Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Buku PR 2


__ADS_3

Guru tersebut mengambil buku yang Bisma bilang adalah buku PR Ara. Ia membaca bagian terakhir dari catatan yang sudah Ara catat, dan lantas ia bergeming setelah melihatnya.


“Baik, Arasha ... kamu boleh duduk,” ucap guru itu tiba-tiba yang spontan melunak.


Ara sampai membulatkan matanya tak percaya. ‘Ingin sekali aku memeluk Bisma, tapi ... situasi sedang tidak memungkinkan,’ batinnya.


“Terima kasih, Bu,” ucap Ara, sembari sedikit menunduk ke arahnya. Ara kemudian menoleh ke arah Bisma yang juga sedang menatap ke arahnya. “Terima kasih, Bisma,” ucap Ara terdengar sangat kaku.


‘Aku tidak paham, kenapa bisa buku ini ada di tangan Bisma?’ batin Ara, benar-benar tidak mengerti dengan kejadian ini.


Ara meninggalkan Bisma dan yang lainnya, dan duduk ke tempatnya semula.


Bisma menghela napas lega, ‘Tadi itu ... hampir saja. Kalau aku tidak melihat buku Ara yang ada di bawah lemari belajar Ara, saat sedang diam-diam masuk ke dalam kamar Ara tadi, sesaat sebelum berangkat sekolah, mungkin saja aku tidak bisa memberikannya sekarang. Aku sampai lupa dengan misi untuk menaruh sebuah tas di dalam kamarnya, sebagai hadiah ulang tahunnya kemarin. Aku terlalu fokus pada buku yang kulihat ada di bawah meja belajar, seperti terjatuh saat sedang dimasukkan ke dalam tas kemarin. Aku tidak rela, kalau Ara dihukum bersama dengan cecunguk ini,’ batin Bisma, benar-benar tak habis pikir dengan keadaan ini.


Bisma memandang ke arah guru tersebut, “Baik, Bu. Saya permisi dulu, karena harus kembali ke kelas lagi,” ucap Bisma pamit dengan sangat sopan.


Bisma kemudian menatap sinis ke arah Reza, yang saat ini memandang ke arahnya tidak senang. Bisma tersenyum miring padanya, yang terlihat sangat kesal.


Bisma meninggalkan mereka dengan cepatnya, untuk kembali ke kelasnya.


‘Kalau aku tahu akan seperti ini jadinya, aku tidak akan merobek kertas hasil mengerjakan PR-ku tadi. Demi bisa menolong Ara, dan tidak ingin Ara terlihat malu sendiri berdiri di depan kelas, aku sampai rela merobek dan membuang kertas tersebut, hanya untuk bersama-sama menerima hukuman. Aku tidak menyangka, Bisma ternyata menemukan buku PR Ara, sehingga membuat Ara terbebas dari hukuman. Sekarang ... malah aku yang berada dalam masalah!’ batin Reza, yang mendengus kesal karena hal ini.


Reza berdiri bersebelahan dengan Fla, yang sebenarnya kurang ia sukai. Namun, itu terpaksa saja ia lakukan, karena ia tidak bisa mengelak lagi dari keadaan ini.


“Kalian berdua, berdiri di depan sampai pelajaran saya selesai,” ucap guru itu, membuat Reza menjadi jengkel.


Fla terlihat melontarkan senyum ke arah Reza, tetapi Reza tak menghiraukannya dan malah membuang pandangannya dari Fla.


‘Entah apa yang dia pikirkan, sampai ia tersenyum saat sedang dihukum seperti itu,’ batin Reza, benar-benar tak habis pikir dengan apa yang Fla pikirkan saat ini.


***

__ADS_1


Hari terakhir pada pekan ini sudah selesai. Ara berhasil menyelesaikan pelajara pada hari ini.


Ara tersenyum senang, ‘Senangnya ... besok adalah libur akhir pekan. Aku tidak harus bangun pagi-pagi untuk menuju ke sekolah,’ batin Ara, yang dengan senangnya merapikan seluruh buku dan alat tulis ke dalam tas, dan tersenyum dengan riangnya.


“Siti ...,” panggil Reza yang ada di hadapannya.


Ara melihat ke arahnya Reza, dan memandangnya dengan senyuman. “Iya, Za. Kamu belum pulang?” tanyanya sembari melontarkan senyum.


Reza pun duduk di sebelah Ara. “Belum. Gue nungguin lo,” jawabnya.


Jawaban Reza membuat Ara menjadi bingung, ‘Apa ada hal penting yang membuat Reza sampai menungguku?’ batinnya kebingungan.


“Kok nunggu Ara, sih? Kenapa?” tanya Ara, dengan sebelah alisnya yang terangkat.


Reza menyodorkan sesuatu pada Ara, dan meletakkannya di atas meja. Ara melihatnya dengan tatapan bingung.


“Apa ini, Za?” tanya Ara, Reza hanya memandangnya dengan datar.


Perlahan, Ara membukanya dan melihat sebuah boneka yang hampir sama dengan yang Reza miliki waktu mereka kecil. Ara tiba-tiba saja teringat dengan boneka itu. Ia memandang Reza dengan senyumnya yang terkulum.


“Ini buat Ara?” tanya Ara.


“Menurut lo?” Reza kembali bertanya pada Ara, membuat Ara tersenyum hangat padanya. “Selamat ulang tahun, ya. Maaf terlambat,” ujarnya dengan lirih menambahkan ucapannya.


Ara sangat terkejut mendengarnya, ‘Kenapa bisa Reza mengetahui hari ulang tahunku?’ batinnya.


Ara mengangkat sebelah alisnya. “Kok kamu bisa tahu ulang tahun Ara?” tanyanya keheranan.


Reza melontarkan senyum tipis ke arah Ara. Ia menyentil dahi Ara pelan, membuat Ara mengaduh kesakitan.


“Aduh ... kok disentil sih?” tanya Ara merasa terusik dengan yang Reza lakukan.

__ADS_1


“Bodoh,” gumamnya lirih, Ara mengusap-usap keningnya dengan wajah yang ia tekuk. “Makanya, jangan nulis nama lengkap dan tanggal lahir di plester kemarin. Kalo gue santet gimana?” tuturnya membuat Ara sadar dengan apa yang terjadi.


Ara memang sering menulis nama dan tanggal lahirnya dimana pun. Bisa di buku, meja, atau benda-benda aneh seperti plester yang ia berikan pada Reza kemarin. Tidak ada alasan apa pun mengenai hal itu, karena memang Ara menyukainya.


“Ara emang sering nulis nama Ara di mana-mana. Ara gak tau kalau Reza sadar,” ujar Ara menjelaskan.


Reza tersenyum mendengarnya, “Hmm ... jadi itu sebabnya, lo kemaren sampai ketawa pas pakein gue plester?” tanya Reza, membuat Ara tersipu malu mendengarnya.


Ara mengangguk pelan ke arah Reza, dengan malu-malu. Reza bersiap untuk menyentilnya lagi, tetapi Ara spontan berusaha untuk menghindarinya.


“Ih ... Reza mah!” bentak Ara dengan manja. Untungnya, Reza tidak jadi untuk menyentil Ara. Ternyata, dia hanya menggertak Ara saja.


“Gimana tadi? Reza dihukum apa sama guru?” tanya Ara untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Reza mengalihkan pandangannya dari Ara, “Bersihin toilet. Ternyata ... gak enak ya, dihukum. Selama gue sekolah di sini, gue gak pernah ngerasain dihukum guru,” jawab Reza yang seperti mencurahkan perasaannya pada Ara.


Mata Ara membulat kaget, “Kamu gak pernah dihukum, Za?” tanya Ara kembali, untuk memastikan kebenaran dari ucapannya.


Reza mengangguk kecil.


“Terus, kok sekarang kamu dihukum?” tanya Ara lagi, yang masih belum habis pikir dengannya.


“Ya karena gue gak mau loe dihukum sendirian makanya ....” Reza terdiam tanpa melanjutkan ucapannya, membuat Ara semakin bingung dengan Reza, yang tiba-tiba saja membuang pandangannya itu.


“Lupain aja,” ucap Reza dengan datar.


Ara memandangnya dengan mulut terkulum.


Ara tiba-tiba saja teringat dengan handphone yang Bisma berikan. Buru-buru ia membuka tasnya untuk mengambilnya dan memperlihatkan pada Reza.


“Za, kemarin ... Bisma kasih aku ini buat hadiah ulang tahun aku ...,” ucap Ara dengan sangat bersemangat, sembari menyodorkannya pada Reza. Reza pun menerimanya dan melihat-lihat sekelilingnya.

__ADS_1


__ADS_2