
Karena sudah tidak bisa berbuat apa pun lagi, Bisma yang patah hati pun segera pergi ke kamarnya.
Penolakan yang dilakukan Ara, sungguh sangat membuat hati Bisma hancur. Ia merasa Ara tidak memiliki perasaan apa pun padanya, sehingga membuatnya enggan untuk melakukan hal yang lebih lagi daripada ini.
Beberapa kali Ara sudah membuatnya jatuh cinta, tetapi hanya dengan sekali penolakannya, mampu membuat Bisma sedih karenanya.
“Kalau sudah begini, mau apa lagi? Dia pasti juga gak akan pernah ngelepasin Morgan yang bisa dibilang sempurna itu. Dia mungkin juga mikir, kalau gue juga kakak tiri dia dan kita gak akan bisa bersama. Tapi, apa salah? Apa salah seperti ini? Kenapa kita gak bisa bersama, sih?” gumam Bisma, yang sedang meratapi hati dan perasaannya pada Ara.
Karena merasa sedih, Bisma pun sampai menangis tanpa suara. Air matanya terus mengalir, mebasahi pipi tirusnya itu.
“Kalau dia gak suka sama gue, jangan sampai perasaan gue semakin dalam sama dia. Gue gak mau terus-terusan jealous ke dia, dan marah tanpa sebab ke dia. Gue juga gak mau hidup hanya untuk mencintai orang yang udah punya pasangan,” gumam Bisma, yang berpikir untuk memulai kehidupan tanpa Ara di sampingnya.
“Memang dari awal udah salah, mencintai Ara yang terlihat sangat polos dan berbeda dari gadis lainnya. Nyatanya, sikap dan sifat Ara malah terbentuk, karena pergaulannya yang ia dapatkan di sini,” gumam Bisma lagi, yang malah menyalahkan dirinya atas perasaan yang sudah timbul dengan sendirinya di hatinya.
Mulai saat ini, Bisma harus bisa melupakan Ara dengan sangat keras. Karena melupakan Ara tanpa kerja keras, akan terasa percuma saja.
Sementara itu Ara juga sedang memikirkan perkataan Bisma di kamarnya. Kehidupannya terasa penuh dengan drama, ketika ia mulai datang ke tempat ini. Sejak awal pertemuannya dengan Bisma, Ara memang menganggap Bisma adalah kakaknya sendiri. Namun, tak disangka Bisma malah menganggap dirinya lebih dari sekadar saudara tiri.
Hal itu membuat Ara bimbang. Di satu sisi ia sudah sangat paham, apa yang telah Bisma lakukan untuknya. Di sisi lain, ia juga tidak bisa seenaknya menerima perasaan Bisma dengan mengesampingkan perasaan Morgan. Biar bagaimanapun juga Morgan adalah kekasihnya saat ini, yang kehadirannya sudah membuat hatinya sedikit banyaknya terisi.
Konflik tentang perasaannya dengan Bisma sudah semakin jelas terasa. Sejak melihat Bisma melakukan hal tidak baik dengan Gladis kala itu, Ara merasa ada yang aneh dengan perasaannya pada Bisma. Namun, ia masih belum menyadarinya.
__ADS_1
Saat Bisma menciumnya, barulah ia sadar dengan apa yang sebenarnya ia rasakan. Sebenarnya Ara juga menyukai Bisma, tetapi Ara sama sekali tidak mengetahui perasaan itu. Di samping Bisma yang memang adalah kakak tirinya, Ara masih tidak tahu arti mencintai seseorang.
Namun satu hal yang Ara ketahui, ketika melihat Bisma mengalami sesuatu yang membahayakannya, Ara merasa sangat sedih. Ia bahkan selalu menyelipkan nama Bisma di setiap doanya, dan berharap Tuhan memberikannya sebuah kebahagiaan, karena pada awal pertama kali ke tempat ini, Ara hanya memiliki Bisma saja.
Perasaan itu bahkan tidak ia rasakan, ketika melihat Reza atau Morgan. Ia hanya merasakan hal yang berbeda, ketika bersama dengan Bisma.
Hal itu sangat menggebu, sampai rasanya sangat sedih hanya karena melihat Bisma melakukan hal yang tidak baik itu dengan Gladis. Ara baru menyadarinya, padahal dirinya dan Bisma tidak ada hubungan apa pun. Akan tetapi, melihatnya membuat hati Ara sangat sedih dan down.
“Apa selama ini aku juga suka sama Bisma? Kenapa aku gak merasakan perasaan ini saat aku bersama dengan Reza dan Morgan?” gumam Ara, masih merasa bingung dengan perasaan yang ia rasakan.
Namun, semua kejadian yang terjadi di antara mereka, membuat Ara merasa sangat yakin saat ini. Ia merasa perasaannya pada Bisma juga lebih dari sekadar perasaannya terhadap kakaknya. Ara merasa berbeda, ketika bersama dengan Bisma.
Walaupun Bisma sudah memperlakukannya dengan kasar, Ara masih sangat ingin berada dekat dengannya. Semua itu sungguh tidak bisa dijelaskan.
Karena sudah terlalu larut, Ara pun tanpa sadar memejamkan matanya. Hatinya resah, dengan perasaan yang kalut akan kesedihan. Semua itu karena satu nama yang terasa sangat bermakna baginya.
Bisma.
***
Pagi itu Ara terlambat bangun, saking lelahnya memikirkan perasaannya terhadap Bisma semalaman suntuk. Ara merasa sedih, karena ternyata ia sudah terjebak dalam perasaan Morgan, yang membuatnya tidak mengetahui arti perasaan cintanya yang sesungguhnya pada Bisma.
__ADS_1
Karena sudah terlalu siang, banyak sekali panggilan telepon dari Morgan yang membuat Ara menjadi resah karena melihat telepon tak terjawab itu.
“Duh, Morgan neleponin terus. Ara baru bangun, gak bisa nerima teleponnya,” gumam Ara, yang saat ini baru saja hendak mandi, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 6.15 pagi.
Biasanya Ara berangkat pada jam 6 pagi, karena perjalanan dari rumahnya ke sekolah memakan waktu sekitar 45 menit. Bel pelajaran pertama dimulai pukul 7 pagi, sehingga ia bisa bersantai lebih dulu, sebelum memulai pelajaran.
Namun, baru kali ini Ara sampai terlambat. Ia merasa tidak enak dengan Morgan, karena mungkin sudah lama menunggunya di depan rumahnya.
Ara mengirimkan pesan singkat kepada Morgan, yang mengatakan bahwa dirinya masih bersiap-siap untuk mandi. Ketika sudah mengirimkan chat kepada Morgan, Ara menemukan chat singkat dari Bisma.
“Bisma nge-chat Ara?” gumam Ara, yang bingung dengan apa isi dari chat Bisma itu.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ara pun membuka pesan singkat tersebut.
“Makanan udah siap, gue masak buat lo. Jangan sampai gak dimakan lagi kayak kemarin. Gue jalan duluan, lo ‘kan katanya bareng Morgan.”
Mata Ara membulat, ketika membaca pesan singkat dari Bisma itu. Ia tidak tahu, kalau makanan yang ada di meja makan kemarin pagi, adalah makanan buatannya. Ara malah makan bersama dengan Morgan, dan baru menyadarinya ketika sore harinya.
“Bisma kenapa masih perhatian sama Ara? Dia bukannya udah Ara tolak? Kenapa masih perhatiin Ara aja? Bukannya kalau begini, malah Ara menjadi merasa bersalah dan dia pasti akan sulit ngelupain Ara,” gumam Ara, yang merasa sangat bersalah dengan Bisma.
Ara tidak ingin, hal kecil seperti ini malah membuatnya tidak bisa melupakan Bisma, atau sebaliknya.
__ADS_1
Mata Ara mendelik, karena teringat dengan waktu yang terus berjalan. Kini, waktu sudah menunjukkan pukul 6.20 pagi, dan hal itu sudah sangat terlambat baginya. Ia pun memutuskan untuk segera mandi dan bersiap untuk segera pergi.