Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Hati Sekuat Baja


__ADS_3

Mendengar ucapan Bisma yang sangat mengejutkannya, Morgan sampai tak percaya dengan apa yang ia katakan. Saking tak percayanya, Morgan masih ingin meminta kepastian ucapan Bisma, kalau saja Bisma mengatakan lelucon saja di hadapannya.


“Gimana maksudnya? Adele ... hamil anak lo?” tanya Morgan, masih tak percaya mendengarnya.


Bisma menoleh ke arah Morgan, “Ya, Adele hamil anak gue.”


Morgan menggelengkan kepalanya, “Gimana mungkin? Dia ... ah, masa iya dia hamil anak lo?” tanyanya lagi, yang masih tidak percaya dengan apa yang Bisma katakan.


“Iya, Gan. Karena kejadian 4 bulan lalu, gue lepas kendali saat lagi sama dia. Gue gak tau, kalau kejadiannya bakalan kayak gini. Bodohnya Adele, setelah ngelakuin sama gue, dia malah nerima cinta Reza. Padahal Reza gak bener-bener suka sama dia. Reza cuma mau ngambil apa yang gue punya, terlebih lagi Adele yang juga suka sama dia, lebih dari rasa suka dia sama gue,” papar Bisma menjelaskan, pecahan puzzle yang Bisma tutupi kini sudah terbuka. Sekarang, Morgan paham dengan semua masalah antara Bisma dan Reza.


“So, setelah Reza dapetin Adele, dia mutusin Adele gitu aja? Right?” tanya Morgan, Bisma mengangguk kecil mendengarnya.


“Dia malu sama gue, karena udah milih Reza buat ninggalin gue. Di saat Reza udah dapetin dia, Reza malah ninggalin dia dan dia malah jadi gak dapet gue ataupun Reza.”


“Nice choice! She’s got a jackpot!” ujar Morgan, yang merasa sangat puas mendengarnya.


“Ya, dia memang wanita yang bodoh. Saking malunya dia sama gue, dia malah bikin skenario kalau dia pergi ke Amerika dan gak akan balik lagi. Padahal, dia cuma ikut bapaknya buat jalan-jalan liburan ke sana selama seminggu,” ujar Bisma lagi menjelaskan, membuat Morgan semakin tak habis pikir mendengarnya.


“What? This is a crazy plan!” pekik Morgan, tak percaya dengan permainan Adele yang sangat rapi.


“Ya, gue sengaja deketin Gladis, hanya karena mau cari informasi tentang Adele, yang blok semua akun gue. Gak nyangka, semua cuma hal yang sia-sia. Gue sama sekali gak dapet apa pun dari Gladis. Gladis malah kegatelan dan kesempatan deket sama gue.”

__ADS_1


“Terus gimana bisa dia tahu, kalau itu adalah anak lo?” tanya Morgan.


“Adele periksa kandungannya, dan tes DNA pakai sampel darah gue,” jawab Bisma, masih tidak bisa Morgan percaya.


“What? Gimana bisa? Lo merasa pernah ngambil sampel darah, gak?” tanya Morgan.


“Itu dia! Ternyata semua ada sangkut-pautnya sama Reza! Lo inget, saat gue tanding basket sama dia? Di saat itu dia ngambil sampel darah gue, dan dikirim ke Adele. Gila ‘kan itu cewek!” jawab Bisma, dengan nada yang sangat kesal menceritakannya.


Morgan mendelik tak percaya, “Apa? Gila! Ini gila sih! Rencananya terkesan rapi, dan disusun sebisa mungkin. Gue sampai gak kepikiran soal plot twist yang dia mainin! Pantes aja si Adele waktu itu ketemu sama Reza,” ujar Morgan, Bisma hanya bisa menunduk pasrah dengan apa yang sudah terjadi pada mereka.


“Gue udah pasrah, Gan. Gue juga udah nerima takdir gue, untuk bertanggung jawab dengan anak yang Adele kandung. Makanya, sekarang gue harus bisa jaga jarak dengan Ara. Gue pengen, lo jaga dia selama gue jaga jarak dengan dia. Gue gak percaya siapa pun, apalagi Reza. Gue cuma percaya sama lo,” ujar Bisma, mengatakannya dengan nada yang sangat serius.


Morgan terdiam sejenak, karena melihat sikap Bisma yang seperti itu di hadapannya. Tidak biasanya Bisma berkata dengan serius, dan hanya mengatakan leluconnya saja. Namun, kali ini Bisma benar-benar mengatakan hal yang sangat serius. Morgan terkejut, sampai tidak bisa berkata-kata.


“Ya, gue pasti jaga Ara. Tanpa lo pinta pun, gue memang pengen jaga Ara,” ujar Morgan, Bisma pun tersenyum mendengarnya.


“Baguslah,” gumam Bisma, sembari menarik kembali tangannya yang tadi digunakan untuk menepuk bahu Morgan.


Mereka terdiam sejenak, meresapi perasaan yang mereka rasakan. Morgan menoleh ke arah Bisma, masih merasa penasaran dengan keadaan ini.


“Lantas, bagaimana tentang perasaan Ara ke lo? Dia pasti sangat terpukul kalau tahu lo akan menikah dengan Adele,” ujar Morgan, yang memang sedari dulu mengetahui kalau Ara menyukai Bisma lebih dari sekadar kakak.

__ADS_1


“Dari mana lo tau, tentang perasaan Ara?” tanya Bisma.


“Simple aja. Gue selalu perhatiin ekspresi Ara. Saat tragedi lo sama Reza yang main basket itu, terus saat lo ketahuan ciuman sama Gladis, Ara sebenarnya udah suka banget sama lo. Dia aja yang gak ngerti dan gak paham perasaannya yang lebih dari sekadar kakak,” jawab Morgan, membuat Bisma tersadar dengan hal itu.


“Ya, di saat itu gue bodoh banget malah deketin Gladis lagi. Gue pengen tau, seberapa dalam dia kehilangan gue. Ternyata, dia beneran kehilangan gue dan gue juga sekarang kehilangan dia,” ujar Bisma.


Morgan hanya bisa diam, mendengar penuturan yang Bisma katakan padanya.


Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Gue suka banget sama Ara, bahkan cinta sama dia. Tapi memang begini takdirnya, gue bersyukur karena gak jadi pacaran sama Ara. Gue sayang banget sama Ara, tapi gue lebih sayang sama Adele dan anak yang ada di dalam kandungannya,” ujarnya, membuat Morgan tersentuh mendengar ucapan Bisma yang seperti ini.


Morgan pun mengangguk mengerti, “Ya, gue paham kok apa maksud lo,” ujarnya.


“Okay, gue harap, lo bisa mengalihkan perhatian Ara, di saat gue lagi berusaha untuk menjauhi dia. Memang gak mudah buat ngelupain Ara, tetapi itu semua akan terasa mudah, kalau lo bantu gue,” pinta Bisma, Morgan pun mengangguk menyetujuinya.


“Ya, gue pasti bantu lo kok! Lo tenang aja, dan fokus aja sama urusan lo tentang Adele dan juga anak yang ada di dalam kandungannya,” ujar Morgan, berusaha untuk memberikan kelonggaran kepada Bisma, agar Bisma tidak berpikir terlalu banyak mengenai permasalahan yang ada.


“Makasih, Gan. Lo emang teman terbaik.” Bisma memaksakan tersenyum di hadapan Morgan, dengan Morgan yang juga memaksa tersenyum di hadapannya.


“Makasih, karena lo udah mikir begitu,” ujar Morgan, Bisma menghela napasnya dengan panjang, lalu segera menyeringai dan kembali menjadi seperti Bisma yang biasanya.


“Gitu dong! Itu baru namanya temen gue!” ujar Bisma dengan sangat bersemangat, membuat Morgan tersenyum sembari menahan rasa sendunya karena mendengar ucapan Bisma.

__ADS_1


‘Bisma ... sekuat apa sih hati lo? Kuat banget, sampai gue aja ngerasa ngilu dengarnya. Takdir lo begini banget, gue salut sama lo yang masih mau nerima takdir lo itu,’ batin Morgan, merasa sangat hormat dengan sikap Bisma yang seakan tidak ada beban pikiran itu.


***


__ADS_2