Kakak Biologis Love Story

Kakak Biologis Love Story
Bertanggung Jawab


__ADS_3

Bisma menghela napasnya dengan panjang, “Sebelumnya saya mohon maaf Om, atas semua yang sudah terjadi dengan Adele. Ini semua bukan karena pemaksaan dari saya, karena kita yang memang suka sama suka melakukannya. Jadi, saya ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan pada Adele,” ujar Bisma, yang berusaha bersikap tegas di hadapan Ayah dari Adele.


Mereka –keluarga Adele– berusaha untuk menerima maksud hati Bisma, karena memang sudah terjadi hal seperti yang tidak mereka inginkan ini. Beruntung Bisma ingin bertanggung jawab atas hal ini, sehingga mereka tidak ingin mempersulit mereka, karena perut Adele yang kian hari bertambah besar.


“Baiklah, kapan keluargamu datang ke sini untuk mendiskusikan hal ini?” tanya ayahnya.


Bisma menatap tegas ke arah calon mertuanya itu, “Saya pastikan akhir minggu ini, Om. Saya pasti akan secepatnya menikahi Adele,” jawab Bisma, membuat mereka terdiam mendengarnya.


Setelah kejadian itu, Bisma jadi tidak pernah kembali ke rumahnya. Hal itu membuat Ara merasa cemas, karena satu-satunya orang yang ia harapkan kembali, ternyata sudah lama tidak kembali.


Ara terdiam di balkon kamarnya, sembari memandangi mobil yang berlalu-lalang dari jalanan depan rumahnya. Ia berharap Bisma akan kembali, dan terus menunggu Bisma di sana.


“Bisma mana, ya? Udah 3 hari ini dia di Amerika. Apa dia gak mau masuk sekolah? Besok Ara masuk sekolah, siapa yang antar?” gumam Ara, merasa sangat kehilangan Bisma.


Hampa rasanya jika tidak ada Bisma di sisinya. Biasanya mereka berangkat bersama, tetapi semenjak Morgan menjadi pacarnya, ia tidak lagi berangkat ke sekolah bersama dengan Bisma.


Sekarang, Ara dan Morgan sudah tidak ada hubungan apa pun lagi. Satu-satunya orang yang ia miliki hanyalah Bisma, tetapi Bisma saja tidak memedulikannya.


“Gimana ini? Papa dan Bisma lagi gak ada di sini, gimana aku bisa hidup sendiri?” gumam Ara, merasa sangat resah sembari mengelus lembut kedua lengannya.


Dari arah jalanan, terlihat sebuah mobil yang masuk ke dalam pagar rumah Ara. Di sana, Ara menyadari bahwa itu adalah Morgan. Sejak ia masuk ke rumah sakit, Bisma sudah tidak pernah lagi memberikan perhatian padanya. Akhirnya, ia terpaksa harus kembali dekat dengan Morgan, karena hanya Morgan yang saat ini bisa menolongnya.


“Morgan ... aku masih punya Morgan. Tapi kenapa rasanya beda, dengan saat dekat sama Bisma?” gumam Ara, merasa sangat sendu ketika kembali mengingat Bisma.


Morgan keluar dari dalam mobil, sembari melambaikan tangannya ke arah Ara. Ara terdiam, lalu segera menemui Morgan di sana.


Setelah menuruni tangga, Ara hendak menuju ke arah luar rumahnya. Namun, langkahnya tertahan dengan Morgan yang sudah terlihat di ruangan tamunya.

__ADS_1


“Morgan, kamu kok datang ke sini?” tanya Ara, yang lalu mendelik seketika karena Morgan yang menarik tangan Ara dan memeluknya ke dalam pelukannya.


Sejenak mereka berpelukan dengan erat, membuat Ara merasa bingung dengan apa yang Morgan lakukan padanya.


“Morgan ... kamu ngapain?” tanya Ara, bingung dengan apa yang Morgan lakukan ini.


“Gue cuma kangen sama lo. Jadi gue ke sini dan peluk lo,” jawab Morgan, Ara tak bisa berkata-kata mendengarnya.


Memang ada kenyamanan saat Morgan memeluknya, tetapi rasanya tetap beda dibandingkan saat Bisma memeluknya.


‘Morgan, kenapa sih harus selalu ada di hati Ara? Ara dilema, karena Ara udah menetapkan akan mencitai Bisma. Kenapa keadaan menyudutkan Ara, agar bisa terus bareng sama Morgan?’ batin Ara, merasa bingung dengan keadaan yang ada.


Morgan pun melepaskan pelukannya dari Ara, dan memandang Ara dengan senyuman. “Ayo, kita ke taman!” ajaknya, Ara menggelengkan kepalanya kecil.


“Ara mau di sini aja, Morgan. Ara mau menunggu hari esok, kaerna Ara udah kangen sekolah lagi,” tolak Ara, Morgan memandangnya dengan tajam.


“Ra, lo masih dalam masa pemulihan. Lo harus banyak-banyak gerak, karena beberapa hari ‘kan lo terbaring di rumah sakit, dan gak melakukan apa pun,” ujar Morgan, memberitah pada Ara untuk melakukan hal ini sesekali.


“Ya, biar tambah semangat,” jawab Morgan, Ara berpikir sejenak mendengarnya.


‘Ya, daripada Ara gak semangat karena mikirin Bisma, Ara gak mau semua itu malah menghambat aktivitas. Ara cuma mau semua berjalan seperti sedia kala,’ batin Ara, merasa harus bangkit dari keterpurukan ini.


“Ya udah, Ara siap-siap dulu ya!” ujar Ara menyetujuinya.


“Okay.”


Setelah Ara bersiap-siap, Morgan membawanya ke taman dekat rumah Ara, karena memang ia tidak berani membawa Ara pergi jauh dari rumahnya. Keaadaan Ara yang masih lemah, membuatnya tidak bisa menuruti keinginannya itu.

__ADS_1


“Harusnya sih gue ajak lo ke pantai, tapi pantai agak jauh dari sini dan gak akan bisa dengan tubuh lo yang masih dalam masa pemulihan ini,” ujar Morgan, Ara tersenyum mendengarnya.


“Ara gak pernah ke pantai,” ujar Ara, Morgan tersenyum ketika mendengarnya.


“Nanti gue akan bawa lo ke pantai. Lo tunggu ya,” ujar Morgan, membuat Ara merasa malu mendengarnya.


“Ara gak butuh janji, Ara cuma mau bukti. Soalnya, Ara mau banget ke pantai buat lihat matahari terbenam,” ujar Ara, Morgan mengangguk kecil mendengarnya.


“Nanti kita akan sering-sering ke pantai, kok! Tenang aja. Sekarang, fokus dulu sekolah. Ini tinggal beberapa bulan lagi, sebelum ujian kelulusan. Setelah lulus, gue pasti ajak lo ke sana sepuas yang lo mau,” ujar Morgan, berjanji di hadapan Ara dengan hal yang Ara inginkan.


Ara tersenyum, ‘Ya, bersama Morgan tidak buruk juga. Dia sebenarnya orang yang romantis, tetapi rasa cemburunya terlalu parah dan tidak bisa dihilangkan,’ batinnya, yang merasa senang dengan Morgan.


Morgan mengulurkan tangannya, “Lewat sini,” ujarnya.


Ara meraih uluran tangan Morgan, dan melangkah ke arah yang Morgan tunjukkan.


Karena tubuhnya masih terlalu lemas, Ara terpaksa menarima uluran tangan Morgan. Karena kalau tidak, mungkin ia akan terjatuh karena kehilangan keseimbangan.


Mereka duduk di kursi taman yang ada. Kursi ini yang dipakai Morgan dan Bisma kemarin, saat menceritakan tentang Morgan yang melihat Reza bersama dengan Adele.


Morgan tersenyum ke arah Ara, “Mau minum, gak?” tanyanya, Ara mengangguk kecil mendengar tawaran dari Morgan.


“Iya, Ara haus,” ujar Ara.


“Oke, lo tunggu di sini ya. Gue coba cari minum buat lo,” ucap Morgan, membuat Ara mengangguk kecil mendengarnya.


Morgan pun melangkah untuk mencari penjual minuman yang ada di sekeliling taman ini, untuk membeli dua botol minuman untuk mereka. Dengan langkah yang cepat, Morgan berusaha agar Ara tidak terlalu lama menunggunya di sana.

__ADS_1


Setelah menemukan pedagang minuman, ia pun membelinya dan lekas kembali ke arah Ara berada. Namun, langkahnya terhenti karena melihat orang-orang yang ia kenal.


Matanya mendelik tak percaya, “Reza?” gumamnya.


__ADS_2