
Ara berdeham, berusaha mengubah jenis suaranya. “Iya, gue ... belum lama pindah ke sini,” jawab Ara, yang berusaha mengubah semuanya dari caranya berbicara, logat, serta bahasanya, yang harus semirip mungkin dengan mereka semua.
Karena merasa sangat penasaran, Ilham pun semakin mendekatkan wajahnya ke arah Ara, membuat Ara menghindarinya sedikit.
‘Entah kenapa bisa bertemu dengannya di sini?’ batin Ara merasa sangat kesal.
“Kayaknya ... wajah lo gak asing, deh!” ujarnya lirih, yang terus memojokkan Ara.
Karena pertanyaan Ilham yang selalu memojokkannya, Ara pun tidak bisa menahan ini lebih lama lagi. Ia khawatir jika dirinya terlalu lama berhadapan dengan Ilham, mungkin Ilham akan menyadarinya.
“Gue harus ke kelas,” ucap Ara dengan datar, kemudian berlalu pergi meninggalkannya.
Ara merasa sangat gugup, karena Ilham sepertinya terlihat sangat mengenalinya. ‘Kenapa bisa ia mengenaliku dengan cepat?’ batinnya bingung, merasa sangat takut dengan segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi.
Ara berjalan menyusuri lorong, tanpa memedulikan Ilham lagi. Namun, tampaknya Ilham masih belum menyerah dengan pemikirannya tentang Ara. Ia masih terus mengikuti Ara, dan membuat Ara agak takut. Karena rasa takutnya, Ara pun semakin mempercepat langkahnya menuju lift.
Pintu lift sama sekali belum terbuka. Sepertinya masih lama sekali untuk bisa masuk ke dalam lift. Sementara itu, Ara melihat sekilas Ilham yang berada di belakangnya.
‘Kenapa lama banget ya?’ batin Ara resah, tak sabar ingin pergi menghindari Ilham.
Ara benar-benar sangat ketakutan, karena Ilham yang sepertinya tidak akan pernah menyerah untuk mendekatinya. Ara juga sangat kesal, dari sekian luasnya area sekolah ini, ia masih bisa berpapasan dengan Ilham.
‘Kenapa dia berani banget sih? Gangguin orang lain terus mungkin ya, kerjaannya?’ batin Ara mendumel kesal.
Tiba-tiba saja, Ilham meraih tangan Ara, membuat Ara terkejut dan mendelik karenanya. Ara yang ketakutan, pun berbalik ke arahnya. Ilham mendekat ke arah Ara, membuat perasaan was-was di hati Ara menggebu karena tidak ada siapa pun di sini selain mereka.
Ilham mendekat ke telinga Ara, “Lo ... Ara, bukan?” bisiknya lirih, membuat wajah Ara terasa panas seketika.
__ADS_1
‘Kenapa bisa dia kenal sama aku? Dia gak akan bully Ara lagi, ‘kan?’ batin Ara yang merasa sangat khawatir dengan apa yang akan Ilham perbuat selanjutnya.
Seketika tangan Ara terasa lemas, ia tak lagi bisa menatap Ilham. Ingin sekali rasanya Ara pergi dari sini, tetapi bagaimana mungkin dia bisa pergi dari Ilham?
TING!
Pintu lift tiba-tiba saja terbuka, membuat Ara melirik ke arah pintu lift, setelah melihat pintu lift terbuka. Terlihat Reza di sana yang sedang memandang ke arah mereka. Ara merasa, seperti ada seseorang yang bisa menolongnya. Lagi-lagi, Reza menjadi malaikat penolong Ara di saat Ara terkena masalah.
Ara harus lebih berterima kasih lagi pada Reza.
“Reza!” pekik Ara, yang terlihat berusaha keras untuk melepaskan genggaman tangan laki-laki yang diketahui bernama Ilham.
Ara berhasil melepaskan diri, dan berhambur ke arah Reza. Tak bisa dipungkiri, Reza yang melihat kejadian ini, terkejut dengan hal semacam ini. Ara tiba-tiba saja terlihat ketakutan, dan hendak meminta perlindungan pada Reza. Ara pun hanya bisa bersembunyi di belakang tubuh Reza.
Reza sama sekali tak mengenali penampilan Ara yang seperti ini. Ia tak menyadari, bahwa yang meminta pertolongannya adalah Ara.
Reza bergeming, hanya memandangi Ilham di hadapannya yang juga hanya diam saja sembari menatapnya dengan sinis. Hanya dengan mengerti, gadis ini sedang butuh pertolongan.
‘Apakah aku akan dapat balasan dari kejadian ini?’ batin Reza, yang pemikirannya langsung buyar karena sebuah hal.
‘Entahlah, tolong dulu aja.’ Reza berusaha menepis pikiran buruk yang sedang berusaha mempengaruhi pikirannya.
Reza pun menekan tombol lift, kemudian tak lama pintu lift pun tertutup. Mereka sudah berhasil pergi dari hadapan Ilham, tanpa harus menarik urat lebih dulu di hadapan bocah nakal itu. Ara sudah bisa menghela napasnya dengan lega.
“Sudah. Gak ada lagi yang bisa bikin lo takut,” ujar Reza, tanpa membalikkan tubuhnya ke arah Ara.
Ara tersenyum senang sembari menatap ke arah Reza. “Makasih, Za!”
__ADS_1
Mendengar suara gadis ini, Reza pun seketika mendelik, karena suaranya terdengar seperti Ara. Tanpa berpikir panjang, Reza pun langsung membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah gadis ini.
“Siti?” pekik Reza yang tak percaya melihat penampilan Ara yang baru ini.
Ara terlihat mengangguk kecil, tanpa menatap ke arah Reza. Ia hanya bisa menunduk, saking malunya memperlihatkan wajahnya di hadapan Reza.
Reza mendelik kaget dengan apa yang lihat, ‘Oh Tuhan ... betapa cantiknya dia saat ini. Penampilannya sempat membuatku pangling. Kenapa tidak seperti ini saja, sejak dulu? Jadi, dia tidak perlu mendapatkan tindakan bullying dari mereka semua!’ batinnya, benar-benar sangat senang bisa melihat Ara yang seperti ini.
Reza jadi berpikir kalau dirinya sama sekali tidak salah memilih seorang gadis. Penampilan Ara yang saat ini, benar-benar sangat membuatnya bertambah jatuh cinta pada Ara. Gadis lugu yang memiliki penampilan yang sangat menarik di matanya.
‘Gue beneran gak salah pilih!’ batin Reza, yang merasa sangat tidak bisa menahan perasaan ini di hadapan Ara.
“Lo ....” Reza tidak bisa berkata apa pun lagi di hadapan Ara. Ia hanya bisa memandang penampilan Ara, yang selayaknya seperti gadis kota ini. Berbeda jauh dari penampilannya kemarin.
Pikirannya terusik, karena teringat dengan Ilham yang tadi mengganggu Ara.
‘Tapi ... kenapa Ilham menerkamnya tadi? Kenapa Siti mengenali bocah nakal itu?’ batin Reza, yang merasa bingung dengan kejadian seperti ini.
Lift pun terbuka, membuat Reza menjadi salah tingkah dengan orang-orang yang hendak masuk ke dalam lift. Reza pun membalikkan tubuhnya ke arah lift.
“Gue duluan ke kantor,” ucap Reza pada Ara, membuat Ara mengangguk kecil mendengarnya.
Reza pun pergi dari sana, lalu Ara juga berjalan menuju ke kelasnya. Reza tidak pergi bersamanya, dan berpisah karena mendadak mendapatkan panggilan sebagai ketua OSIS.
Ara merasa agak malu melangkah, tetapi dengan sangat terpaksa Ara harus masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajarannya.
Dengan langkah yang ragu, Ara pun masuk ke dalam kelasnya, dan menuju ke arah tempat duduknya. Mereka semua yang memandang kedatangan Ara, sepertinya salah fokus dengan penampilan Ara saat ini. Ara memandang mereka setengah canggung, tapi tak ingin membuat dirinya menjadi lebih mencolok di hadapan mereka.
__ADS_1
Ara pun duduk di kursinya, sambil mengeluarkan barang-barang yang nanti ia gunakan untuk menulis. Pandangannya melirik ke arah sekitarnya, membuatnya merasa sangat terintimidasi di hadapan mereka.