
‘Sepertinya, Bisma tidak pernah suka dengan Ayah. Kenapa Bisma bersikap demikian? Padahal ... aku ingin sekali memiliki ayah yang bisa melindungiku dan juga ibuku. Aku bahkan tidak seberuntung Bisma. Tapi, kenapa Bisma malah tidak senang mempunyai ayah yang memiliki segalanya seperti dia?’ batin Ara, yang malah menjadi sangat simpatik kepada ayahnya.
“Bisma nggak perlu kok dijenguk sama Papa! Lain kali, Papa urusin aja urusan Papa. Gak usah Papa ke sini lagi. Bisma bisa hidup sendiri kok!” tepis Bisma.
Ara memandangnya dengan bingung, ‘Apa masalahnya memang sudah sebesar ini, sehingga Bisma tidak bisa menerima ayahnya lagi? Sebenarnya ... apa yang terjadi di antara mereka?’ batinnya, merasa penasaran.
“Bisma, jaga bicara kamu! Papa ke sini tidak hanya ingin menjenguk kamu, Papa juga ingin menjenguk anak Papa yang lainnya!” ucap pria yang disebut ‘Papa’ itu oleh Bisma. Nada bicaranya hampir menyamai nada Bisma, sehingga membuat Bisma terdiam sesaat.
‘Sepertinya, ia sedang menahan kesalnya,’ batin Ara.
Pria itu lalu melihat ke arah Ara, membuat Ara menjadi agak takut dengan tatapannya itu. Ara semakin menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Bisma, sembari menatap tajam ke arahnya.
“Arasha ... apa kabar?” tanyanya dengan nada yang lembut dan ramah, berbeda dengan saat ia berbicara dengan Bisma tadi.
Entah mengapa, Ara merasa agak takut dengan orang ini.
‘Apa dia benar-benar menyayangiku, sama seperti yang ia lakukan pada Bisma? Aku hanyalah anak biologisnya, bukan seperti Bisma yang memang benar anak kandungnya,’ batin Ara, yang benar-benar sangat bingung jadinya.
Ara hanya bisa memandanginya, tanpa menjawab pertanyaannya. Ia merasa tidak nyaman dengan situasi aneh ini.
‘Apa karena ... aku tumbuh tanpa adanya sosok Ayah? Aku tidak bisa bersikap layaknya anak gadis yang sedang berbincang dengan ayahnya sendiri,’ batin Ara yang benar-benar tidak bisa melakukannya.
Bisma terlihat hanya diam saja sembari melihat ke arah orang tuanya. Ia juga memandangnya dengan kesal. ‘Kenapa dia tiba-tiba saja datang ke tempat ini? Setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki ke tempat ini, dia datang tanpa memberi kabar padaku. Dia benar-benar bersikap seenaknya saja!’ batinnya, merasa sangat kesal dengan kehadiran ayahnya di hadapannya.
Bisma melirik sedikit ke arah Ara, yang berada di belakangnya. ‘Sepertinya, Ara merasa canggung dengan situasi ini. Apa mungkin, dia tidak nyaman dengan Papa?’ batinnya, yang benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Ara.
__ADS_1
“Aku sama Ara capek ... kita istirahat dulu,” ujar Bisma, berharap agar perhatian ayahnya bisa teralihkan.
Bisma menarik tangan Ara, untuk membawanya pergi dari ruangan ini. Terdengar samar, ayahnya yang memanggilnya dari kejauhan. Ia sama sekali tidak menghiraukannya, dan malah membawa Ara menuju kamarnya.
“Aduh ... Bisma pelan-pelan dong nariknya,” ujar Ara yang terdengar sangat imut menurutnya.
Bisma melepas spontan tangannya, setelah mereka sudah berada di dalam kamar Ara. Bisma menatapnya dengan tatapan sinis, dan Ara sepertinya takut melihat ekspresinya itu. Buru-buru Bisma mengunci pintu kamar Ara, khawatir ayahnya masuk di saat ia sedang berbincang dengan Ara.
“Lho ... kenapa dikunci segala sih, Bis?” tanya Ara terdengar bingung. Nadanya seperti orang yang sedang ketakutan.
Bisma pun kembali menatapnya, kali ini dengan tatapan dingin. Kemudian, ia menarik tangannya untuk segera duduk di atas ranjang. Ara sampai meronta, seperti Bisma ingin melakukan sesuatu saja padanya.
“Stttt ... diem sih! Gue gak akan ngelakuin apa-apa sama lo!” bentak Bisma, berharap Ara bisa mengecilkan suaranya yang meronta itu.
Ara berangsur menjadi tenang, setelah Bisma berkata demikian.
‘Kenapa dia sampai berpikir sejauh itu padaku? Apa aku terlihat seperti seorang maniak di matanya?’ batin Bisma, yang benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Ara pikirkan.
“Pikiran loe kenapa kotor banget, sih?” tanya Bisma dengan sinis.
Mendengar ucapan Bisma, Ara pun langsung menunduk, entah karena takut atau karena malu dengan Bisma. Bisma berusaha menahan emosinya, karena sepertinya ia merasa bahwa ia sudah menakuti Ara. Bisma membuang pandangannya dari Ara.
‘Entah kenapa, aku bisa membawanya ke dalam kamarnya sendiri? Memangnya, aku ingin berbuat apa?’ batin Bisma, merasa sangat bingung dengan apa yang ia lakukan.
“Bisma ...,” lirih Ara, membuat Bisma menoleh seketika.
__ADS_1
Ara telihat sedang membuka kacamata yang ia pakai, membuat dirinya terlihat lebih manis dari biasanya. Sama seperti saat mereka berada di salon kemarin. Bisma kembali merasakan sesuatu yang aneh. Wajahnya menjadi panas, dan tak terkendali lagi saat melihat wajah polos Ara itu tanpa kacamata.
“Ara boleh nanya sesuatu gak?” tanyanya membuat Bisma kembali berfokus padanya.
“Loe mau nanya apa? Gue gak janji bisa jawab,” ujar Bisma dengan ketus.
Ara nampak memanyunkan bibirnya itu, membuat Bisma kembali tidak sanggup lagi menahan semuanya.
‘Dia terlalu manis bagiku. Kali ini, aku tidak tahu benar-benar kuat atau tidak,’ batin Bisma, yang malah membuat dirinya tidak bisa mengendalikan nafsunya sendiri.
“Bisma mah jutek amat sih ... Ara cuma mau nanya. Memangnya, ada masalah apa sih antara kalian? Apa ... masalahnya besar banget, sampai Bisma bersikap seperti itu sama papanya sendiri?” tanya Ara yang terdengar lugu.
Bisma menghela napas panjang, ‘Apakah ... aku harus mengatakan semua kebenaran pada Ara?’ batinnya kebingungan.
Melihat Bisma yang terdiam, Ara pun hanya bisa memandangnya bingung.
“Lho ... kok Bisma diem aja sih? Apa Bisma marah sama Ara, karena Ara bicara sembarangan?” tanya Ara, yang semakin membuat Bisma merasa terangsang karena sikap imutnya.
‘Aku rasa, aku sudah benar-benar mencapai batasku. Aku tidak boleh terlalu dekat dengan Ara, untuk kedepannya. Tapi bagaimana bisa? Aku merasa hampa saat tidak bersama Ara. Aku lebih sering terdiam dan merenungkan, perasaan apa yang sebenarnya ada di hatiku ini?’ batin Bisma, yang benar-benar sangat aneh dengan dirinya sendiri.
Kehidupannya setelah bertemu Ara, benar-benar sangat berwarna. Ia bahkan tidak menganggap Ara adalah adiknya, tetapi hanya menganggap Ara sebagai seorang wanita.
“Gue begini ... karena benci banget sama dia! Dia udah bikin mama gue sakit, dan menanggung penderitaan karena kesalahan besar yang dia bikin. Sampai sekarang, gue belum bisa maafin dia,” ujar Bisma yang menjelaskan secara singkat, permasalahan yang ia alami saat ini.
Ara terlihat murung tiba-tiba, membuat Bisma merasa kebingungan jadinya.
__ADS_1
‘Apa aku salah bicara? Kenapa dia mudah sekali tersentuh dan tersinggung seperti ini? Apa mereka para orang desa, mempunyai hati yang lembut seperti ini? Sikapnya terlalu polos bagiku. Dia bisa saja dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab jika terus bersikap seperti ini. Ia terlalu terang-terangan memberitahukan yang ia rasakan,’ batin Bisma, merasa cukup jengkel dengan Ara.