Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Masih Tidak Berubah


__ADS_3

“Oh ... Reza. Maaf nomor kamu belum Om simpan,” ujarnya. “Ada apa, Za?” tanya ayahnya Bisma, membuat Reza menyeringai mendengarnya.


“Oh, ya gak apa-apa, Om. Gini, Om. Saya mau tanya soal Ara yang gak masuk sekolah hari ini. Ara ke mana ya, Om?” tanyanya.


“Ara ... sekarang dirawat di rumah sakit, Za. Dia kena tipes,” jawab ayahnya, sontak membuat Reza mendelik kaget mendengarnya.


“What? Rumah sakit, Om?” tanya Reza tak percaya dengan apa yang ayahnya Bisma katakan.


“Ya, sekarang Ara masih belum sadarkan diri,” ujar ayahnya yang berusaha untuk meyakinkan Reza.


Reza merasa sangat kaget mendenagrnya, “Apa? Ya udah, Reza ke sana sekarang, Om!” ujarnya, yang merasa sangat khawatir dengan keadaan Ara saat ini.


“Pelan-pelan saja, Za. Jangan lupa bilang ke orang tua, kalau kamu ingin ke sini,” ujar ayahnya, membuat Reza mengagguk kecil mendengarnya.


“Ya, Om. Pasti Reza bilang ke orang tua. Om maaf mengganggu waktunya,” ujar Reza.


“Tidak, kok. Hati-hati di jalan.”


Reza segera mengakhiri sambungan teleponnya. “Gue harus ke sana! Gue gak bisa ngeliat Ara sakit begitu,” gumamnya, yang lalu segera bangkit dari ranjang tidurnya untuk menuju ke arah rumah sakit, tempat Ara dirawat.


Sementara itu, Morgan dan Bisma sekarang sudah sampai di kantin rumah sakit. Mereka memesan makanan, karena mereka sama-sama belum makan.


Karena sibuk mengurus Ara, Bisma pun tidak sempat makan sejak pagi. Sementara itu Morgan juga tidak makan sejak siang tadi, karena khawatir dengan Ara yang tidak masuk sekolah.


Morgan memandang ke arah Bisma, yang saat ini sedang menyantap makanannya. “Gimana keadaan Ara sekarang? Memang kejadiannya seperti apa, sampai dia masuk rumah sakit?” tanyanya, Bisma memandangnya dengan datar dan menghentikan makannya.


“Ara memang udah ngeluh sakit perut dari kemarin sore. Ditambah lagi dia yang pulang jalan kaki, terus malamnya dia mungkin gak makan juga. Paginya dia gak sarapan, padahal gue udah bikinin sarapan buat dia. Gue gak tau siangnya dia makan apa enggak di sekolah,” jawab Bisma, yang berusaha memberikan jawaban kepada Morgan.

__ADS_1


Morgan menghela napasnya dengan panjang, ‘Apa karena kejadian ribut kemarin, dia sampai gak sempat makan siang?’ batinnya, yang mulai memikirkan dan menyambung puzzle yang ada.


Bisma memandang tajam ke arah Ara, “Gue mau nanya sama lo. Kenapa Ara pulang sampai jalan kaki? Seharusnya lo pulang bareng Ara, dong! Kenapa lo malah ninggalin Ara sendirian sampai dia jalan kaki?” tanyanya, sontak membuat Morgan mendelik kaget mendengarnya.


Morgan menghela napasnya dengan panjang, “Sebenarnya gue udah nungguin Ara buat pulang bareng sama dia. Tapi gue sama sekali gak lihat dia, dan di kelas juga udah kosong. Biasanya memang dia selalu nungguin gue di kelas, tapi sore itu dia gak nunggu gue,” ujarnya menjelaskan.


Bisma menghela napasnya dengan panjang. “Ara gak mungkin begitu ngehindarin lo, kalau memang gak punya masalah sama lo,” ujarnya, yang sudah mengetahui permasalahan di antara Morgan dan juga Ara.


Morgan masih bersikap biasa saja, dan tidak mengatakan apa pun. Ia hanya bisa memandang datar ke arah Bisma, lalu segera menyantap makanan yang ada di hadapannya.


Bisma memandang dalam ke arah Morgan, dengan tatapan menyelidik. Ia merasa memang benar ada masalah antara Morgan dan juga Ara. Sejauh yang Bisma ketahui, jika Ara pergi menghindari seseorang, dia pasti akan pergi dari sana.


“Lo beneran ada masalah sama Ara, ya?” bidik Bisma, Morgan menelan sisa makanan yang ada di dalam mulutnya.


Morgan memandang ke arah Bisma dengan datar, “Gue dan Ara baik-baik aja. Memangnya kenapa?”


Mendengar ucapan Morgan yang seperti itu, Bisma mengubah sikapnya menjadi biasa saja. Jika benar mereka memiliki masalah, Bisma juga tidak ingin ikut campur lebih dalam ke dalam permasalahan antara Morgan dan Ara, karena ia tahu Morgan bisa menyelesaikannya dengan caranya sendiri.


Morgan memandang heran ke arah Bisma, dan berusaha bersikap setenang mungkin di hadapan Bisma. Namun, perkataan Bisma kala itu masih mengganjal di hatinya.


“Jangan harap lo bisa dapetin Ara,” ujar Morgan, membuat Bisma sampai tersedak ketika ia menyuap makanannya.


Bisma tersedak sebentar, lalu segera meminum minuman yang ada di hadapannya, untuk menghilangkan rasa tersedaknya itu.


“Maksudnya apa?” tanya Bisma, Morgan lalu mengalihkan pandangannya ke arah makanannya.


“Hanya mengingatkan saja,” ujarnya, yang lalu segera menyantap makanannya kembali.

__ADS_1


Sekarang malah Bisma yang merasa bingung. Ia hanya bisa memandang ke arah Morgan saja, tanpa bisa mengatakan apa pun.


‘Morgan ini ... penuh dengan teka-teki,’ batin Bisma, merasa sangat heran dengan sikap dan sifat Morgan yang ia ketahui.


Beberapa waktu berlalu, Reza sudah sampai di rumah sakit tempat Ara dirawat. Ia membawa buah-buahan, dan juga sebuket bunga untuk Ara. Ia ingin menjenguk Ara, dan memberikan perhatiannya kepada Ara. Terlepas dari perasaannya terhadap Ara, ia juga harus bisa mengambil hati ayahnya untuk mempermudah jalannya mendapatkan hati Ara.


Reza melangkah ke arah ruangan yang diberi tahu oleh ayahnya Ara, dan saat ini ia melihat ayahnya Ara sedang duduk di depan sebuah ruangan rawat, dan sedang memainkan handphone-nya.


“Malam Om,” sapa Reza, ayahnya Ara pun memandang ke arah sumber suara, lalu bangkit di hadapan Reza setelah mengetahui kedatangan Reza.


“Malam, Reza. Akhirnya sampai juga ke sini,” ujar ayahnya Ara dengan sedikit senyuman.


“Iya Om, maaf agak lama karena harus beli buah dulu,” ujar Reza.


“Ah, gak apa-apa.”


Reza tersenyum, “Oh ya, Om. Ini, saya bawa buah dan bunga untuk Ara,” ujarnya sembari memberikan barang bawaannya tersebut pada ayahnya Ara, dan ayahnya Ara pun menerimanya.


“Baik, terima kasih ya Reza sudah repot-repot bawain ini,” ujar ayahnya Ara.


“Ah, gak apa-apa Om.” Reza hanya tersenyum di hadapan ayahnya Ara.


Tepat di saat yang bersamaan, Bisma dan Morgan pun datang, dan kini berhadapan dengan Reza dan ayahnya. Pandangan mata sinis Bisma pada Reza masih terlihat jelas, ditambah lagi sekarang Morgan yang memang tidak menyukainya sejak kejadian kemarin dengan Ara.


“Ngapain lo di sini?” tanya sinis Bisma, sontak membuat ayahnya marah mendengarnya.


“Bisma, kenapa sikapnya begitu? Reza datang mau menjenguk Ara. Apa salah?” Ayahnya malah mengucapkan hal seperti itu di hadapan Bisma.

__ADS_1


Bisma tak menghiraukan, tetapi juga tidak melanjutkan rasa tidak sukanya terhadap Reza. Reza yang mengetahui ketidaksukaan Bisma padanya, sudah biasa dengan hal itu.


‘Bisma ... Bisma. Kenapa masih aja gak berubah sih?’ batin Reza, yang berpikir jika masalahnya dengan Bisma sudah selesai karena Ara sudah berpacaran dengan Morgan. Namun, nyatanya urusan mereka masih belum selesai.


__ADS_2