
Setelah masuk ke dalam mobilnya, Bisma pun menutup pintu mobilnya dengan keras.
Tak bisa dipungkiri, Bisma masih marah dengan kejadian tadi. Ia melihat ke arah Ara yang sepertinya tidak mau melihat ke arahnya.
Dengan sangat berat, Bisma pun berusaha mengendalikan amarah dengan terus-menerus menghela napas panjang. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah, agar Ara tidak mereka ketakutan.
Bisma masih tidak habis pikir dengan kejadian hari ini, ‘Kenapa Reza bersikeras untuk mengejar Ara sampai seperti ini? Aku harus membuat Ara mengaku dengan semua yang terjadi padanya!’ batinnya, merasa sangat tertekan dengan apa yang terjadi dengan Ara dan juga Reza.
***
Bisma sudah mengantarkan Ara sampai ke rumah. Karena merasa sedikit suntuk, Bisma ingin pergi untuk meregangkan otaknya.
‘Aku rasa ... aku harus me-refresh diriku dulu. Aku tidak ingin bertemu dengan Ara, untuk sementara waktu ini. Biar kita sama-sama tenang dulu,’ batin Bisma, benar-benar sangat tidak ingin diganggu dulu saat ini.
Setelah selesai mandi, Bisma membawa motornya dengan kecepatan penuh, dan bergegas bertemu dengan Morgan dan Rafael untuk sekadar bermain game bersama.
Tak membutuhkan waktu lama, Bisma pun sampai di rumah Morgan. Ia mengambil bungkusan makanan yang baru saja ia beli sewaktu perjalanan ke tempat ini. Bisma menembus masuk ke dalam rumahnya, tanpa permisi.
Ya, Bisma memang sudah biasa seperti ini. Mereka pun sudah terbiasa dengan sikap Bisma yang seenaknya.
Setelah sampai di ruangan tamu, Bisma pun menjatuhkan dirinya ke atas sofa yang sangat empuk, lalu meletakkan bungkusan makanan yang ia bawa, ke atas meja.
Terlihat Morgan yang sedang asyik membaca buku novelnya, dan juga Rafael yang sedang bermain game di sana. Melihat kedatangan Bisma, Morgan yang terusik dengan kehadirian Bisma yang dengan seenaknya menghempaskan dirinya ke atas sofa, segera meletakkan novel yang sedang ia baca, dan memerhatikan ke arah Bisma.
“Kusut amat itu muka,” seloroh Morgan pada Bisma.
Bisma memandang Morgan dengan sinis, membuat Morgan tertawa tipis sembari memandangnya.
“Diem deh loe!” Bisma tiba-tiba saja membentak Morgan, membuat Morgan merasa terkekeh.
Morgan menggeleng kecil ke arah Bisma. Sementara di sana, terlihat Rafa yang sesekali menoleh ke arah Bisma yang terlihat sedang kacau.
__ADS_1
Rafa memukul bahu Bisma cukup keras, membuat Morgan menahan tawanya.
“Kenapa lo?” tanya Rafa, Bisma semakin terlihat kesal karena ia merasa kaget saat Rafa memukul bahunya.
“Masalah Reza,” jawab Bisma.
Mendengar ucapan Bisma, Morgan pun hanya bisa tertawa mendengarnya. Sudah lama sekali, saat Bisma kesal dengan Reza karena berebut gadis pujaan hati.
‘Apa ... kali ini mereka sedang memperebutkan gadis lagi?’ batin Morgan, yang sudah menduganya.
“Pasti karena cewek lagi tuh!” celetuk Rafael, membuat Morgan tak tak bisa menahan tawa setelah mendengarnya.
Perkiraan Morgan selalu tepat dalam hal apa pun.
Bisma hanya diam mendengar ucapan Morgan dan Juga Rafael. Tatapan mereka berdua seperti sedang mengejeknya. Bisma tidak mungkin mengatakan perasaannya saat ini.
‘Aku harus menutupi semuanya dari mereka!’ batin Bisma, berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi semua yang ia rasakan.
Mereka memandang kaget ke arah Bisma, mendengar ucapan Bisma yang seperti itu.
“Apa!” pekik mereka kaget, Bisma hanya memandangnya dengan tatapan datar.
“Apa gue belom pernah ngomong sama kalian? Waktu itu gue udah jelasin ‘kan, tentang adik tiri gue?” tanya Bisma.
“Bukan itu ... maksud gue, kenapa bisa Reza ngedeketin adik tiri lo?” bantah Morgan.
Bisma sampai tidak mengerti dengan yang Morgan ucapkan tadi. Kepalanya sangat aneh, dan tidak bisa dikompromi jika ada masalah. Ia tidak bisa mencerna dengan baik.
“Sorry, gue gagal fokus. Gue juga gak tau gimana awal ceritanya. Waktu itu, gue ketemu mereka di lift sekolah, dan Reza megang tangan Ara tiba-tiba. Sampai satu sekolahan tau, kalau mereka berbuat macam-macam di dalam lift,” ujar Bisma yang berusaha untuk mengingat kembali tentang kejadian waktu itu.
Morgan menatap Bisma tajam, begitu pun dengan Rafa.
__ADS_1
“Gue pernah denger beritanya. Jadi, Arasha itu ... adik tiri loe?” tanya Morgan dengan mata yang tidak bisa lepas dari pandangan Bisma.
Bisma tidak bisa bohong dari Morgan. Sekali ia salah berbicara, ia tidak akan bisa berbohong lagi padanya.
“Iya. Parahnya apa, mereka sekelas sekarang. Jadi, mereka lebih sering ngabisin waktu bareng. Yang gue kesel, mereka tuh romantis-romantisan mulu di sekolah. Gue jadi nyesel nyuruh dia sekolah di tempat kita. Sampe upload foto bareng di Ensta punya Ara. Sampe ngasih hadiah segala. Bahkan, handphone yang gue kasih juga dimodusin sama dia buat foto-foto bareng sama Ara. Gila gak tuh?” Bisma sudah merasa kesal saat ini. Ia tidak bisa menahan amarahnya lagi.
‘Kalau tidak sengaja dipertemukan dengannya di sini, aku akan langsung menghajar dirinya detik ini juga!’ batin Bisma, benar-benar tidak bisa menahannya.
Morgan menatap diri Bisma dengan tatapan yang menusuk. Hal itu membuat Bisma harus berjaga-jaga, dan harus pintar mengolah kata kalau tidak ingin dipermainkan olehnya.
Bisma mengambil minuman yang ia beli tadi, dan menenggaknya dengan cepat, karena merasa kehausan.
“Bukan hal yang tidak mungkin kalau saudara tiri, memiliki rasa—”
“Uhuk ... uhuk ....”
Bisma tersedak, mendengar ucapan Morgan ternyata sangat tepat. Bisma mulai mengatur napasnya, karena dadanya terasa sangat sakit, efek tersedak tadi.
“Nah. Bener tuh kata Morgan. Jangan-jangan ... lo su—”
“Gue mau ke toilet dulu!” Bisma segera memotong ucapan Rafael, karena ia tidak mau mereka sampai berpikir yang tidak-tidak padanya. Ia tidak ingin disebut sebagai laki-laki yang tidak tahu malu. Dari sekian banyak gadis, kenapa harus menyukai adik tiri sendiri? Mereka juga pasti akan berpikir, ‘Apa aku kekurangan stok gadis yang mencintaiku?’
‘Sudahlah ... lebih baik menghindar dari mereka untuk sementara ini,’ batin Bisma, yang lalu pergi dari hadapan mereka untuk menuju ke arah toilet.
***
Saat ini, Bisma melihat banyak sekali notifikasi dari handphone-nya. Ia penasaran, siapa saja yang sudah mengirimkan pesan padanya. Ia membukanya dan melihatnya satu per satu pesan.
‘Banyak sekali gadis yang mengirimkan pesan singkat padaku. Aku sampai merasa tidak enak jika mengabaikan mereka. Tapi ... aku sedang tidak ada mood untuk membalas pesan mereka,’ batin Bisma, yang hanya membaca dari luar pesannya, dan sama sekali tidak melihat isi pesan tersebut.
Perhatiannya tertuju pada satu pesan. Pesan singkat dari Gladis, gadis paling cantik di kelasnya.
__ADS_1
‘Entah kenapa, dia jadi bersikap lunak padaku sekarang. Setelah dia mengacuhkanku demi mengejar cinta Reza. Lagi-lagi Reza ada disetiap permasalahan cintaku,’ batin Bisma, yang benar-benar sangat tidak suka dengan orang itu.