangka, akan sesulit ini mendapatkan teman di lingkungan sekolah yang baru ini. Padahal Ara sama sekali tidak ingin mencari musuh di tempat ini.
‘Ternyata ... garis takdirku memang sudah dituliskan seperti ini, ya? Hehe,’ batin Ara, benar-benar sangat sedih karenanya.
Di sana, Reza baru saja masuk ke dalam kelas, dengan Ara yang tak sengaja melihatnya. Terlihat bekas lebam di wajahnya, yang kemungkinan besar karena kejadian tadi dengan Bisma. Ara merasa tidak enak hati dengannya. Karena dirinya, lagi-lagi Reza mengalami hal seperti ini.
Reza terlihat sedang duduk di tempatnya, yang berada di barisan paling depan, tanpa melihat ke arah Ara. Ara benar-benar merasa, kalau Reza sedang menjauhinya saat ini.
‘Sepertinya ... dia tidak ingin mencari masalah dulu denganku,’ batin Ara.
Reza mengindahkan Ara, walau sempat menoleh ke arah belakang. Ara menjadi semakin merasa bersalah padanya.
‘Aku harus meminta maaf padanya nanti, sembari memberikan permen ini padanya,’ batin Ara lagi.
“Selamat pagi, semua,” ucap seseorang tiba-tiba, yang ternyata adalah guru yang akan mengajar. Buru-buru Ara membenarkan sikap duduknya, dan siap menyongsong ilmu yang beliau ajarkan, hari ini.
***
“Hari ini, cukup sampai sini. Ibu harap, kalian semua bisa belajar lebih giat lagi. Sampai bertemu minggu depan,” ujarnya yang menjadi penutup pembelajaran kali ini.
Guru tersebut meninggalkan kelas, dengan membawa beberapa buku pelajaran yang digunakan untuk mengerjakan tugas. Mereka yang berada di dalam kelas ini, perlahan pergi meninggalkan kelas.
__ADS_1