
“Waaaaaa--”
“Ahhh ....”
Jantung Ara ingin copot rasanya, karena seseorang mencoba mengejutkannya dari arah belakang. Ara saja hampir meloncat karena kaget, dan langsung menutup wajahnya dengan cepat.
“Ahhh ... pergi, pergi! Sana pergi!” teriak Ara yang sangat merasakan takut.
Ara melompat-lompat kecil, saking benar-benar ketakutan ia. Ia sampai tak tahan dan malah menangis sekeras mungkin, untuk menumpahkan perasaan gelisahnya.
Melihat Ara menangis seperti itu, Bisma menjadi sangat bingung, dan langsung memandangnya dengan bingung.
“Kok malah nangis, sih?” tanyanya Bisma, yang sejak tadi memang sudah berniat untuk menjahili Ara.
Ara yang mengetahuinya pun langsung sangat lega. Namun, tetap saja perasaan takut itu masih membekas. Betapa kagetnya ia, saat Bisma memeluknya. Ara tidak berani melihatnya, karena masih malu dengan dirinya tadi. Entah benar itu Bisma, atau bukan. Intinya, ia sangat malu.
“Dasar cengeng,” lirih Bisma, membuat Ara semakin merasa malu.
‘Apa baginya, aku terlihat seperti anak kecil yang cengeng?’ batin Ara, merasa sedikit kesal dengan apa yang Bisma pikirkan tentangnya.
“Ayo, ke sekolah,” ajak Bisma, membuat Ara melepaskan diri dari pelukannya itu, lalu memandang dirinya.
Bisma kembali terlihat seperti Bisma yang dingin, dan suka mengatur. Ara tidak punya pilihan lain selain ikut bersamanya.
‘Ya, aneh. Dia kembali lagi seperti Bisma yang dingin,’ batin Ara, merasa sangat kesal dengan sikap Bisma yang seperti itu.
Ara pun mengikuti Bisma menuju ke depan halaman rumah. Bisma menyuruhnya untuk menunggunya di depan garasi. Tak lama ia menunggu, sebuah mobil keluar dari garasi itu dan berhenti tepat di hadapannya, membuatnya takjub dengan keindahan design-nya.
‘Apa ini berarti, aku dan Bisma akan naik mobil ke sekolah?’ batin Ara, yang masih bertanya-tanya dengan keadaan mereka.
Bisma memandangnya dengan dingin, “Ayo naik,” pintanya, Ara hanya diam sembari memandang tak yakin ke arahnya.
“Kita ... naik mobil ke sekolah?” tanya Ara yang masih bingung, Bisma pun mengangguk kecil mendengarnya.
__ADS_1
Ara sungguh tidak percaya. Perubahan yang ia alami, sangat drastis seperti ini. Ia tidak lagi harus merasakan sakit pada bagian kaki, karena berjalan terlalu lama menuju ke sekolahnya dulu.
Ara pun tersenyum, lalu segera mengangkat kakinya untuk masuk ke dalam mobil. Bisma yang melihatnya pun langsung mendelik, karena tidak tahu dengan apa yang akan Ara lakukan.
“Ehhh ... ngapain loe?” tanya Bisma, membuat Ara menghentikkan langkahnya.
Ara terdiam memandangi Bisma dengan perasaan bingung, “Lho ... kenapa, Bis?” tanyanya balik, yang masih bingung dengan yang Bisma maksudkan.
‘Kenapa dia selalu labil? Apa aku membuat kesalahan lagi?’ batin Ara, benar-benar bingung dengan yang Bisma pikirkan.
“Buka pintunya, bukan malah naik lewat jendela!” bentak Bisma, membuat mata Ara membulat karena kaget.
Ara tersenyum menyeringainya, kemudian kembali pada posisi semula, “Lho, ini jendela?” tanya Ara tidak percaya dengan ucapannya.
Bisma menepuk pelan keningnya, lalu membukakan pintu mobil untuk Ara. Ara yang tak enak, langsung saja masuk sebelum Bisma menyuruhnya masuk untuk kedua kalinya. Ara duduk di samping Bisma, tetapi ia masih saja menatap Ara dengan tatapan sinis.
“Kenapa lagi?” tanya Ara yang masih bingung dengan arti dari tatapannya itu.
“Tutup pintunya!” suruhnya dengan datar.
Ara terdiam sejenak, karena ia masih bingung dengan keadaan yang ada di hadapannya, ‘Aku tidak pernah menutup pintu mobil sebelumnya. Apa ... menutup pintu mobil, sama seperti menutup pintu rumah?’ batin Ara, yang benar-benar sangat polos.
Ara memandang ke arah Bisma, “Tapi ... Ara gak bi—”
“Tarik sekencang-kencangnya!” potong Bisma, yang sepertinya sudah mengerti dengan maksud dari ucapan Ara.
Mendengar ucapan Bisma, Ara pun langsung saja menarik pegangan pintu mobil dan menariknya sesuai dengan intruksi dari Bisma.
BRAK!
Ara berhasil menutup pintunya, dan tidak sengaja terlempar sedikit ke belakang. Ada sesuatu yang janggal sekali!
‘Apa yang aku pegang ini?’ batin Ara, yang perlahan mulai melihatnya.
__ADS_1
Betapa kagetnya Arak arena mengetahui apa yang ia pegang. Mendadak ia menjadi banyak mengeluarkan keringat, saking takut dan khawatirnya ia dengan keadaan ini. Ia tidak tahu akan jadi seperti ini. Ia merusak pegangan pintu mobil Bisma, membuatnya sangat merasa bersalah.
Ara memandang gagang pintu itu dengan pandangan yang menyedihkan, seakan takut sekali untuk melihat ekspresi Bisma ketika ia marah. Perlahan, Ara pun melirik ke arah Bisma dengan sangat hati-hati. Ternyata, Bisma juga sedang melihat ke arahnya. Ara yang memang bersalah, tidak bisa berbuat apa pun. Lidahnya kelu, ia sangat gemetar karena takut Bisma mengomelinya.
Ara hanya bisa menelan salivanya sendiri, karena ia yakin, kali ini ia akan tamat.
***
Ara sudah sampai di sekolah barunya, dan juga tempat Bisma bersekolah. Bisma mengajaknya ke parkiran untuk memarkir mobilnya di sana.
Karena kesalahan itu, Ara masih saja kaku berhadapan dengan Bisma, karena sudah membuat kerusakan pada mobil Bisma. Ia jadi merasa tak enak hati pada Bisma. Makanya, sejak dalam perjalanan tadi, mereka sama sekali tidak berbincang.
Keadaan di dalam mobil tadi, cukup hening. Tak disangka, perjalanan menuju ke sekolah ini, sampai membutuhkan waktu hampir 1 jam lamanya. Padahal kalau dilihat, jaraknya tidak begitu jauh dari tempat mereka tinggal.
Ara masih kebingungan, ‘Bagaimana caranya untuk keluar dari mobil ini?’ batin Ara, yang benar-benar sangat bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Bisma masih saja diam, dan tidak mengindahkan keberadaan Ara di sini. Ia terlihat membereskan semua barang-barangnya, kemudian membuka pintu mobilnya dan hendak keluar dari mobil.
“Bisma, tunggu!” pekik Ara sembari menahan tangannya, membuat ia berhenti melangkah.
“Gimana caranya Ara keluar dari mobil?” tanya Ara dengan lirih.
Bisma menghempaskan pelan tangan Ara yang sedang menahan tangannya. Ara merasa kaget, dan mendadak menjadi sangat sedih dengan saat mengetahui sikapnya.
Bisma pun keluar dari dalam mobil, “Lewat sini,” ucapnya dengan nada datar.
Satu senyuman mengembang di pipi Ara, karena merasa Bisma bisa membuatnya senang karena sikapnya yang misterius.
‘Ternyata, Bisma tidak sepenuhnya marah padaku,’ batin Ara yang merasa senang dengan hal itu.
Ara melangkah dengan hati-hati, karena takut menyenggol sesuatu yang selalu Bisma pegang, yang berada di tengah kursi mobil. Karena pegangan pintu sebelah kiri rusak, Bisma berinisiatif menyuruh Ara untuk keluar melalui pintu sebelah kanan kemudi.
Akhirnya setelah bersusah payah, Ara pun bisa melangkah keluar dari mobil.
__ADS_1
Bisma memandangnya dengan datar, “Besok, jangan ngerusakin gagang pintunya lagi. Sebenarnya lo bisa sih lewat sana, karena gak ngaruh juga buat buka pintu. Tapi gue mau hukum lo, biar lo gak bersikap aneh-aneh lagi,” ujarnya, sontak membuat Ara memandangnya dengan datar.