Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Bully


__ADS_3

Tubuh Bisma seketika berubah menjadi hangat. Ara yang menyadarinya, seketika langsung melepaskan pelukannya. Tanpa sadar, Ara membuat kesalahan lainnya.


Matanya mendelik kaget, ‘Apa aku telah membuat Bisma marah, sehingga suhu tubuhnya drastis naik?’ batin Ara kebingungan.


“Bisma jangan marah lagi, Ara gak akan meluk Bisma sembarangan lagi kok!” rengek Ara, dengan nada yang sedang menahan tangis.


Sesuatu mengusik pikiran Ara, ‘Kalau Bisma membenciku, aku akan kesulitan untuk tinggal di sini lagi. Aku sudah terlalu nyaman tinggal di rumah sebesar ini. Aku tidak mau tinggal sendirian di kampung itu. Aku pasti akan bertemu dengan orang-orang yang akan mem-bully kulagi!’ batin Ara, yang merasa harus mengutuk dirinya karena hal ini.


Dengan segera, Ara melepaskan tangannya yang melingkar pada pinggang Bisma. Hal itu membuat Bisma tersentak kaget.


“Jangan dilepas!” lirihnya, membuat Ara kebingungan mendengarnya.


“Hah?” Ara bingung dan segera merenggangkan pelukannya, untuk bisa melihat ekspresinya.


Namun, belum sempat Ara melihat wajahnya, ia sudah menarik Ara lagi, sampai Ara pun memeluknya kembali.


Ara mendelik kaget, bingung dengan apa yang Bisma lakukan padanya.


‘Ada apa dengan perubahan sikap Bisma yang drastis? Apa aku tidak salah dengar? Ia melarangku untuk melepaskan pelukannya. Kenapa Kakakku ini romantis sekali?’ batin Ara, tersenyum seketika sesaat setelah Bisma menarik tangannya untuk memeluknya kembali.


Ara berpikir romantisnya Bisma mungkin karena ia adalah kakaknya. Namun, yang Bisma pikirkan ternyata berbeda dari yang Ara pikirkan.


Bisma mulai melajukan motor ini. Namun aneh, rasa takut Ara belum juga menghilang sampai saat ini. Ia tidak berhenti untuk memeluk Bisma sepanjang jalan, menuju lokasi tujuan.


Alih-alih menghilangkan rasa takutnya, Ara malah merasakan kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


‘Kenapa senyaman ini berada di pelukan Bisma? Apa seperti ini rasanya mempunyai Kakak yang benar-benar menyayangi kita?’ batin Ara bingung, lalu semakin mempererat pelukannya pada Bisma.


***


Mereka kin sudah sampai di salah satu mall terdekat dari kediaman Bisma. Bisma menghentikan motor besarnya secara tiba-tiba, membuat Ara merasa agak khawatir.


“Udah sampe, nih!” ucap Bisma, Ara pun memberanikan diri untuk melihat ke sekelilingnya.


‘Ternyata diboncengi dengan Bisma tadi, cukup membuat kepalaku pusing,’ batin Ara, merasa agak takut diboncengi Bisma.

__ADS_1


Bisma pun turun dari motornya, sehingga membuat Ara terpaksa harus melepaskan pelukannya darinya.


Bisma terlihat sedang menahan tawanya. Sangat menjengkelkan, saat melihat Bisma menahan tawa.


“Apa sih? Bisma ngetawain Ara mulu! Ara jadi sebel ....” gumam Ara lirih, yang memang tak bisa marah padanya. Ara hanya bisa memanyunkan bibir di hadapannya.


“Udah gue bilang, jangan manyun-manyun, nanti kalau gue khilaf terus nyium loe gimana?” seloroh Bisma, membuat wajah Ara seketika menjadi panas.


Ara merasa sangat malu, dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


‘Apa memang ini yang terjadi ketika mempunyai kakak laki-laki? Apa harus mencium adiknya juga?’ batin Ara, yang merasa agak aneh dengan hal itu.


“Ayo ...,” ajak Bisma yang langsung pergi dari sana, tetapi Ara hanya diam karena takut untuk turun dari motor ini.


“Aduh ... Bisma ninggalin Ara di sini. Gimana caranya Ara turun dari sini?” gumam Ara, yang merasa benar-benar sangat takut dengan keadaan.


Bisma yang sudah meninggalkan Ara, sampai harus balik lagi karena tidak melihat Ara di sampingnya.


“Duh ... aku benar-benar gak bisa kalau terus-terusan naik motor tinggi seperti ini. Lama-lama, aku bisa mati jantungan karena ketakutan,” gumam Ara, masih meratapi bagaimana cara ia turun dari motor ini.


“Bisma, Ara nggak bisa turun ...,” rengek Ara.


Lagi-lagi, Bisma memperlihatkan ekspresi yang menurut Ara sangat aneh. Wajahnya terus-menerus terlihat memerah, membuat Ara bingung dan kemudian menyentuh dagunya sembari berpikir.


“Bisma, kenapa mukanya merah mulu sih? Bisma kepanasan, atau sekarang lagi marah sama Ara?” tanya Ara dengan sangat polos.


Tak menjawab pertanyaan Ara, Bisma tiba-tiba saja menggendongnya. Ara sampai gelagapan karena ia merasa takut sekali jatuh.


“Bisma! Ara takut jatuh!” teriak Ara, tetapi Bisma tidak menghiraukan dan malah lekas menurunkannya.


Ara akhirnya lega karena ia sudah berhasil menginjakkan kakinya ke tanah. Namun, hal itu masih membuat Ara bergetar kaget, karena tindakan Bisma yang menggendongnya itu terjadi tiba-tiba sekali. Ara saja sampai belum siap.


“Ih Bisma mah, Ara kaget tahu!” Ara menggerutu kesal.


‘Kenapa dia sangat menjengkelkan sekali sih?’ batin Ara, lagi-lagi kesal karena sikap Bisma yang sangat random.

__ADS_1


“Habisnya, loe lama sih! Gue kan lagi buru-buru!” bentak Bisma, membuat Ara merasa sedikit kesal tetapi entah bagaimana cara dia melampiaskannya pada Bisma.


‘Apa ada suatu hal penting yang tidak boleh terlewatkan?’ batin Ara agak penasaran.


“Ih Bisma mah, galak banget sih!” Ara meniru nada bicara Bisma, agar ia tidak terlihat kalah darinya.


Bisma memelototinya, tetapi Ara hanya membalasnya dengan menjulurkan lidahnya saja.


“Udah cepetan!” bentak Bisma lagi, kemudian langsung menarik tangan Ara dengan kasar.


Ara yang terkejut, tidak bisa berbuat apa pun, karena tenaga Bisma yang lebih besar dari tenaganya. Alhasil, Ara hanya bisa mengikuti keinginan Bisma saja.


Bisma mengajak Ara pergi ke suatu tempat. Mereka pun berhenti tepat di depan tempat tersebut.


Ara hanya melongo kaget, ‘Bukankah yang kulihat ini salon?’ batin Ara, merasa kebingungan dengan apa yang ia lihat.


“Wah ....” Ara melongo kaget, sembari melihat ke sekeliling tempat ini. Ia masih bingung sebenarnya, apa tujuan Bisma mengajaknya datang ke tempat ini?


Ara memandang ke arah Bisma, “Ini bukannya salon?” tanyanya, Bisma mengangguk kecil mendengarnya.


“Ya, ini salon.”


“Wah ... salon di sini gede banget, ya! Beda sama salon yang ada di kampung,” lirih Ara, kembali melihat ke sekeliling tempat ini.


Bisma memandangnya heran, “Memangnya, loe pernah ke salon?” tanya Bisma.


Ara mengernyitkan dahinya, ‘Kenapa dia senang sekali membuatku kesal dengan cara merendahkanku?’ batinnya yang merasa sangat tersinggung dengan pertanyaan Bisma.


“Ya pernah dong! Waktu itu ... ibu ngajak aku ke salon buat potong rambut. Karena waktu itu, aku dijailin,” jawab Ara tegas, yang tak mau kalah dengan Bisma.


Bisma menatap sinis ke arahku, “Loe dijailin? Sama siapa?” tanya Bisma yang terdengar setengah kaget.


“Semua teman sekolahku di sana selalu ngejailin aku. Karena mereka semua tau, kalo aku ... cuma anak haram,” jawab Ara dengan sedikit ragu.


Tiba-tiba saja hati Ara merasa sangat sedih, karena ia mengingat masa lalunya yang selalu mendapatkan bully dari teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2