
Saya mencoba menghubunginya. Setelah berhasil menghubunginya, saya memberikan alamat rumah ini padanya supaya dia dan kamu bisa tinggal di sini. Tapi, takdir berkata lain. Ibu kamu meninggal sebelum sempat bertemu dengan saya. Saya merasa sangat terpukul karena sudah menyia-nyiakan kalian. Beruntung, saya sudah sempat menghubunginya. Paling tidak, dengan cara merawat kamu, itu bisa menjadi penebus kesalahan saya. Maafkan saya, ya? Sebagai gantinya, kamu boleh meminta apa pun yang kamu mau. Tapi tolong, maafkan saya. Dan, jangan sungkan untuk panggil saya dengan sebutan ‘Ayah’. Karena kamu gak salah apa-apa. Saya yang salah, karena sudah mengawali semua ini.”
Tertanda,
-Bramantyo-
Tak henti air mata berjatuhan dari pelupuk matanya, sampai-sampai kertas yang ia pegang itu menjadi separuh basah.
Ara berusaha menguatkan dirinya atas semua kebenaran yang baru saja terungkap.
‘Ternyata benar kata mereka, yang mengatakan kalau aku adalah anak haram,’ batin Ara, yang sudah kalut dalam kesedihannya yang mendalam.
Ibu tidak pernah berkata yang sejujurnya. Ara sampai mengetahui, bahwa ia adalah anak haram pun dari teman-teman yang mengejeknya waktu itu.
‘Ternyata, memang benar! Semua perkataan buruk mereka terhadapku. Aku hanyalah anak biologis. Tak lebih dari sekadar sampah yang terbuang. Ibuku meninggalkanku sendirian dan sekarang, aku harus menumpang hidup dengan orang yang tidak aku kenal, yang mengaku sebagai ayahku,’ batin Ara menangis histeris, sampai tidak memedulikan sekelilingnya.
Bahkan saat ini, ada seseorang yang membuka pintu kamarnya dan duduk di sampingnya, tetapi ia sama sekali tidak menyadarinya. Ara hanya peduli dengan keadaannya saja.
Orang itu merangkul pundak Ara. Ara yang sedih sampai kehilangan setengah kesadarannya.
Karena tidak bisa menahan rasa sedihnya, Ara memeluknya erat sekali. Dengan napas yang pendek, ia berusaha menghelanya sebisanya. Perasaan ini membuatnya sampai tidak bisa merasakan hatinya sendiri.
‘Sakit,’ batin Ara, yang merasakan sakit hati yang mendalam.
Setelah beberapa waktu menumpahkan kesedihannya, Ara cukup tenang karena ada seseorang yang dengan sukarela, memberikan pundaknya sebagai tempat untuknya menumpahkan seluruh kesal di hatinya.
Air matanya ia hapus, kemudian melihat wajah orang yang memeluknya itu. Terlihat samar wajahnya, lelaki itu membantu Ara untuk menghapus air matanya. Tangannya lembut sekali, membuat Ara ingin berlama-lama menangis di pelukannya.
Pandangan mereka bertemu, membuat Ara merasa bingung dengan seseorang yang ada di hadapannya.
“Gak usah nangis! Gue gak suka lihat cewe nangis,” ucapnya tanpa ekspresi, Ara mengangguk kecil mendengar ucapannya itu.
__ADS_1
Mendengarnya mengucapkan hal itu, Ara pun berusaha menghentikkan tangisannya.
“Kamu siapa?” tanya Ara, yang masih sedikit sesegukan. Lelaki itu terlihat sangat kaku saat menatap ke arah Ara.
“Gue Bisma,” jawabnya singkat, membuat Ara mengangguk-angguk tanda memahami maksudnya.
‘Ternyata, dia adalah Bisma yang Mang Ujang katakan tadi. Dia adalah Kakakku. Tak kusangka, Kakakku setampan ini,’ batin Ara, yang merasa sedikit kaget ketika melihat Bisma secara langsung di hadapannya.
“Papa udah bilang, kalo loe bakalan dateng ke sini. Jadi gue sengaja ke sini buat cari tau, siapa sih diri loe yang sebenarnya,” tambahnya, Ara mengubah posisinya menjadi berhadapan dengannya.
dihelanya napasnya, untuk mempersiapkan diri untuk berbicara dengan Bisma.
“Aku Ara yang datang dari kampung. Aku gak tau apa-apa. Aku baru baca surat yang katanya dari Tuan Bramantyo, dan aku nangis setelah membaca surat dari beliau,” ujar Ara menjelaskan dengan panjang lebar, dengan keadaan yang masih menahan tangis.
Bisma menatap dingin ke arah Ara, membuat Ara sedikit takut melihatnya.
“Oh,” jawabnya singkat, yang membuat Ara sedikit tersinggung mendengarnya.
Ara memandangnya dengan dalam, “Oh ya, Kakak kenapa bisa di sini?” tanya Ara dengan heran, membuat Bisma menatap dengan tiba-tiba.
Terdapat sorot mata kebencian, yang seperti tak senang pada Ara. Ara hanya bisa diam, tak sengaja menelan salivanya sendiri.
“Jangan panggil gue kakak!” bentak Bisma dengan kasar, membuat Ara mendelik kaget mendengarnya.
Jantung Ara seperti berhenti berdegup per sekian detik. Ara sampai tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Bisma, karena kaget dengan apa yang Bisma katakan padanya.
‘Aku kira, Kakakku ini akan bersikap baik padaku setelah tadi ia memelukku erat. Tak kusangka, sikapnya sungguh misterius!’ batin Ara dengan matanya yang membulat. Ara seperti tidak percaya akan mendengar perkataan ini darinya.
“Ta ... tapi bukannya kamu itu Kakak aku?” sanggahnya, yang memberanikan diri untuk bertanya pada Bisma.
Bisma semakin melontarkan kekesalannya pada Ara. Terlihat jelas semua itu dari raut wajahnya yang sangat sinis.
__ADS_1
“Udah gue bilang, gak usah panggil gue Kakak!” bentaknya sekali lagi, Ara menunduk takut sembari mengangguk kecil ke arahnya.
Bisma menghela napas dan menelan salivanya, kemudian membuang pandangannya ke arah depan.
“Gue cuma gak pengen ngeliat cewek nangis. Itu aja. Dan lagi, umur kita cuma beda 4 bulan. Jangan panggil gue Kakak, karena kesannya gue udah tua banget,” lirihnya, Ara menoleh ke arah Bisma.
‘Ternyata di balik semua sifatnya, ada sisi kelembutan darinya yang tidak menyukaiku. Aku tidak menyangka,’ batin Ara, yang memang harus menyelami lebih dalam sifat Bisma yang sebenarnya.
Bisma bangkit dari tempatnya, memandang datar ke arah Ara, “Udah ah, gue keluar dulu,” gumamnya, yang langsung berlalu dari hadapan Ara, tanpa berpamitan sama sekali padanya.
Ara kesal, tetapi hanya bisa memanyunkan bibirnya saja, melihat kelakuan kakak biologisnya itu.
***
Jam makan siang tiba. Ara dipanggil untuk makan siang bersama sebagai anggota keluarga baru di sini.
Dengan langkah yang gontai, Ara menghampiri Bisma yang sudah sedari tadi menunggunya di meja makan.
Mereka sudah berhadapan satu sama lain, dengan Ara yang sama sekali tidak berani duduk di kursi tersebut.
Bisma terusik dengan kehadiran Ara, kemudian memandang ke arah Ara dengan bingung.
“Sampai kapan mau berdiri kayak patung?” tanya Bisma, yang kemudian melanjutkan mengunyah makanannya.
Tubuh Ara terasa kaku saat Bisma mengatakan hal itu. Ara hanya bisa mengangguk, lalu menuju kursi yang berada di seberang tempat Bisma.
Bisma mendelik kaget melihat Ara yang melangkah ke arah sana, “Eeehhh jauh banget ....”
Ara menghentikan langkahnya, lalu memandang ragu ke arahnya sambil tetap memegang ujung bajunya. Saat ini, Ara benar-benar ketakutan.
“Sini,” suruh Bisma, sembari menepuk-nepuk kursi yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Ara menghela napasnya panjang, dan berusaha untuk melontarkan senyum paksa ke arahnya.