
“Apa? Ara ‘kan lagi ngomong sama kakak pelayan yang tadi. Kenapa pada pergi sih?” ucap Ara dengan kesal, tetapi tidak berani berteriak kepada Bisma, karena sedang ada Bisma di hadapannya.
Ara sangat malas jika Bisma memberikan komentar pada setiap hal yang ia lakukan.
“Temenin gue sekarang aja. Jangan nunggu nanti sore!” ujarnya memberikan perintah dengan nada yang terdengar seenaknya.
Ara menjadi sangat tidak terima dengan tingkahnya yang terlihat sangat bossy itu.
“Apa sih ... aku ‘kan baru sampai sini beberapa jam yang lalu. Aku capek tau ... nanti sore aja dong ....” Ara menolaknya dengan nada khas yang ia miliki. Nada orang desa, Ara masih tidak bisa mengikuti logat mereka para orang kota.
Bisma menatapnya sinis, “Kalau kata Bisma ikut, ya ikut,” ujarnya dengan lembut, tetapi datar.
Ara memandangnya dengan heran, ‘Ternyata, Bisma bisa juga untuk berkata lembut seperti ini. Dia juga tidak berteriak seperti tadi. Bisma tidak buruk juga untuk seukuran seorang kakak,’ batin Ara, yang merasa sedikit senang mendengar Bisma yang memintanya dengan lembut seperti itu, tidak seperti sebelumnya.
“Tapi kan, Bis—”
“Gak usah pakai kata tapi!” pangkasnya, sembari menarik tangan Ara untuk ikut dengannya.
Mau bagimana lagi, Ara hanya menggerutu saat Bisma menarik paksa lengannya.
Bisma membawa Ara ke tempat ia memarkirkan motornya. Di sana, terlihat motor merah besar yang sering Ara lihat di majalah yang ibunya miliki.
Berbeda dengan waktu itu, kali ini Ara melihatnya dengan sangat jelas di hadapannya.
Matanya membulat takjub, ‘Jadi, seperti ini bentuk dari motor yang aku lihat di majalah waktu itu? Ingin sekali aku mencoba menaikinya,’ batinnya yang merasa sangat takjub melihatnya.
“Wahh ....” Ara hanya melongo kaget, karena kesan pertama saat Bisma membuka penutup yang menutupi motornya itu.
“Kenapa?” tanya Bisma, Ara hanya menggeleng kecil sembari berdecak kagum.
“Ternyata, ini motor yang Ara lihat di majalah ibu waktu itu. Bener-bener bagus banget. Keren ....” Ara masih saja memandangnya dengan saksama.
Bisma tak menghiraukannya dan lantas naik ke atas motor tersebut, “Mau nunggu apa lagi? Ayo naik!” suruhnya dengan wajah yang datar.
__ADS_1
Ara berusaha menyadarkan dirinya. Setelah mendapatkan kembali kesadarannya, Ara pun mendekati Bisma dan mencoba untuk menaiki motor tersebut.
Namun, langkahnya terhenti sejenak. Ia memandangi lagi ke arah motor tersebut, dengan jari telunjuk yang menyentuh dagunya. Ara memerhatikan bentuk motor ini.
“Ini sih ... tinggi banget,” gumam Ara yang hampir ingin menangis, karena melihat motor yang sangat tinggi ini.
Ara tidak tahu cara menaiki motor ini. Bisma menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan datar.
“Lama banget sih? Kenapa?” tanya Bisma yang terdengar sedikit kesal.
“Aku gak bisa naiknya gimana ...,” lirih Ara yang hampir saja menangis, hanya karena bingung.
Bisma menoleh ke arah bawah. Ia seperti sedang membuka sesuatu. Setelah berhasil membuka penginjak tersebut, ia menyodorkan tangannya ke arah Ara.
Karena merasa gagal paham, Ara pun menjadi bingung karena tangan Bisma yang aneh yang menjulur ke arahnya.
Ara mengerenyitkan keningnya bingung, ‘Kenapa Bisma ingin aku memberikan uangku padanya? Apa dia tidak cukup dengan uang yang ia miliki saja?’ batin Ara, yang lalu merogoh kantung celananya untuk mencari uang yang tersisa untuk diberikan kepada Bisma.
Beberapa saat merogoh, Ara menemukan sisa uang receh, kembalian sisa menaiki angkot tadi dan juga beberapa bungkus permen. Ia pun memberikan semua yang ia dapatkan, dan meletakkannya di tangan Bisma.
‘Apa ada yang salah dariku?’ batin Ara lagi.
Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Maksud gue tuh ... ayo, gue bantu loe naik. Bukan malah ngasih recehan begini!” ucapnya kesal.
Lagi-lagi Ara salah menangkap maksud Bisma. Ia sama sekali tidak paham dengan gaya anak kota.
“Ih kalo di kampung tuh ya, kalo ada yang mau minta anterin diboncengin ojek, itu harus bayar. Terus Bisma tadi begini ...,” tutur Ara gemetar, sembari tetap mempraktikkan cara Bisma menyodorkan tangannya ke arahnya.
Melihat sikap Ara yang aneh, Bisma hanya bisa memejamkan matanya, kemudian kembali menyorotkan pandangannya ke arah Ara. Lidah Ara terasa kelu, tak tahu harus berkata apa.
‘Sepertinya, Bisma sudah marah padaku,’ batin Ara, yang sudah terlalu khawatir dan ketakutan saja karenanya.
Bisma pun menyambar tangan Ara, lalu mengantongi uang receh dan beberapa bungkus permen yang Ara berikan tadi, di saku jaketnya. Kemudian Bisma tetap menyodorkan tangannya ke arah Ara.
__ADS_1
“Arasha ...,” pekik Bisma seperti sedang menahan kesal.
Tubuh Ara seakan bergetar sendiri, tak tahu harus merespon apa.
“Ayo naik. Kita udah telat,” sambungnya.
Ara tidak kuat dengan desakannya. Bisma terlalu memaksa dan ambisius. Mau tidak mau, ia harus mengikuti keinginannya. Ara hanya mengerucutkan bibirnya saja.
Bisma tersenyum tipis, melihat Ara yang saat ini sedang mengerucutkan bibirnya di hadapannya.
“Jangan manyun-manyun. Nanti gue cium lho,” gertak Bisma, membuat Ara semakin ketakutan saja.
Ara terkejut mendengar Bisma mengatakan hal yang demikian, “Ihhh ...,” teriaknya, yang merasa sangat takut mendengar ucapan Bisma itu.
‘Aku tidak akan memanyunkan bibirku lagi di hadapannya!’ batin Ara, memaki Bisma di dalam hatinya.
Bisma tersenyum tipis, “Ayo cepetan naik,” suruh Bisma, sembari menyodorkan kembali tangannya ke arah Ara.
Jantung Ara seketika berdebar, ‘Kenapa aku sangat sensitif dengan sesuatu yang romantis? Tidak ada yang pernah berbuat seperti ini padaku. Bagiku hal seperti ini, hanya ada di buku novel romantis yang sering aku baca,’ batin Ara, yang mulai menggapai tangannya.
Tubuh Ara seketika bergetar. Padahal, ia hanya memegang tangannya saja saat ini.
“Injak yang tadi gue buka,” suruhnya, Ara mengangguk sembari tetap menjaga kewarasannya. Ia kemudian menginjak sesuatu yang tadi Bisma buka. Dengan susah payah, Ara pun akhirnya berhasil menaiki motor itu.
“Aww ....” Ara kaget sekali. Saat melihat ke arah depan, matanya membulat karena ternyata berada di atas sini sangat membuatnya tidak nyaman, karena terlalu tinggi.
“Bismaaaaaaaa, aku takut! Ini tinggi banget!” teriak Ara, yang langsung memeluk tubuh Bisma dengan erat.
Saking takutnya, Ara sampai tidak tahu lagi harus seperti apa. Ia hanya bisa memeluk Bisma, karena merasa sangat takut.
‘Jadi, ini rasanya berada di atas motor ini? Ini kali pertama aku merasakannya,’ batin Ara, yang tak sadar sampai menangis saking takutnya.
Karena merasakan sesuatu yang kenyal menempel pada tubuhnya, Bisma merasa agak aneh.
__ADS_1
Ara, bukan wanita yang terlihat cantik, tetapi tubuhnya mampu membuat Bisma panas dingin karenanya.