Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Cukup Waras


__ADS_3

Ara dan Morgan sudah pergi ke rumah Ilham, sementara di sana Bisma baru saja hendak pergi, dan melewati ayahnya yang masih berada di ruangan tamu.


“Bisma,” panggil ayahnya, Bisma pun menghentikan langkahnya karena tersadar dengan keberadaan ayahnya yang ada di rumah ini.


“Papa, kenapa Papa di sini?” tanya Bisma heran, dengan pertanyaan yang selalu ia tanyakan kepada ayahnya, ketika bertemu dengan ayahnya.


Ayahnya memandangnya dengan heran. “Kamu selalu bertanya seperti itu sama Papa, kalau melihat Papa ada di rumah. Kenapa sih? Kamu gak suka Papa ada di rumah ini?” tanyanya memastikan.


Bisma memandang ayahnya dengan datar, “Enggak,” jawabnya singkat, sontak membuat ayahnya mendelik mendengarnya.


“Kurang ajar anak seperti ini!” geram ayahnya, tetapi Bisma sedang tidak ingin meladeni emosi ayahnya itu.


“Udah ya, Pah. Bisma lagi gak mau berantem sama Papa. Ada hal yang harus Bisma urus,” ujar Bisma, membuat ayahnya semakin mendelik kesal karenanya.


“Kamu mau ke mana? Apa mau ngehajar anak yang bernama Ilham lagi?” tanya ayahnya, Bisma mendelik kaget mendengarnya.


“Ara yang kasih tau?” tanya Bisma, tetapi ayahnya tak menjawab.


“Jangan sok jadi jagoan kamu, Bisma! Papa suruh kamu belajar, bukan untuk jadi jagoan!” bentak ayahnya, yang sudah tidak tahu lagi dengan cara seperti apa untuk menasehati anak satu-satunya itu.


Bisma yang sudah terlanjur kesal, hanya bisa diam. Ia tidak ingin kata-kata kasar terucap kembali ke hadapan ayahnya. Ia ingin berusaha untuk menerima takdirnya, dengan kesalahan ayahnya yang ayahnya lakukan di masa lampau.


“Ini semua karena Ilham udah bully Ara dari zaman Ara masih di desa. Papa gak pernah tau perasaan Ara gimana waktu di-bully Ilham. Kata-kata kasar Ilham, sampai perbuatan Ilham yang salah satunya adalah ngasih permen karet ke rambut Ara, udah beneran di luar bates. Sampai kemarin pun dia teriak-teriak bilang kalau Ara itu anak haram. Bisma gak mau semua yang Ilham lakuin itu membekas di psikis Ara!” ujar Bisma menjelaskan.


Ayahnya baru mengerti dengan apa yang Bisma jelaskan. Kalau begitu kejadiannya, ayahnya pun akan sangat setuju dengan apa yang Bisma lakukan pada Ilham. Namun, yang jadi permasalahannya, Ara tidak dendam dengan Ilham dan sekarang malah menjenguk Ilham ke rumahnya.

__ADS_1


“Kalau begitu caranya, Papa juga agak setuju sama kamu. Tapi kenapa Ara malah jenguk dia sekarang ke rumahnya?” gumam ayahnya kebingungan, sontak membuat Bisma mendelik kaget mendengarnya.


“Apa? Ara ke rumah Ilham? Sama siapa?” tanya Bisma tak percaya.


“Sama Morgan tadi. Papa kira Morgan mau ketemu kamu, tadinya Papa mau bangunin kamu. Ternyata Morgan mau ketemu Ara, dan ngajak Ara ke rumah Ilham buat jengukin Ilham,” jawab ayahnya menjelaskan, membuat Bisma semakin kesal saja mendengarnya.


‘Lagi-lagi Morgan! Kenapa dia malah jadi deket banget sama Ara, sih? Kenapa malah makin gak ada celah antara gue sama Ara?’ batin Bisma sinis, kesal dengan apa yang terjadi dengan Ara dan juga Morgan.


“Kalau dilihat lagi, Morgan sepertinya suka sama Ara. Gak ada salahnya kalau Morgan sama Ara—”


Karena sudah terlalu kesal, Bisma pun pergi meninggalkan ayahnya yang sedang berbicara dengannya itu. Bisma sudah tidak lagi mau mendengarkan ucapan ayahnya, karena ia tidak ingin sampai ayahnya mengetahui perasaannya terhadap Ara, yang melebihi perasaan seorang kakak terhadap adiknya.


“Bisma!” pekik ayahnya, yang sedikit kesal karena Bisma yang meninggalkannya sendirian di sana, padahal ia sedang mengajaknya berbicara.


Dengan segera Bisma pun menuju ke arah mobilnya. Ia juga harus ke rumah Ilham, untuk menyelidiki apa tujuan Ara dan Morgan ke rumah Ilham.


“Gak akan gue biarin kalian bahagia!” gumam Bisma, sembari menyetir mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.


Akhirnya setelah beberapa waktu menuju kediaman Ilham, Ara dan Morgan pun sampai di sana. Ara sempat ragu karena mendadak ia yang merasa ciut. Namun, Ara sama sekali tidak ingin Morgan mengetahuinya.


‘Aku harus kuat, aku harus bisa jadi Ara yang berbeda, dari Ara yang sebelumnya mereka kenal!’ batin Ara, yang berusaha untuk meyakini tekadnya.


“Aww ....”


Tiba-tiba saja perut Ara terasa sakit kembali. Karena semalam ia marah pada Bisma, ia sampai tidak sempat makan malam dan perutnya semakin sakit rasanya. Ara juga tidak melakukan sleep call dengan Morgan, saking lelahnya ia menahan rasa sakit pada perutnya, sehingga ia langsung terlelap setelah menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


Morgan masih tidak menyadarinya, dan langsung membukakan pintu untuk Ara keluar dari mobilnya. Ara pun keluar dengan keadaan yang baik-baik saja, karena ia masih berusaha untuk menyembunyikan hal itu dari Morgan.


“Ayo,” ajak Morgan sembari mengulurkan tangannya ke arah Ara.


Ara meraih tangan Morgan, dan Morgan merasakan tangan Ara yang dingin tak seperti biasanya. Wajah Ara juga sedikit pucat, karena Ara yang tidak makan malam, dan juga pagi ini tidak sarapan karena harus segera ke rumah Ilham.


Morgan memandang Ara dengan heran. “Ara kenapa dingin tangannya? Mukanya juga pucet. Lo sakit?” tanyanya, Ara hanya menyeringai kecil di hadapan Ara.


“Enggak, Ara gak sakit. Ayo kita masuk ke dalam. Gak enak lama-lama di sini.” Ara mengajak Morgan, yang lalu segera melangkah keluar mobilnya.


Morgan yang heran, hanya bisa memandang Ara dengan heran. Ia hanya bisa memikirkannya, tidak mengatakan apa pun atau mengambil tindakan apa pun.


Sementara itu, Bisma datang tepat pada waktunya sebelum Ara dan Morgan masuk ke dalam rumah Ilham. Bisma langsung memarkirkan mobilnya, dan berlarian ke arah Ara dan Morgan yang berada di hadapannya.


Bisma meraih tangan Ara, sontak membuat Ara dan Morgan terkejut dengan kedatangan Bisma yang tiba-tiba.


“Bisma?” gumam Ara, terkejut dengan kedatangan Bisma di sini.


“Lo mau minta maaf ‘kan sama Ilham? Biar gue juga ikut sekalian minta maaf, kalau itu bikin lo seneng!” ujar Bisma, yang lalu segera menarik tangan Ara, dan meninggalkan Morgan di sana sendirian.


Morgan harus mengakui, bahwa ia sangat cemburu dengan apa yang Bisma lakukan pada Ara. Namun, ia masih waras untuk tidak berbuat keributan di rumah orang lain. Apalagi saat ini mereka hendak menjenguk Ilham yang sakit. Rasanya kurang tepat, jika mereka meributkan hal kecil seperti ini, di saat seperti ini.


“Bisma, kalau bukan karena ini lagi di rumah Ilham, gak akan gue biarin lo sentuh Ara!” gumam Morgan, yang kesal dengan apa yang Bisma perbuat itu.


Sebisa mungkin Morgan menekan emosinya, sampai akhirnya menghela napasnya dengan panjang. Ia pun segera menyusul Ara dan Bisma, dan sejenak mengesampingkan egoisnya dan juga rasa amarahnya pada Bisma.

__ADS_1


__ADS_2