Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Masalah Baru


__ADS_3

Mata Ara mendelik, karena ternyata yang menarik tangannya adalah Morgan. Ara sangat terkejut, karena melihat Morgan yang sedang menggenggam tangannya. Ara melihat ke arah tangan Morgan yang menggenggam hangat tangannya. Kemudian, kembali memandang ke arah Reza. Matanya terbelalak, tak tahu harus berbuat apa.


“Ayo Ra, kita pulang,” ujar Morgan, dengan sikap dinginnya yang sangat khas.


Seperti biasa, Morgan selalu bersikap seperti itu, tidak ada ekspresi ketika sedang berbicara. Karena sikap Morgan yang melebihi sikap dingin Bisma, Ara sebetulnya sangat takut dengannya. Namun Ara berpikir kembali, daripada ia harus pulang bersama Reza, lebih baik ia pulang bersama dengan Morgan.


Ara hanya memandang Reza dengan sendu, dengan Morgan yang menarik tangannya dan menjauhi Reza.


‘Sejujurnya, aku tidak enak dengan sikap yang seperti ini. Aku tidak bermaksud untuk seperti itu. Aku hanya merasa, bahwa aku harus memberikan jeda untuk bertemu intens dengan Reza. Entah kenapa, melihat Bisma tergolek lemah seperti tadi ... membuatku sangat marah pada Reza. Aku terpaksa berbohong padanya, sebetulnya ... memang betul, aku marah padanya,’ batin Ara, sembari melangkah ke arah yang Morgan tuntun.


Morgan menggandeng tangan Ara dengan sangat berhati-hati, membuat Reza tak menyangka dengan plot twist yang ada.


‘Belum habis masalah Bisma, sekarang muncul masalah Morgan. Kenapa Siti pandai sekali membuat hati laki-laki tersentuh? Apa karena keluguannya itu? Tak bisakah mereka mencari gadis yang lainnya? Di saat aku sudah merasa nyaman dengannya, mereka datang berlomba untuk mempertaruhkan satu hati,’ batin Reza, sembari memandang kesal ke arah kepergian Ara dan juga Morgan.


Reza menghela napasnya dengan panjang, karena ia merasa ada hal aneh yang ia rasakan saat ini.


‘Tak kusangka, kejadian beberapa bulan lalu akan terulang kembali. Hanya saja ... orang yang kami perebutkan, bukan lagi dia. Adele, gadis blasteran asal Amerika itu, ternyata mampu memikat hati Bisma dengan mudahnya. Aku tidak pernah menyukainya. Ia memang terlihat sangat sempurna, untuk seorang gadis berusia 17 tahun. Tapi, entah mengapa aku tidak bisa menyukainya. Aku mendekatinya, hanya karena ingin menunjukkan bahwa, aku juga bisa melakukan yang seperti ia lakukan. Memang betul, Bismalah yang sudah memenangkan persaingan sengit ini. Tapi tak kusangka, Adele diam-diam menaruh hati padaku. Aku mendapatkan celah, saat Adele selalu mengantarkan Bisma untuk latihan. Siapa peduli? Aku tidak merebutnya, kok!’ batin Reza, yang malah teringat dengan masa lalunya bersama dengan Bisma dan juga Adele.


Reza menghela napasnya dengan panjang, “Adele, ya?” Tanpa sadar Reza sudah memikirkan gadis yang sudah tidak muncul lagi beberapa minggu ini. Hampir sebulan ini, ia sudah kembali ke negaranya.


“Gue terlalu kejam gak, sih?” gumam Reza dengan lirih, sembari mendelik ke arah hadapannya.

__ADS_1


‘Aku sudah memberikan harapan, dan sudah membuatnya mengakhiri hubungannya dengan Bisma. Lalu, aku langsung mencampakkannya begitu saja. Apa ... keadaan dia baik-baik saja di sana?’ batin Reza, yang sedikit penasaran dengan kabar Adelia saat ini.


“Siapa suruh, udah punya pacar kok masih godain orang?” Reza semakin mendelik, entah apa yang sedang mengganggu jalan pikirannya.


‘Kenapa sampai hati aku membuat gadis itu hancur?’ batinnya lagi, yang benar-benar sangat bingung dengan suara hatinya yang berbeda-beda.


***


Saat ini Ara sudah berada di rumahnya. Ia terpaksa pulang bersama dengan Morgan, dan sepanjang jalan pun mereka tidak berbicara apa pun. Mereka hanya saling diam, karena Ara yang masih belum terbiasa dengan Morgan.


Ara terlihat sangat resah, karena ia memikirkan hal yang sangat mengganggunya. Belum habisa masalah Reza, kini sudah muncul masalah Morgan dan juga Ilham yang sudah membuat Ara merasa kesal, bingung, tak tahu lagi harus berbuat apa.


Ucapan Ilham selalu terngiang di telinga Ara. Ia tidak bisa berhenti memikirkan lelaki itu, karena ia khawatir Bisma terancam hanya karena omongan Ilham yang aneh terhadap dirinya.


Ara mondar-mandir tidak keruan memikirkannya, sampai ia menjadi sangat lelah karenanya. Ara yang lelah, pun menghempaskan dirinya ke atas ranjang, lalu memandangi langit-langit kamarnya.


‘Aku tidak menyangka, ingatannya sangat kuat tentang diriku. Meskipun ... kami sudah berpisah beberapa tahun yang lalu, dan sudah banyak juga yang berubah dariku, mengapa pikirannya sejernih itu untuk mengingat jadi diriku?’ batin Ara lagi, merasa sangat ketakutan saat ini.


Entah harus bagaimana lagi Ara menghadapi semua ini. Ia tidak ingin jika semua ucapan jelek dari Ilham, sampai menyeret Bisma.


“Gimana ini? Apa yang harus aku lakuin coba?” Ara terus merasa resah karena memikirkannya.

__ADS_1


“Duh ... aku takut banget!” Matanya semakin mendelik karena memikirkannya terlalu dalam.


Belum habis masalah bocah nakal itu, sekarang sudah muncul masalah baru. Ara teringat ucapan Morgan saat mengantarkannya pulang ke rumahnya.


Ara duduk bersebelahan dengan Morgan, teman dari kakak tirinya yang masih asing baginya. Morgan hanya fokus menyetir, tak menoleh sama sekali ke arah Ara. Perasaan Ara sangat tegang, ketika melirik ke arah Morgan yang masih menyetir mobilnya itu.


‘Kenapa sangat tegang, saat bersama Morgan?’ batin Ara, yang berusaha mengalihkan pandangannya dari Morgan, agar tidak terlalu kaku.


“Udah lama?” tanya Morgan tiba-tiba, membuat Ara spontan menoleh ke arahnya.


“Hah?”


“Udah lama, deket sama Reza?” tanya Morgan lagi, sembari fokus menyetir kendaraannya.


“Ara gak tau. Dulu waktu Ara masih tinggal di desa, gak sengaja ketemu sama Reza. Dia juga udah nolong Ara dari bocah yang selalu bully Ara,” ujar Ara menjelaskan.


Entah kenapa, kali ini Ara sangat bersemangat menjawab pertanyaan tentang Reza.


Morgan melirik sesekali ke arah Ara, “Kok bisa ketemu lagi sama dia?” tanya Morgan yang kali ini membuat Ara menundukkan pandangannya karena bingung.


“Gak tahu. Gak sengaja waktu itu ketemu di angkot. Aku juga gak paham, kenapa ... dia bisa naik angkot? ‘Kan dia punya motor?” jawab Ara dengan polos, membuat Morgan hampir tidak bisa menahan senyumannya.

__ADS_1


“Mungkin ada satu atau dua hal yang membuat dia harus naik angkot,” ujar Morgan dengan santainya.


Ara memandangnya kaget, ‘Ternyata, dia juga bisa sesantai ini. Aku pikir ... dia hanya bisa membuat tegang suasana saja,’ batinnya, tak menyangka dengan apa yang Morgan lakukan.


__ADS_2