
Sepertinya Bisma melupakan akan hal itu. Jika Fla bisa menghasut teman sekelasnya untuk membenci Ara, bukan hal yang tidak mungkin jika ia juga akan menghasut Adele untuk membenci Ara juga. Apalagi mereka adalah teman satu circle, yang mempermudah mereka berkomunikasi dan mencurahkan isi hati mereka.
Bisma tidak ingin semuanya terjadi. Selama ini mungkin Adele sudah mengetahui tentang Ara, dan itu semua mungkin karena Fla atau Gladis mengatakannya padanya. Salah Bisma juga, karena sejak awal tidak memberitahu mereka, kalau Ara adalah adik tirinya.
Jika ia memberitahu mereka sejak awal, kejadiannya mungkin tidak akan pernah seperti ini.
Bisma meremas rambutnya cukup keras. “Argh ... mereka pasti udah kasih tahu Adele sejak awal kedatangan Ara ke sini. Bukan hal yang tidak mungkin kalau Adele mengetahuinya. Kita juga gak pernah tau, mereka tuker kabar terus atau enggak, saat Adele di Amerika,” ujarnya, yang merasa sangat kesal dengan keadaan.
Morgan menghela napasnya. Sebagai kekasih Ara saat ini, Morgan tentu tidak ingin melihat Ara mendapatkan perlakuan buruk lagi dari teman sekelasnya. Apalagi ia berbeda kelas dengan Ara, sehingga membuatnya terbatas untuk membela Ara dari bully-an mereka.
Namun, Morgan merasa sedikit tenang, karena Ara satu kelas dengan Reza. Sedikit banyaknya, Reza bisa membantu Ara untuk menghadapi teman sekelasnya yang akan mem-bully dirinya. Makanya, Morgan tidak ingin membuat Reza tersinggung sejak kemarin, karena dia masih menaruh harapan besar pada Reza, untuk membantunya menjaga Ara ketika ia tidak berada di samping Ara.
“Gue gak mau tau, intinya lo ‘kan deket sama Adele dan juga Gladis. Gimana caranya lo harus tekan mereka biar Fla gak bikin onar di kelas, dan juga Adele gak mikir yang macam-macam kalau ngelihat Ara ada di rumah lo,” ujar Morgan, Bisma mendelik kesal mendengarnya.
“Gila, gak mungkin juga gue ngomong sama Adele! Dia udah gak pernah chat gue lagi!” sanggah Bisma, Morgan memandangnya dengan sinis.
“Terserah, intinya sebelum hal aneh terjadi, lo udah harus jelasin ke Gladis lah minimal, kalau lo gak bisa jelasin ke Adele,” ujar Morgan, membuat Bisma terasadar akan hal itu.
‘Ya, gue harus bilang ke Gladis masalah ini,’ batin Bisma, yang memang harus mengatakan hal yang sebenarnya pada mereka.
Morgan memandang sinis ke arah Bisma. “Satu lagi, jangan lo deketin Ara lagi. Gak cukup lo sama Gladis, hah?” ujarnya, sontak membuat Bisma tersadar dari lamunannya.
“Apa maksud lo, hah? Gue sama Gladis gak ada apa-apa!” bantah Bisma, Morgan menyunggingkan senyumannya di hadapan Bisma.
“Memangnya gue gak tahu, kabar kedekatan lo sama Gladis? Ke toko buku bareng, dia ngerawat lo saat berantem sama Reza, ciuman pula di kam—”
“Stop!” pangkas Bisma, Morgan hanya bisa tertawa kecil karena reaksi Bisma yang kelihatannya sangat kesal itu.
__ADS_1
“Kenapa? Hal itu bagus malah, karena gara-gara lo ciuman sama Gladis, gue jadi bisa pacaran sama Ara. Ya ... walaupun Ara kelihatannya masih belum sepenuhnya nerima gue sih,” ujar Morgan berterus terang pada Bisma.
Mendengar hal itu, Bisma merasa sangat kesal karenanya. Ia tidak bisa menerimanya, karena ternyata hal itu yang menyebabkan Morgan dan Ara menjalin hubungan saat ini.
‘Sial, gue harus berusaha jelasin hal ini ke Ara! Gue gak mau Ara sampai pacaran terus sama Morgan!’ batin Bisma kesal, karena memiliki tekad untuk mengatakan yang sebenarnya pada Ara mengenai hal ini.
Morgan bangkit di hadapan Bisma. “Sudahlah, gue mau balik dulu. Sampai jumpa besok di sekolah, calon kakak ipar,” selorohnya, sontak membuat Bisma tak terima mendengar hal ini.
Morgan meninggalkan Bisma di sana, sementara Bisma melepas sandal yang ia kenakan untuk kemudian melemparkan ke arah Morgan.
“Sialan lo!” pekik Bisma, dengan sandal yang sudah melayang ke arah Morgan, tetapi tidak sampai mengenai Morgan.
Morgan pergi dari hadapannya, dan kini tinggal Bisma sendiri di sana meratapi perasaannya pada para gadis itu. Kini bukan hanya Ara dan Gladis saja yang ia pikirkan, tetapi bertambah satu, yaitu Adele.
Setelah sempat hilang dari pikiran Bisma beberapa waktu lalu, Adele tiba-tiba muncul kembali di pikirannya karena Morgan yang mengatakan hal demikian padanya. Jika Morgan tidak mengatakan hal ini, mungkin Bisma tidak akan memikirkan Adele.
Karena sudah seperti ini, Bisma pun berpikir untuk mengajak Gladis dinner malam ini. Hal itu tak lain bertujuan untuk memberitahu Gladis yang sebenarnya, mengenai hubungan dirinya dan juga Ara. Ia tidak mau Fla sampai mengusik Ara lagi, karena hanya Gladis yang bisa menghentikan sikap Fla pada Ara.
“Ya udah, gue ajak dinner aja deh dia,” gumam Bisma, lalu segera merogoh handphone-nya yang ia simpan di saku jaketnya.
Bisma menghubungi Gladis, dan tak butuh waktu lama untuk sambungan telepon itu terhubung.
“Halo, Bisma.” Gladis menyapa dengan sangat bahagia.
“Halo, Dis. Gue ganggu lo, gak?” sapa Bisma juga dengan nada yang datar.
“Enggak kok, gak ganggu. Gue lagi free juga di kamar,” jawab Gladis, Bisma mengangguk kecil mendengarnya.
__ADS_1
“Oh ....”
“Ada apa, Bis? Tumben banget nelepon? Biasanya chat juga gak dibales. Apa ... lo kange—”
“Ada waktu gak nanti malam?” tanya Bisma, menyanggah ucapan Gladis.
Gladis mendengarnya dengan sangat senang. “Ada! Ada banget! Lo mau ngajak gue ke mana?” tanyanya, dengan perasaan yang sangat senang dan bahagia.
“Dinner,” jawab Bisma seadanya, membuat Gladis sangat bersemangat mendengarnya.
“Gue bisa, kok! Jemput gue ya nanti!” ujarnya, Bisma mengangguk kecil mendengarnya.
“Ya, nanti gue jemput di rumah,” ujar Bisma, lalu segera memutuskan telepon mereka.
Setelah semuanya selesai, Bisma pun segera pulang menuju ke arah rumahnya untuk bersiap-siap melakukan dinner dengan Gladis.
***
Setelah siap melakukan persiapan, tepat pukul 7 malam Bisa tiba di rumah Gladis. Ia menjemput Gladis, dan mengajaknya menuju ke sebuah restoran yang cukup mewah bagi anak remaja seusia mereka.
Ya, bukan Bisma namanya kalau ia tidak bisa memberikan yang terbaik untuk gadis yang sedang berkencan dengannya. Walaupun hanya formalitas belaka, Bisma segan dan masih ingin memberikan dinner terbaik bagi gadis yang ia kencani.
Mereka pun tiba di restoran tersebut, lalu segera memesan makanan yang ingin mereka pesan. Sambil menunggu makanan tiba, Bisma pun berusaha untuk mencari celah untuk berbincang mengenai Adele dengannya.
Bisma memandangnya datar, “Gimana, tempat ini lumayan gak?” tanyanya, sekadar berbasa-basi dengan Gladis mengenai hal ini, untuk membuka pembicaraan.
“Gue suka tempat apa pun, asal itu sama lo.”
__ADS_1